Pemuas Sang Cassanova

Pemuas Sang Cassanova
Bab 78. Kenapa Harus Putraku?


__ADS_3

Karena masih tak sadarkan diri William tak mampu merespon semua ucapan Bella. Hingga gadis itu memutuskan untuk duduk di samping pembaringan William. Bella terus memperhatikan wajah tampan prianya, kemudian memberanikan diri untuk mengelus rahang tegas itu.


Setiap tangannya bergerak, isak tangis Bella semakin terasa kencang, karena ia tak melihat tanda-tanda bahwa William akan bangun. Tak ingin menyerah, Bella meraih tangan besar William lalu menempelkannya di pipi.


"Kamu mau mengajakku bercanda ya? Atau aku memang harus mengancammu dulu, supaya kamu mau bangun?" tanya Bella, seolah William benar-benar mampu mendengar celotehannya. "Ya, sepertinya habis ini aku harus pergi untuk mencari pria lain, pria yang bisa aku ajak makan, berbelanja, dan bersenang-senang. Karena aku ingin melihat apa reaksimu."


Hening, hanya itu yang Bella dapatkan, hingga perasaan sesal, sedih, berkumpul menjadi satu. Kini selalu ada kata andai di otaknya, tetapi semuanya percuma, William sudah terluka karena kecerobohannya.


"Kenapa kamu tidak mau bangun juga? Kamu bilang setelah ini kita akan bersama," ujar Bella nyaris frustasi, selalu bicara sendiri meski tak ada balasan yang ia terima. Sementara bulir-bulir bening terus turun dengan lancang, seolah takkan pernah mengering.


Kini ruangan itu hanya diisi oleh isak tangis dan suara monitor jantung. Bella mengecup tangan William yang tak bertenaga, masih berusaha sabar menunggu pria itu membuka mata.


Dia percaya bahwa William akan tetap berdiri di sampingnya, memberikan cinta yang begitu besar meski dengan cara yang berbeda. William bukanlah tipe pria romantis, tetapi segala tindak tanduknya mampu membuat Bella tergila-gila padanya.


"Aku ada sedikit rahasia untukmu. Kalau sebenarnya, aku sudah jatuh cinta padamu lebih dulu. Sampai aku berharap, kalau kamu tidak akan pernah menemukan Tante Freya, supaya kita bisa selalu sama-sama, menghabiskan waktu yang panjang setiap hari, meskipun terkadang kamu cuek, kamu marah-marah tidak jelas, kamu menatapku dengan tajam. Tapi ... semua itu lebih baik, dari pada aku harus melihatmu yang seperti ini. Aku mencintaimu, Will. Aku akan kurang ajar, dan memanggilmu seperti itu meski kita tidak sedang bercinta, karena aku benar-benar mencintai kamu. Jadi ... jangan pergi lebih dulu, temani aku di sini ya. Aku butuh kamu," ujar Bella panjang lebar sambil tersedu-sedu. Dia menundukkan kepalanya, menunjukkan diri bahwa dia lemah tanpa William.


"Ayo bangun, Will. Jangan buat aku takut," lirih Bella seraya mengecup tangan besar William yang masih setia dia genggam.


.

__ADS_1


.


.


Eliana datang ke rumah sakit, di mana putranya dirawat setelah menerima telepon dari Caka. Begitu sampai langkah Eliana terasa semakin lebar, karena kecemasan di dalam dadanya begitu besar.


Belum apa-apa air mata Eliana sudah turun dengan deras. Hingga saat ia melihat suaminya yang masih memakai setelan kemarin, dia langsung mengamuk dengan mencengkram dada Caka. "Di mana putraku?!"


"Sayang, tenangkan dirimu dulu," jawab Caka seraya meraih kedua tangan istrinya yang terasa sangat kuat.


"Bagaimana bisa aku tenang? Dari semalam kamu membiarkan aku dalam kecemasan, sedikit pun kamu tidak berbagi kabar. Di mana putraku, Kak? Di mana dia?!" teriak Eliana sambil menangis histeris, tanpa memedulikan dia sedang ada di mana.


"Katakan, di mana putraku?! Dia pasti baik-baik saja 'kan?" Eliana masih saja menyerang suaminya, karena Caka hanya membisu dengan perasaan yang sama kacaunya.


"Eliana, tenangkan dirimu dulu! Ingatlah sekarang kita ada di mana!" Aneeq sedikit membentak adiknya, karena Eliana terus meronta-ronta dalam dekapannya.


Eliana tertegun dan tubuhnya terasa lemas, hingga ia hampir saja terjatuh andai Aneeq tak memegangnya. "Bagaimana nasibnya, Kak? Kenapa kalian menyembunyikannya dariku?" Tanya Eliana dengan suara lirih, bukannya menjawab Aneeq malah memeluk tubuh wanita itu.


Hingga tiba-tiba dokter dan tim-nya berdatangan. Membuat atensi semua orang teralihkan karena orang-orang berseragam putih itu masuk ke ruangan William.

__ADS_1


"Dok, ada apa?" tanya Caka kembali dengan raut cemas.


"Alarm di ruangan ini berbunyi, sepertinya ada sesuatu yang terjadi pada pasien," jawab sang dokter yang menangani William. Dan Bella adalah orang yang menekan alarm tersebut, karena tiba-tiba William tersengal-sengal dengan bunyi detak jantung yang semakin menurun.


Selama pemeriksaan, Bella terpaksa keluar. Dan tepat pada saat itu, dia bersitatap dengan netra milik Eliana. Dia tidak tahu siapa wanita itu, tetapi ia yakin semua orang-orang yang berdatangan masih memiliki ikatan keluarga dengan William.


Dan tanpa Bella sadari Eliana mendekat ke arahnya. Wanita itu terus menelisik pergerakan Bella, hingga kedua netra mereka kembali bersitatap dalam jarak yang sangat dekat.


Tanpa pikir panjang, Eliana langsung melayangkan tangannya ke udara, sehingga Bella langsung memalingkan wajah, tetapi Caka segera menahannya karena tahu apa yang akan dilakukan istrinya.


"El, stop!" cetus Caka, tetapi Eliana masih bersikukuh ingin menampar Bella, hingga matanya tak berpaling sedikit pun dari gadis ini.


"Apakah kamu yang membuat putraku jadi seperti ini?" tanya Eliana mencari objek atas ketidakberdayaannya, membuat hati Bella terasa hancur. Karena ternyata, wanita yang ada di hadapannya ini adalah ibu dari pria yang dicintainya.


Bella hanya bisa terisak-isak, karena tak mampu mengiyakan mau pun mengelak.


"Eliana, sudah cukup! Putra kita sedang sekarat, jangan malah menyalahkan orang lain!" ujar Caka yang membuat ekor mata Eliana melirik ke arahnya.


"Tapi kenapa harus William, kenapa harus putraku?!" balas Eliana dengan suara memekik. Dan mendengar itu, dada Bella ikut berdenyut nyeri, ini semua memang salahnya.

__ADS_1


Tanpa peduli Eliana akan meronta atau tidak, Caka langsung menarik sang istri hingga masuk dalam dekapannya. Di sana tangis Eliana kembali pecah, karena sama seperti yang lain, dia pun tidak bisa berbuat apa-apa.


__ADS_2