Pemuas Sang Cassanova

Pemuas Sang Cassanova
Bab 80. Pemakaman


__ADS_3

Setelah mendapat kabar bahwa William berhasil melewati masa kritis. Semua orang langsung mengucap syukur dan bernafas dengan lega. Kini mereka hanya perlu menunggu William sadar, dan pulih dari keadaannya yang nyaris di ambang kematian.


Caka keluar bersama tim dokter, kemudian ia kembali memeluk istrinya. Sementara Aneeq dan Lee pamit untuk pulang terlebih dahulu, karena dari kemarin mereka belum juga berganti pakaian. Namun, sebelum benar-benar pergi Aneeq lebih dulu menghampiri Bella yang tercenung, gadis itu terlihat seperti orang linglung.


"Bell, kembalilah ke kamarmu. Mari, biar aku antar," ucap Aneeq, membuat Bella langsung tersadar. Dia mengangkat kepala, dan lagi-lagi pria paruh baya ini yang selalu berusaha menenangkannya.


"Ayo, Kak, Kakak terlihat pucat," timpal Ellen seraya menarik tangan kakaknya.


Bella tahu bahwa sekarang dia tidak memiliki kesempatan apa pun untuk berada di sisi William. Karena sudah ada kedua orang tua pria itu, alhasil dia pun menuruti apa kata Aneeq. Dia melangkah meninggalkan semua orang dan masuk ke dalam ruang inapnya.


Sesaat ia berhenti di ambang pintu, melihat Eliana yang masih saja terisak di dalam dekapan Caka. Dia sadar, bahwa luka akan kehilangan seorang anak begitu besar, jadi dia memaklumi sikap wanita itu. Dia tidak boleh egois, karena Eliana jauh lebih berhak atas hidup William.


Bella melanjutkan langkah dan kembali berbaring di atas brankar. Dia mengembuskan nafas panjang, merasa lega karena William berhasil bertahan.


Aku tahu kamu tidak akan mungkin tega meninggalkan aku di sini sendirian. Kamu sudah berjanji untuk hidup bersamaku, jadi tepatilah janjimu. Batin Bella seraya mengulas senyum tipis, teringat dengan perkataan William sebelum akhirnya pria itu tak sadarkan diri.


"Bell," panggil Aneeq yang ternyata mengikuti Bella dan Ellen, hingga masuk ke ruangan ini. Dia ingin sedikit bicara dengan gadis itu, supaya tidak salah paham dengan perlakuan adiknya beberapa saat lalu.


"Iya, Tuan," jawab Bella, kini dia sudah mulai bisa mengendalikan perasaannya.


"Jangan panggil aku seperti itu. Aku adalah Paman William, jadi panggil saja aku Uncle, sama seperti William memanggilku," ujar Aneeq, agar Bella merasa diterima di keluarganya.


Sejenak gadis itu merasa tertegun, karena ternyata masih ada yang begitu peduli akan perasaannya. Akhirnya dia tersenyum sambil menganggukkan kepala. "Saya akan memanggil anda Uncle mulai saat ini."

__ADS_1


Bella melirik ke arah Ellen yang duduk di sisinya, gadis kecil itu juga terlihat bahagia. Karena sama-sama bisa selamat dari ibu jahat seperti Lena, dan bertemu dengan orang-orang baik seperti Aneeq.


"Oh iya, Bell, aku ingin meminta maaf atas nama Eliana. Ketahuilah dia hanya khawatir terhadap putranya, bukan benar-benar membencimu. Setelah William pulih, aku pastikan dia juga bisa menerimamu, jadi jangan bertindak gegabah ya," ujar Aneeq cepat-cepat menyampaikan maksudnya. Karena dia tidak memiliki waktu banyak, masih ada pekerjaan yang harus ia urus di perusahaan.


"Tidak apa-apa, Uncle, saya mengerti kok. Lagi pula semua ini memang salah saya. Tuan William tidak akan terluka kalau—"


"Jangan ikut menyalahkan dirimu juga. Tapi berusahalah untuk mengingat seberapa besar pengorbanan William, dia melakukannya karena mencintaimu. Jadi, dia pasti tahu resiko apa yang akan dia terima. Setelah ini berbahagialah dengannya, karena kamu adalah gadis pertama yang berhasil membuat William bertekuk lutut," tukas Aneeq, memotong ucapan Bella. Dia tidak mau mendengar tangis apalagi kalimat yang selalu menyalahkan diri sendiri. Sudah cukup, kini waktunya untuk saling menguatkan dan memberikan doa yang banyak untuk kesembuhan William.


Mata Bella sudah memerah, tetapi bibirnya senantiasa melengkung. Karena apa yang disampaikan Aneeq benar-benar membuat perasaannya jauh lebih tenang.


"Baik, Uncle, aku akan berdoa sekaligus menjaga Tuan William. Terima kasih atas semua kebaikan Uncle kepadaku dan Ellen," jawab Bella sambil membungkukkan sedikit badannya, sebagai tanda terima kasih yang besar.


Aneeq mengangguk sekilas, lalu pamit pada kedua gadis berbeda generasi itu. Bella dan Ellen sama-sama menyalimi tangan Aneeq, sebelum akhirnya pria paruh baya itu benar-benar pergi meninggalkan rumah sakit.


.


.


.


Semua keluarga Edison mengantar jasad Deborah dan Lena ke rumah peristirahatan terakhir. Tak ada yang paling terlihat menyedihkan selain Ervin, karena sepanjang proses pemakaman, pria paruh baya itu terus menangis.


Andai bisa ia ingin sekali membuat Deborah kembali hidup. Dengan cara apa pun, dan dengan biaya berapa pun, pasti akan ia keluarkan. Namun, takdir justru berkata lain, ruh anaknya tak bisa dikembalikan.

__ADS_1


Setelah upacara pemakaman itu selesai, orang-orang mulai berangsur pulang. Banyak dari mereka mengusap bahu Ervin, untuk memberi kekuatan.


Akan tetapi semuanya tak mampu membuat kesedihan di hati pria itu menghilang. Dia malah semakin tergugu dan ambruk di depan makam putrinya. "De, Sayang ... kenapa kamu pulang lebih dulu, Nak? Kenapa kamu tidak menunggu Daddy?"


Di belakang Ervin ada beberapa anak buah yang tidak membubarkan barisan sedikit pun. Sementara satu orang memayungi Ervin dari teriknya matahari pagi ini.


"Daddy sudah bilang, jangan pernah berhubungan lagi dengan Mommy-mu, tapi kenapa kamu tidak mendengarkan ucapan Daddy? Kenapa kamu harus mengikuti jejaknya?"


Ervin terus berbicara sendiri sambil menatap gundukan tanah yang diselimuti oleh kelopak bunga. Dia enggan untuk pulang, meski hampir satu jam dia menangis di sana.


Hingga tiba-tiba mata Ervin tak sengaja menangkap bayangan anak kecil yang duduk di sisi makam Lena. Karena terlalu fokus, dia sampai tidak memedulikan sekitar, karena sebenarnya Alland sudah duduk di sana sejak tadi.


"Mamah ... kenapa Mamah tinggalin Alland? Sekarang Alland harus pulang ke mana? Kak Bella dan Kak Ellen juga tidak ada, Alland sendirian, Mah," lirih pria kecil itu sambil menyeka ujung matanya yang basah, dari kemarin dia hanya memegang mobil-mobilan yang ia bawa, tanpa tahu kalau sang ibu sudah tiada.


Ervin terpaku saat mendengar panggilan Alland untuk Lena. Dia yakin pria kecil itu adalah anak dari mantan istrinya. Lena benar-benar ibu yang kejam, sampai bocah sekecil itu harus menerima akibat dari perbuatannya.


Hati kecil Ervin terketuk, sisi kemanusiaannya merasa tergerak. Hingga ia tak peduli Alland berasal dari mana. "Nak," panggilnya, hingga membuat Alland mendongak.


Ervin menggerakkan tangan supaya Alland mendekat. Lantas pria kecil itu bergegas, dia menghampiri Ervin yang terlihat sangat sedih. "Ada apa, Tuan?" tanya Alland dengan suara lirih.


Sambil berjongkok Ervin mengulurkan tangannya, mengajak bocah itu berkenalan. "Siapa namamu, Nak?"


Awalnya Alland merasa ragu, tetapi perlahan dia pun meraih tangan besar milik Ervin. "Aku Alland, Tuan."

__ADS_1


Mendengar itu, Ervin pun tersenyum tipis. Dia langsung menarik tubuh Alland untuk masuk ke dalam dekapannya. "Alland tidak perlu takut lagi. Alland punya Uncle di sini, jadi Alland tidak sendiri."


Tangis bocah itu langsung terdengar nyaring. Ketakutan yang semula membelenggu, perlahan hilang saat ia merasakan kehangatan pelukan Ervin.


__ADS_2