Pemuas Sang Cassanova

Pemuas Sang Cassanova
Bab 88. Menyelesaikan Permainan


__ADS_3

Setelah pembahasan mengenai Bella yang pernah keguguran. William menghabiskan waktunya di dalam kamar dengan satu bungkus lintingan nikotin, dia mengepulkan asap benda tersebut sesuka hati, berharap perasaan bersalah itu lekas hilang.


Meski janin itu tidak diharapkan, tetapi William merasa sangat menyesal, karena walau bagaimanapun dia adalah buah cintanya dengan Bella.


William sadar dia bersalah, dia sadar pernah menjadi pria brengseek dan menjadi sosok yang paling tega. Namun, kini dia hanya ingin mencoba menjalani kehidupan seperti manusia pada umumnya.


Entah sudah berapa batang yang ia habiskan, namun ia masih belum mau berhenti. Hingga ponselnya tiba-tiba berdering. Hari ini dia memiliki janji dengan Jo, bahwa dia akan datang ke markas menemui Dimitri. Namun, karena kabar ini dia sampai lupa pembicaraannya dengan sang asisten.


"Halo, Jo."


"Halo, Tuan, saya sudah ada di bawah, apakah saya perlu turun dari mobil untuk menjemput anda?" ujar Jo yang kini menepikan kendaraannya di sisi jalan. Sepulang dari perusahaan, dia langsung pergi menuju mansion keluarga Tan.


William langsung tergugah. Dia pun segera bangkit dan mengusak rokoknya ke dalam asbak. "Tunggu saja di sana, aku akan segera turun!"


Lantas setelah itu panggilan pun terputus secara sepihak. William memutuskan untuk pergi untuk menyelesaikan permainannya dengan Dimitri. Dan bersamaan dengan itu, Bella hendak mengetuk kamarnya. Gadis itu merasa khawatir karena sedari tadi sang pria terus mengurung diri.


Bella berjengit dengan tangan yang siap mengetuk. Sementara William tak memberikan reaksi apa pun, dia hanya sedikit mengangkat alis saat melihat Bella.


"Kakak mau ke mana?" tanya Bella dengan tampang penasaran. Jangan sampai pria ini melakukan hal-hal yang membahayakan, hingga merugikan diri sendiri.


"Aku akan pergi sebentar," jawab William tanpa menyebutkan tempat tujuannya.


Bella meraih tangan besar William, gurat sendu nampak jelas di dahi gadis itu. Dia telah kehilangan segalanya, jangan sampai William pun ikut pergi dari sisinya. "Aku tidak akan mengizinkan kalau Kakak tidak berjanji untuk pulang dalam keadaan baik-baik saja."

__ADS_1


William menangkap rasa cemas yang dirasakan Bella. Tangannya menangkup satu sisi wajah gadis itu, lalu mengangkat sudut bibirnya ke atas. "Aku tidak akan apa-apa, Honey. Aku janji, aku akan pulang dan memelukmu saat tidur nanti. Tapi jangan bilang-bilang Daddy dan Mommy, okey?"


Mendengar itu, Bella merasa cukup lega. Dia mengangguk sekilas, kemudian berjinjit dan memberanikan diri untuk mengecup pipi William.


Cup!


"Jangan lama-lama ya, Sayang," ucap Bella sambil menggigit bibir, yang akhirnya membuat William mengulas senyum. Pria itu memangkas jarak, lalu melumaat bibir Bella yang menggugah selera.


Jangan coba-coba memancing pria satu ini, karena kalau sudah bergerak, apa pun bisa dia terobos, termasuk pertahanan Bella. Namun, karena teringat ada Jo yang menunggunya di bawah, William pun melepaskan gadis itu.


Dia segera menuruni anak tangga, dan menemui Jo yang sudah siap untuk mengemudikan mobilnya menuju markas.


.


.


.


"Tuan, apakah anda sedang ada masalah?" tanya Jo akhirnya. Dia adalah orang yang paling setia di sisi William, hingga terhitung kebohongannya hanyalah tentang Freya. Maka dari itu, dia akan penasaran tentang apa pun yang menyangkut tuannya.


William melirik sekilas, ternyata dari mimik wajahnya saja Jo bisa membaca suasana hatinya.


"Aku adalah seseorang yang gagal menjadi ayah," ucap William yang membuat Jo langsung mengernyitkan dahinya. Tidak paham ke mana arah pembahasan William. Apakah Bella hamil? Lalu apa maksudnya dengan kata gagal?

__ADS_1


"Apakah hal tersebut berkaitan dengan Nona Bella?" tanya Jo dengan hati-hati.


"Ya, apakah kau tahu Jo kalau Bella keguguran?"


Deg!


Jo langsung terhenyak mendengar kabar itu. Kapan hal tersebut terjadi? Bahkan dia tidak pernah tahu kalau Bella berbadan dua. Apakah dia telah lengah dalam melakukan tugasnya?


"Dia sempat hamil anakku, Jo. Tapi dia mengalami keguguran setelah peristiwa itu, aku merasa bahwa dia pergi karena aku sempat tidak menginginkannya," sambung William dengan hati yang meringis. Sementara Jo pun mulai memahami perasaan William. Dia tahu kalau sang tuan sedang merasa menyesal.


"Tuan, dia pergi bukan dengan alasan itu. Mungkin karena dia sadar bahwa belum waktunya dia untuk hadir di tengah-tengah kalian. Ikhlaskan saja, Tuan, jangan buat diri anda tersiksa dengan pemikiran anda sendiri," balas Jo berusaha menenangkan hati William.


Akhirnya pria itu kembali bungkam, semua orang berkata seperti itu, termasuk Bella. Mungkin memang benar, bahwa dia harus menganggap semua kejadian ini sebagai bentuk pelajaran, supaya menjadi manusia yang lebih baik.


Tak lama dari itu akhirnya mereka sampai di markas. Semua anak buah langsung berjejer dengan rapih dan menundukkan kepala untuk menyambut sang tuan yang kembali menginjakkan kakinya di tempat ini.


Tidak ada yang mengeluarkan suara, kecuali gesekan sepatu pantofel dengan lantai yang berdentum, mengiringi langkah gagah William yang kembali melayangkan tatapan seram. Sementara Jo terus mengekor di belakang pria itu. Hingga mereka sama-sama berada di ruangan tempat di mana Dimitri ditahan.


Nampak pria paruh baya itu sedang meringis dengan kaki yang berdarah-darah. Karena di bawah sana banyak pecahan beling yang merobek kulit kakinya.


Namun, saat mendengar suara langkah kaki, Dimitri berusaha mengangkat kepalanya. Wajah lusuh dengan bekas luka di mana-mana itu menatap William dengan penuh dendam.


"Apakah hukumanmu masih kurang, hingga kau berani menatapku seperti itu?" tanya William seraya duduk di kursi yang sediakan oleh anak buahnya.

__ADS_1


"Cih, akhirnya pemimpin orang-orang brengseek ini datang!" maki Dimitri dengan rahang yang mengeras.


William tersenyum bengis, sama sekali tidak marah dengan makian itu. "Mari kita selesaikan permainan hari ini. Aku ingin dengar apalagi yang akan keluar dari mulut kotormu."


__ADS_2