Pemuas Sang Cassanova

Pemuas Sang Cassanova
Bab 61. Dia Sudah Punya Suami


__ADS_3

Di luar kota.


"Bagaimana? Apakah setelah ini aku sudah bisa pulang?" tanya Zack pada Jo yang baru saja menyelesaikan panggilan dengan anak buahnya.


"Setelah pekerjaan selesai, anda bisa langsung pulang, Tuan," jawab Jo apa adanya. Karena mereka memang perlu menyelesaikan masalah perusahaan terlebih dahulu.


Zack langsung berdecak keras. Sebab sebelumnya William mengatakan bahwa dia tidak boleh ikut campur dalam urusan pria itu. Namun, apa ini? Dia malah dipaksa pergi ke luar kota dengan ancaman remeh. Yakni William akan memberitahu Fenita bahwa ia pernah dicium Bella.


Tak ingin membuat masalah dengan sang istri, apalagi mereka baru saja menikah. Akhirnya Zack pun menyetujuinya.


"Cih, berapa lama lagi? Awas saja kalau sampai berhari-hari, aku tidak mau tahu, aku akan pulang meski pekerjaan belum selesai!" cetus Zack dengan tampang frustasi, sebab dia harus menahan diri untuk tidak bertemu dengan istrinya. Padahal dia adalah pengantin baru yang masih menggebu-gebu dalam bercinta.


"Mungkin besok atau lusa, Tuan. Lagi pula kesepakatan kan ada pada anda dan Tuan William. Jadi, saya tidak akan ikut campur, kalau pun anda berniat pergi sekarang, saya tidak akan menahan," balas Jo yang semakin membuat mata Zack memicing tajam.


"Haish, kau dan Tuanmu yang gila itu sama saja!" ketus Zack dengan kekesalan yang berkali-kali lipat. Dia ingin keluar dari ruangan yang sudah memenjarakannya dengan setumpuk pekerjaan. Namun, Jo lebih dulu membuka pintu.


"Sayangnya orang yang anda anggap gila itu saudara anda sendiri, Tuan." Lagi-lagi Jo menimpali ucapan Zack sambil melewatinya begitu saja, membuat rahang Zack mengeras lengkap dengan gigi depan yang mengerat. Sesama berpangkat asisten, ternyata Jo lebih menyebalkan dari apa yang ia kira.


"Dasar Sialan!" umpat Zack sambil meninju udara.


.

__ADS_1


.


.


Sementara di bumi belahan lain.


"Astaga, kapan mereka memulainya?" ucap Leo dengan nada terkejut. Sebab saat kakinya melangkah masuk ke apartemen, ia sudah bisa mendengar desaahan Bella dan William membumbung di udara.


Dia kembali karena tak berhasil mencari anak buah William. Padahal ia ingin menanyakan perihal semalam, siapa tahu salah satu dari mereka ada yang tahu. Karena ia merasa yakin, bahwa semalam ia tidak masuk ke kamar, melainkan menerjang wanita yang entah siapa.


"Kepalaku rasanya ingin meledak! Apalagi mendengar suara mereka, sungguh ini namanya pencemaran udara!" gerutu Leo seraya melanjutkan langkah, tetapi suara bel justru mengurungkannya dan membuat dia berdecak keras. "Siapa lagi sih?" Dia memutar badan, kemudian membuka pintu. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Orang yang ia cari-cari sedari tadi ada di depan mata.


Wajah kesal Leo langsung berubah sumringah, dia menarik pria yang ada di hadapannya untuk keluar dari apartemen. Agar mereka fokus bicara berdua.


"Benar, Tuan. Saya datang karena mau mengembalikan ponsel anda yang tertinggal di dalam mobil," balasnya dengan sedikit terbata. Melihat tatapan Leo, dia jadi nampak waspada.


Leo melirik ke bawah, dan segera meraih benda pipih yang ada di tangan pria itu. Namun, rasanya semua itu tidak penting. Karena yang ia butuhkan adalah informasi semalam.


"Kalau begitu kau ingat apa yang terjadi padaku 'kan?" tanya Leo to the point.


Pria itu mengangguk, kemudian menceritakan semuanya. Sejak ia bertemu Leo sampai ia mengantar pria itu ke apartemen. Namun, cukup sampai di depan lift. Karena Leo tak ingin ia mengantar sampai kamar.

__ADS_1


"Lalu habis itu?" tanya Leo dengan kening yang mengernyit penasaran. Karena tak ada yang tahu persis apa yang sudah dia lakukan setelahnya.


"Saya juga tidak tahu, Tuan. Tapi saat saya dan rekan saya ingin memastikan anda benar-benar masuk ke kamar atau tidak. Ternyata anda tidak ada."


Leo langsung membulatkan kelopak matanya dengan sempurna. Dari sorot yang tergambar, Leo ingin pria ini melanjutkan ucapannya.


"Dan ternyata anda ada di unit sebelah. Wanita cantik yang tinggal di sana memberitahu kami, kalau anda menerobos masuk," sambung pria itu sambil menunjuk unit apartemen milik Alea. Dan hal tersebut sukses membuat mulut Leo menganga. Apakah yang dimaksud anak buah William adalah wanita yang baru saja bertemu dengannya.


Dia kembali berusaha mengingat semuanya. Hingga pahatan wajah Alea mulai mengisi otaknya, meski masih begitu samar.


Benarkah dia orangnya?


"Dia bilang apalagi? Dan bagaimana penampilanku saat itu? Apakah terlihat acak-acakan atau aku—" Leo menjeda ucapannya, sebab jika dia adalah Alea. Mengapa wanita itu hanya diam saja?


"Dia hanya berpikir bahwa anda mabuk, Tuan. Saat saya dan rekan saya masuk, anda terlihat tidur di sofa, bahkan sangat pulas. Sampai kami memindahkan pun, anda tetap tidak bangun."


"Bukan, maksudmu—aku masih pakai baju?"


Pria itu mengangguk, karena Leo memang berpakaian lengkap saat itu. Dan hal tersebut semakin membuat Leo frustasi, kenapa penjelasan dan apa yang ia rasakan berbeda. Dia sangat yakin kalau ia melakukannya, bahkan ada bukti cakaran di punggungnya. Kalau bukan cakaran seorang wanita, lalu siapa?


"Oh iya satu lagi, Tuan," ucap anak buah William, membuat Leo langsung memasang telinga. "Dia sudah memiliki suami. Semalam dia sedang menunggu suaminya pulang. Makanya suruh cepat-cepat memindahkan anda."

__ADS_1


Duar!


Seperti ada yang meledak di dalam tubuh Leo. Dia benar-benar terkejut dibuatnya.


__ADS_2