
Mengapa Caka dan Aneeq bisa datang? Mungkin satu pertanyaan itu terngiang-ngiang di otak kalian.
Dan katakanlah bahwa semua ini hanya firasat seorang ayah terhadap putranya. Setelah memberi hukuman pada William, dan melihat sang anak pergi dengan tergesa serta bertampang gelisah. Caka tidak bisa duduk dengan tenang, seolah ada yang membisikinya, bahwa akan terjadi sesuatu pada William, hingga akhirnya Caka menelpon Jo.
Karena sudah pasti pria itu tahu apa yang akan dilakukan oleh tuannya. Dan Caka tercengang begitu mendengar bahwa William ingin menyelematkan Bella serta Leo yang disekap oleh seseorang.
Sebuah alasan yang membuat William langsung meminta izin tanpa memberi penjelasan apa pun.
Tanpa banyak kata, Caka langsung meminta lokasi yang akan dituju oleh putranya. Dan dia tidak sendirian, dia membawa serta Aneeq yang saat itu baru saja tiba di rumah.
Dan di sinilah mereka sekarang. Caka melangkahkan kakinya lebar untuk membawa putranya yang sudah sekarat. Sedangkan Bella berusaha untuk berdiri, dia sesekali meringis karena sakit yang terus membelit perutnya, hingga tanpa terasa darah mengalir dari sela-sela kakinya.
Tubuh Bella benar-benar terasa lemah, dia hampir saja limbung, tetapi Aneeq segera menolongnya. Bella merasa terkejut, karena ia tidak mengenal siapa orang yang ada di hadapannya. Akan tetapi ia yakin, orang-orang ini masih berkaitan dengan William.
"Terima kasih, Tuan," ujar Bella dengan sopan, dia hendak melangkah untuk menyusul Caka, karena ia pun ingin mendampingi William yang sedang terluka parah. Namun, baru saja kakinya bergerak, ia kembali sempoyongan, hingga Aneeq langsung menangkapnya dengan sigap.
"Aku akan menggendongmu, kita ke rumah sakit sama-sama, karena kau juga perlu menjalani pemeriksaan," ujar Aneeq, lalu tanpa ba bi bu ia meraih tubuh mungil Bella. Dia merasa tak tega, karena kondisi gadis itu sama memperihatinkannya.
Bella tak memiliki kekuatan untuk menolak, karena detik selanjutnya kesadaran gadis itu terenggut. Bella pingsan karena mengalami pendarahan.
Sementara itu, Jo yang baru mendengar informasi bahwa Leo disekap di markas Derry, langsung menunjukkan wajah terperangah. Karena sebelumnya dia telah menaruh beberapa bom di sana. Andai dia terlambat sedikit saja, maka nyawa Leo adalah taruhannya.
"Kalian urus dia!" ucap Jo pada beberapa anak buahnya. Dia melemparkan tubuh Dimitri yang sudah tak sadarkan diri ke lantai. Kemudian melangkah lebar untuk sampai di lantai bawah.
Gerakan kaki Jo sangat cepat, hingga ia melewati Aneeq yang tengah menggendong Bella. Jo sama sekali tak memedulikan apa-apa, karena tujuannya hanya satu yakni menyelematkan Leo.
Melihat itu, Aneeq menarik sudut bibirnya, teringat akan masa muda di mana ia dan Caka kerap meringkus penjahat bersama-sama. Ya, mereka memiliki semangat yang begitu menggebu, hingga sudah terbiasa dengan luka dan senjata.
__ADS_1
Setibanya di lantai bawah, ada Zack dan Lee yang sedang membantu Caka untuk memasukkan tubuh William ke dalam mobil. Tanpa diduga Jo menarik tubuh Zack dengan keras, hingga pria itu hampir hilang keseimbangan.
"Jo, ada apa?!" sentak Zack sambil mengikuti pergerakan Jo yang masuk ke dalam mobil. Kini Jo sudah duduk di balik kemudi dan siap menyalakan mesin.
"Tuan Leo ada dalam bahaya, anda harus ikut saya sekarang!" jawab Jo dengan nafas terengah-engah. Mata Zack terbelalak sempurna, tanpa banyak kata dia ikut masuk ke dalam mobil. Dan kendaraan itu melesat begitu saja.
.
.
.
Jo kembali berkejaran dengan waktu, hingga ia mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. Dia tidak peduli lagi dengan lampu lalu lintas, karena hal tersebut hanya akan membuat waktunya terbuang lebih banyak.
Zack tak bisa berkomentar, karena dia pun sama khawatirnya. Yang ia lakukan sekarang hanyalah berpegangan dengan kuat, agar tubuhnya tidak terbentur sana-sini.
Bahkan karena saking buru-burunya, Jo sampai menabrak gerbang markas Derry hingga mobilnya menerobos masuk. Karena di pikirannya sekarang hanyalah membawa Leo pulang.
"Tuan Leo disekap di gudang, dan saya belum tahu itu di mana. Kita harus berpencar, anda ke sebelah kiri, dan saya ke sebelah kanan. Tapi, kalau dalam waktu 10 menit anda belum menemukannya juga. Anda harus cepat-cepat keluar!" ujar Jo memberi penjelasan, supaya Zack tidak menjadi korban.
"Kenapa seperti itu?" tanya Zack sebelum Jo melangkahkan kakinya.
"Di tempat ini ada bom, dan akan meledak dalam waktu kurang lebih lima belas menit. Jadi, kita harus segera menemukan Tuan Leo sebelum waktunya habis!" jawab Jo, yang membuat Zack tak bisa lagi untuk berdiam diri. Pria itu langsung melenggang ke arah kiri untuk memeriksa semua ruangan yang ada di gedung ini.
Begitu juga dengan Jo, dia mengeluarkan sisa tenaganya untuk mendobrak setiap pintu yang ia temui. Berharap Leo bisa segera ditemukan, entah dalam keadaan sadar atau tidak.
Jo melirik ke sana ke mari, gedung ini memiliki banyak sekat, jadi dia cukup bingung. Hingga akhirnya dia terus menyusuri lorong ke arah kanan.
__ADS_1
Brak!
Brak!
Suara itu terus mendominasi, tetapi baik Zack dan Jo belum juga menemukan keberadaan Leo. Sampai Jo melirik mesin waktu yang ia pegang, angka terus berkurang, dan hal tersebut membuatnya semakin frustasi.
"Shitt!" umpatnya tetapi dengan kaki yang terus melangkah.
Hingga tiba-tiba ia mendengar suara orang meminta tolong, tetapi nampak sangat samar. Jo mencoba untuk menajamkan fungsi telinganya, tetapi tidak ada suara yang ia dengar lagi. Dia kembali celingukan untuk mencari ruangan di sekitar sini.
"Tolong!" lirih Leo dengan tubuh yang juga terluka parah, akibat dipukuli oleh anak buah Derry. Bahkan di dalam ruangan itu, tangan dan kakinya diikat kuat. Sehingga ia tak bisa ke mana-mana.
"Tolong!"
Deg!
Akhirnya suara itu terdengar lagi, Jo langsung berlari hingga dia bertemu dengan Zack. Kini di depan mereka ada sebuah pintu, Jo sempat melihat waktu yang tersisa yakni hanya 5 menit. Tanpa ba bi bu keduanya langsung mendobrak pintu tersebut secara bersama-sama.
Hingga dalam satu kali dobrakan benda persegi panjang itu sudah berhasil terbuka. Keduanya membelalakkan mata begitu melihat Leo terkapar di lantai dalam posisi terikat.
"Tuan Zack, waktunya hanya tersisa 4 menit lagi!" ujar Jo, yang membuat pria itu langsung kalang kabut. Tanpa memedulikan ikatan di tubuh Leo, Zack langsung mengangkat tubuh sepupunya itu dan di letakan di bahu.
Mereka sama-sama berlari untuk mencari jalan keluar, karena waktu yang mereka miliki tidak banyak. Disela-sela langkah mereka, hanya ada suara nafas yang mendominasi.
"Tuan ke sini!" seru Jo, sambil mengarahkan Zack ke kanan. Sesekali dia melirik mesin waktu yang ada di tangannya. Hingga tersisa 1 menit, 20 detik.
Nafas Jo semakin menggebu-gebu, ketika dia melihat cahaya dari arah pintu keluar. Jo langsung mendorong tubuh Zack sekuat tenaga hingga mereka berguling di tanah.
__ADS_1
DUAR!
Tepat pada saat itu suara ledakan langsung memenuhi udara. Disusul reruntuhan gedung yang mulai ambruk ke tanah.