
Leo berjalan dengan langkah malas-malasan menuju unit apartemen William. Saat tersadar, dia langsung terkejut karena mendapati seorang wanita tengah berdiri di hadapannya. Dia adalah Deborah.
"Astaga!" ucap Leo dengan bahu yang berjengit, kemudian menatap Deborah dari atas sampai bawah. Dan ia langsung teringat dengan seorang wanita yang menjadi tunangan William.
"Kau, kau tunangan William 'kan? Kenapa kau ada di sini?" tanya Leo lebih dulu, membuat Deborah yang tengah menatapnya lekat langsung tersadar. Ternyata pria yang ada di hadapannya juga tak kalah tampan dengan William, ya satu fakta tersebut yang ada di kepala Deborah.
"Iya, aku Deborah, kamu pasti salah satu saudara William ya?" balas wanita itu sambil mengulurkan tangan untuk berkenalan dengan Leo. Leo menatap tangan langsing itu, secara fisik Deborah memang terlihat sempurna. Leo jadi khawatir William akan tergoda dan malah berpaling dari Bella.
Ya, bisa saja kan? Karena biasanya William menghabiskan malam dengan wanita seperti Deborah, yang memiliki lekuk tubuh mempesona.
"Leo." Mereka berjabat tangan sesaat, kemudian Leo segera menarik kembali tangannya. "Oh iya, untuk apa kau datang malam-malam? William tidak ada di sini."
"Tidak ada? Memangnya ke mana dia? Bukankah dia tinggal di sini?" tanya Deborah dengan mengangkat satu alisnya.
"Diaโ"
Leo hendak mengatakan kalau pria itu sedang berada di rumah sakit untuk menjaga Bella. Namun, dia langsung tersadar, karena wanita yang ada di hadapannya adalah tunangan sang sepupu. Mulut Leo yang sempat terbuka mendadak gagap seketika, membuat Deborah mengernyitkan dahi dan mendekati pria itu.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Deborah, sementara Leo langsung mundur. Tak tahan dengan dada Deborah yang tumpah ruah.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa, hanya saja William sedang banyak kerjaan di kantor," jawab Leo bohong. Namun, seperti tak mau menyerah, Deborah tak mau mendengar alasan apa pun yang keluar dari mulut pria itu.
"Kalau begitu aku akan menunggunya di dalam. Tidak apa-apa 'kan?" Deborah berjalan ke arah pintu, tetapi Leo dengan cepat menahannya.
"Eum maaf, tapi William tidak suka jika ada orang asing masuk ke dalam apartemennya," ujar Leo, yang membuatnya mendapat tatapan tak suka dari Deborah. Karena Leo seolah-olah mengusirnya secara tidak langsung.
"Orang asing apa maksudnya? Aku adalah tunangannya!" tegas Deborah tak mau kalah.
"Iya, Nona, aku tahu! Tapi sepertinya William tidak akan pulang malam ini. Dan aku khawatir terjadi sesuatu jika hanya ada kita berdua di dalam apartemen. Kau sadar betul, aku dan kau itu berbeda!" jelas Leo, sebagai pria normal tentunya dia tak mau mengambil resiko dengan berduaan dengan Deborah. Apalagi William belum memberi izin padanya, andai keputusannya salah, sudah tentu dia yang akan kena marah. "Sebaiknya kau pulang saja, dan temui William lain kali."
"Kamu tidak sedang membohongiku 'kan?" tanya Deborah dengan tatapan intens. Memperhatikan setiap gerak tubuh Leo, karena bisa saja Leo bekerja sama dengan William.
Deborah menatap Leo dengan tatapan yang sulit diartikan. Namun, akhirnya dia pun memilih untuk pergi, sebab tak ada harapan untuk menemui William malam ini.
Sebelum Deborah melangkahkan kakinya dia lebih dulu mengambil sesuatu dari dalam tas, kemudian menyerahkannya pada Leo. "Kalau William sudah pulang, tolong hubungi aku!" Ujarnya, melihat tatapan Leo yang sepertinya tertarik padanya.
Dan setelah itu Deborah langsung pergi dari sana. Sementara Leo hanya bisa memperhatikan tubuh semampai yang sedang berlenggak lenggok itu. Di sepanjang langkah Deborah terus berpikir apa yang sebenarnya sedang William lakukan.
"Apakah dia sedang bermain dengan para jalangg? Cih, kenapa juga dia tidak meminta semua itu padaku? Padahal aku bisa memberikannya!"
__ADS_1
***
Sementara di rumah sakit, William patuh pada perintah Bella saat gadis itu memintanya untuk naik ke atas brankar. Tempat itu cukup luas, jadi mampu menampung dua orang. Sebab William telah menyiapkan kamar VVIP dengan kelas terbaik di rumah sakit tersebut.
Saat William sudah berbaring, Bella begitu berani untuk memeluk tubuh pria itu, karena dia merasa senang meski tanpa bicara William mengabulkan keinginannya.
Dengan gerakan kaku William pun membalas pelukan Bella, bahkan semakin menarik tubuh mungil itu untuk masuk ke dalam dekapannya. "Kau menyukainya? Apakah kau tidak merasa sesak nafas?" William mengeluarkan sebuah pertanyaan yang membuat Bella mendongak.
"Aku suka, aku merasa lebih baik sekarang," jawab Bella dengan yakin, karena selain obat, nyatanya William mampu menjadi penawar baginya. Dia terlanjur memuja pria itu, tak peduli dengan awal pertemuan mereka.
William tak tahu harus berekspresi seperti apa saat Bella menatapnya seperti itu, hingga ia hanya mengusap kepala Bella dengan lembut sambil berkata. "Kalau kau sudah sembuh, aku akan mengizinkanmu menemui ibu dan adik-adikmu."
Mendengar itu tentunya Bella terhenyak, karena dengan tiba-tiba William memberi izin padanya untuk bertemu Lena, Ellen dan Alland. Perasaan senang membuat Bella semakin menunjukkan aksinya dengan mengecup bibir William lebih dulu. "Terima kasih, aku senang sekali karena akhirnya bisa bertemu dengan mereka."
Namun, senyum Bella tak bertahan lama, sebab ia malah melihat tatapan William yang nampak berbeda. "Tuan? Anda kenapa?" Tanya Bella seraya meneguk ludah. Benar-benar tak bisa diprediksi, suasana William dapat berubah-ubah dalam hitungan detik.
"Entahlah, rasanya malam ini aku benar-benar ingin menghabiskan nafas dalam mulutmu," ucap William sambil menatap lekat bibir ranum Bella. Tak butuh persetujuan, William langsung memangkas jarak, mengulumm lembut benda kenyal itu, hingga memainkan lidahnya di sana.
***
__ADS_1
Lu tuh apa sih, Bang, Uler, cacing, apa bunglon? Bisa berubah-ubah gitu๐๐๐