Pemuas Sang Cassanova

Pemuas Sang Cassanova
Bab 89. Si Raja Tega


__ADS_3

"Mari kita selesaikan permainan hari ini. Aku ingin dengar apalagi yang akan keluar dari mulut kotormu," ucap William dengan satu alis yang terangkat lengkap dengan senyum bengis.


Namun, seperti tak takut mati, Dimitri malah berdecih keras. Padahal tubuhnya sudah sangat lemah, darah pun kocar-kacir di lantai. Sejak kemarin para anak buah William sudah menyiksanya, tetapi Tuhan tak kunjung mengambil nyawa pria paruh baya itu.


"Baiklah, karena aku ada di sini. Maka aku akan menonton. Sepertinya akan sangat menarik kalau aku melihat kau merintih dan memohon ampun," ucap William dengan satu tangan yang menengadah, menerima cerutu yang lagi-lagi diambilkan oleh anak buahnya.


Bahkan William hanya tinggal menghisapnya saja, karena ada seseorang pula yang menyalakan korek untuk membakar benda tersebut.


Fyuh!


William menghembuskan asap dari mulutnya ke udara. Sementara Dimitri hanya bisa menatap itu semua dengan bibir yang mengatup rapat. Andai saat itu Deborah tidak menolong William, mungkin pria ini sudah mati sekarang.


"Aku sama sekali tidak takut dengan ancamanmu!" ucap Dimitri dengan penuh tekanan. Wajah lusuh dengan kumalnya tak ingin diberi belas kasih, hingga William pun akhirnya memanggil anak buahnya untuk melakukan sesuatu.


"Cambuk dia 100 kali, jangan berhenti sebelum aku yang memberi instruksi!" titah William dengan tatapan tajam. Mengisyaratkan bahwa dia tidak akan main-main dengan ucapannya.


Detik selanjutnya satu anak buahnya mengambil cambuk yang sudah tersedia. Dia mendekati Dimitri yang kala itu terlihat gelisah. Namun, pria itu masih saja tidak sudi jika harus memohon ampun pada William.


Crash!


Cambuk tersebut menyentuh lantai dengan nyaring, hingga membuat sekujur tubuh Dimitri merinding. Dia bisa pastikan bahwa ketika cambuk itu menyentuh punggungnya, maka akan menghasilkan rasa sakit yang luar biasa.


Dia mundur secara perlahan, tetapi setiap ia bergerak, terdengar sebuah ringisan, karena kakinya sangat sakit menyentuh beling-beling itu.


Namun, semua itu tak menghentikan langkah anak buah William. Dia kembali mengangkat tangannya, lalu dengan tega memecutkan cambuk tersebut ke tubuh Dimitri.


Crash!


"Argh!" Dimitri berteriak kencang, saat rasa panas dan sakit menjadi satu. Mulutnya menganga lengkap dengan kelopak mata yang terbelalak lebar. Namun, tidak hanya satu dua kali ia menerimanya, karena cambuk tersebut terus melayang hingga membuat punggungnya berubah memerah.


Bahkan baju yang dia kenakan pun sudah koyak, menunjukkan betapa hebatnya cambuk itu memecut tubuhnya.


Sementara William hanya duduk dengan tenang sambil terus menikmati lintingan tembakau. Hatinya seperti sudah mati ketika menghadapi seorang musuh, hingga dia mendapat julukan si Raja Tega.


Nafas Dimitri terengah-engah, sebenarnya dia sudah tidak kuat dengan siksaan ini. Akan tetapi dia tidak mau membuat William merasa menang karena sudah berhasil menyiksanya. "Ambil saja nyawaku sekarang!" lirih Dimitri dengan dahi yang berlipat-lipat, menahan setiap rasa sakit yang makin mendera.


Mendengar itu William terkekeh kecil, karena merasa lucu dengan tingkah Dimitri yang tak mau kalah. Padahal sejak awal, pria paruh baya ini bukanlah tandingannya. Dia mengangkat satu jarinya, memberi isyarat agar anak buahnya berhenti.

__ADS_1


"Cepat bunuh aku sekarang!" teriak Dimitri dengan suara yang hampir terputus.


"Mana bisa seperti itu, baru 20 cambukan yang kau terima. Dan asal kau tahu aku tidak akan membuat kematianmu menjadi mudah. Aku ingin melihat kau tersiksa terlebih dahulu, supaya putri kesayanganmu itu tahu apa balasan untuk orang-orang jahat!"


Mengingat tentang Emma, membuat hati Dimitri kembali terkoyak. Dada pria itu bergemuruh, sebab gara-gara William putri satu-satunya itu jadi membencinya.


"Keparattt kau!" maki Dimitri dengan sisa tenaga yang ada. "Jangan sekali-kali kau menyentuh dia. Kalau tidak—"


"Kalau tidak apa? Kau saja sudah seperti ini, bagaimana bisa kau melindungi putrimu itu?" potong William dengan wajah mengejek, hingga membuat Dimitri semakin naik pitam. Pria paruh baya itu merongrong, berharap bisa lepas dari rantai yang menjeratnya.


Namun, usahanya hanyalah sia-sia. Karena rantai itu malah semakin membuat pergelangan tangannya lecet. Sementara tangan yang lain pun tidak bisa digunakan.


"Jo!" panggil William seraya bangkit dari tempat duduknya.


"Ya, Tuan." Dengan sigap pria itu mengambil beberapa langkah supaya lebih dekat dengan William.


"Ambilkan aku benda seperti ini," titah William sambil memperlihatkan cerutunya yang terselip di antara jari telunjuk dan jari tengah.


Tanpa banyak tanya Jo langsung melakukan tugas dari William. Dia mengambilkan beberapa batang dan menyerahkannya pada pria itu. Setelah itu William melangkah ke arah Dimitri, hingga kini mereka saling berhadapan.


"Ayo hina aku lagi, sebelum aku menyumpal mulut busukmu!" titah William dengan tampang yang menyebalkan. Siapa saja yang melihat itu pasti langsung ingin menampar wajah William, setidaknya satu kali.


Seperti mendapat kesempatan bagus, Dimitri meludahi wajah William. Karena di matanya pria itu tidak pantas untuk dihormati. William sama seperti sampah yang harus diinjak dan dimusnahkan.


Namun, sekali lagi William malah tersenyum. Dia mengusap pipinya yang kotor, kemudian bersikap seolah tak terjadi apa-apa.


"Buka mulutmu!" ucap William memberi titah dengan suara yang pelan, tetapi entah kenapa terasa tak bisa dibantah. Tatapannya pun berubah nyalang, seperti ingin menghabisi mangsa dalam satu kali lahap.


"Buka mulutmu sekarang!"


Dimitri bergeming, tak ingin mengikuti apa kata William. Bahkan dia sengaja mengeratkan gigi depannya. Namun, William selalu punya cara, dia memegang kedua pipi Dimitri dengan satu tangannya. Memaksa pria paruh baya itu agar membuka mulut.


Hmmpt!


Dimitri masih kukuh meski tangan William semakin memberikan tekanan. Karena tak kunjung berhasil, akhirnya William menginjak kaki Dimitri, hingga pria itu reflek membuka mulut karena berteriak.


Hap!

__ADS_1


3 cerutu masuk ke dalam mulutnya.


"Kalau kau membuang cerutu ini, maka siap-siap saja, kau akan kehilangan kakimu!"


Dimitri mendelikkan matanya, sementara William mulai menyalakan korek. Dia membakar tiga cerutu di mulut Dimitri sekaligus hingga membuat pria itu kesulitan untuk bernafas.


William kembali duduk dan menonton aksi Dimitri. Namun, tak berapa lama kemudian Dimitri membuang semua yang ada di mulutnya dan terbatuk-batuk. Dia sudah tidak kuat.


Rasanya seperti ingin mati, tetapi anehnya dia masih tetap hidup.


"Beraninya kau tidak mendengarkan ucapanku!" William berpura-pura marah, dia mengeluarkan pistol dan mengarahkannya pada Dimitri.


"Cepat bunuh aku, Sialan!" lirih Dimitri dengan terengah-engah.


DOR!


Satu peluru melesat, Dimitri sudah berharap kalau timah panas itu tepat mengenai dadanya. Namun, ia salah, karena William malah menembak satu kakinya. Pria paruh baya itu tertegun, penyiksaan ini benar-benar membuatnya muak.


"Sampai akhir ternyata kau tidak bisa menyesali perbuatanmu," ucap William, kemudian kembali menarik pelatuk.


DOR!


Kepala pria paruh baya itu langsung berubah berdengung. Hingga tidak ada suara yang bisa dia dengar dari telinga kanannya. Dia bergerak ke sana-kemari, dengan pandangan yang semakin tidak jelas.


DOR!


DOR!


DOR!


Karena sudah tak sabar untuk mengakhiri semuanya, akhirnya William menembaki tubuh Dimitri, hingga salah satu pelurunya tertancap tepat di dada. Kepala Dimitri menengadah, lalu memuntahkan darah segar.


"Kabarkan pada putrinya, bahwa ayahnya sudah pergi ke neraka!" ucap William seraya bangkit untuk meninggalkan markas.


.


.

__ADS_1


.


Udah bosen belum oey sama Bang William?🤭


__ADS_2