Pemuas Sang Cassanova

Pemuas Sang Cassanova
Bab 45. Memiliki Hubungan


__ADS_3

Ervin langsung pergi dari perusahaan begitu mendengar putri semata wayangnya masuk rumah sakit. Perasaan cemas dan kalut langsung menyeruak ke dalam dada pria itu karena tak biasanya Deborah jatuh sakit seperti ini. Apalagi saat pagi tadi, sang anak masih tampak baik-baik saja.


"Apa yang terjadi padamu, De?" gumam Ervin yang kini duduk di kursi belakang. Kemudian menyuruh sang supir untuk menaikkan kecepatan, supaya mereka cepat sampai.


Saat tiba salah satu rumah sakit, tempat di mana Deborah dirawat. Ervin langsung menanyakan kamar putrinya itu, kemudian berjalan dengan langkah tak sabaran. Di setiap kakinya bergerak, dada pria itu terasa berdegub kencang.


Saat Ervin membuka pintu ruangan Deborah, dia langsung bisa melihat putrinya yang tengah terbaring lemah di atas brankar. Sementara di samping wanita itu ada dua dosen yang menemani. Melihat kedatangan Ervin, keduanya langsung bangkit dari sofa, kemudian menunduk sopan.


Ervin menghela nafas panjang. Meski sudah melihat Deborah nyatanya ia belum bisa bernafas dengan lega, karena belum mengetahui penyebab sang anak jatuh sakit.


"Apa kata dokter?" tanya Ervin sambil menatap wajah Deborah yang pucat. Satu ketakutan yang paling tidak ingin Ervin alami adalah kehilangan wanita satu ini. Yakni darah dagingnya.


"Dokter bilang, Miss De keracunan, Tuan. Jadi salah satu dosen sedang mengambil sisa makanan yang sempat dikonsumsi Miss De untuk bahan sampel penelitian di lab," jawab dosen perempuan yang sedari tadi menemani Deborah.


Ya, serangkaian pemeriksaan telah dijalani dan Deborah dinyatakan keracunan. Namun, entah berasal dari mana racun tersebut. Antara makanan dan minuman, perlu dilakukan uji coba ke dalam laboratorium terlebih dahulu.


"Apa? Keracunan?"


Mendengar jawaban itu Ervin langsung menganga. Tidak mungkin kalau Deborah asal pilih makanan, sebab wanita itu sangat memperhatikan kesehatan tubuhnya.


"Benar, Tuan, karena sebelumnya Miss sedang makan siang di ruangannya. Tapi tak lama dari itu, tiba-tiba dia menghubungi kami dan meminta tolong," jawab Dosen wanita itu lagi, sementara rekannya memilih diam. Karena tak biasa berhadapan dengan sang atasan.

__ADS_1


Ervin terdiam sesaat, kemudian menyuruh keduanya untuk keluar. Karena dia yang akan menjaga Deborah. "Kalau begitu kalian boleh keluar."


"Baik, Tuan, kami permisi," pamit keduanya dan langsung mendapat anggukan dari Ervin. Mata pria paruh baya itu senantiasa menatap wajah sang anak. Berharap Deborah secepatnya sadar.


Ervin menggerakkan tangannya untuk mengusap kepala Deborah dengan sayang. Sebagai anak satu-satunya, Deborah mendapatkan seluruh cinta ayahnya. Bahkan Deborah bagai harta yang paling berharga bagi Ervin. "Kenapa kau begitu ceroboh, De? Andai semuanya sudah terbukti, Daddy akan menuntut restoran tempat kamu memesan makanan! Jadi, cepatlah sadar, jangan buat Daddy takut." Ucap Ervin dengan sungguh-sungguh, kemudian beralih menggenggam tangan Deborah.


@@@


Setelah pulang dari markas, William tak langsung menjemput Bella. Dia membiarkan gadis itu memiliki waktu dengan ibu dan dua adiknya. Di sebuah restoran William mengajak Jo untuk bertemu sekalian makan siang, karena ia ingin membahas alat pelacak dan alat penyadap yang sudah dipasang di mobil Derry.


"Tuan, Nona De mengalami keracunan," ucap Jo melapor setelah mendapatkan informasi dari anak buahnya. Namun, reaksi William tak menunjukkan keterkejutan sedikit pun. Pria itu justru menyunggingkan senyum misterius yang membuat Jo mengerutkan dahinya.


Dan tentu saja jawabannya adalah iya. Karena dia yang meminta wanita tua itu untuk mengirim minuman yang sama pada Deborah. Berbekal kartu nama yang sempat Leo berikan padanya, ia membodohi Deborah. Sehingga wanita itu percaya.


"Lupakan, aku tidak ingin membahas tentang dia. Sama sekali tak menarik," ujar William yang membuat Jo semakin tak paham dengan pemikiran tuannya. Sebenarnya apa yang sedang William rencanakan? Apakah orang yang mencelakai Bella ada hubungannya dengan wanita itu?


Jo menghela nafas, kemudian mengotak-ngatik laptop yang ia bawa. Dari alat pelacak yang sudah dia pasang, ia berhasil mendapatkan satu titik pemberhentian Derry. Yakni sebuah gedung yang tak diketahui oleh banyak orang. Dan sepertinya mobil tersebut hanya ada di sana, tidak dipakai untuk dinas sehari-hari.


"Di sini markas mereka, saya sedang menyuruh salah satu anak buah untuk mengeceknya ke sana," jelas Jo dan William langsung manggut-manggut. Kerja bagus, batinnya.


"Lalu?"

__ADS_1


"Untuk alat penyadap. Saya belum mendapatkan informasi apa pun, Tuan. Karena tidak ada pembicaraan yang begitu serius di dalam mobil," jawab Jo lagi. Namun, sepertinya setelah ini William akan mendapatkan titik terang lagi, melalui Deborah.


@@@


Kabar mengenai kondisi Deborah saat ini sudah diketahui oleh banyak orang, termasuk Eliana, ibu William. Namun, ada yang lebih mencengangkan. Di markas, tempat Derry dan anak-anak buahnya bersembunyi. Pria itu sedang menghubungi tuannya.


"Ada apa?" Suara pria paruh baya di balik benda pipih milik Derry.


"Saya ingin memberitahu anda, Tuan, kalau Nona De baru saja keracunan," ucap Derry, yang membuat pria paruh baya itu langsung terhenyak.


"APA?" sentaknya tak percaya. "Bagaimana bisa? Apakah ini semua perbuatan pria itu?"


"Saya sedang menyelidikinya, Tuan," jawab Derry apa adanya.


"Aku tunggu secepatnya!" ketus pria paruh baya itu telihat marah, kemudian memutus telepon secara sepihak. Dia mulai khawatir, kalau William sudah tahu siapa dirinya.


Dia takut Deborah kenapa-napa, karena mengetahui bahwa ia memiliki hubungan dengan wanita itu.


@@@


Tebak-tebak buah manggis, yang bener dapet kecupp dari babang William πŸ˜‚πŸ˜‚

__ADS_1


__ADS_2