Pemuas Sang Cassanova

Pemuas Sang Cassanova
Bab 22. Kedatangan Deborah


__ADS_3

Rasanya sangat aneh mendapat perhatian dari Leo. Sebab Bella sudah terbiasa dengan kehadiran William. Gadis cantik itu terlihat kikuk, apalagi kini Leo terus menyuapinya.


"Biar aku saja, Kak," ucap Bella, tetapi Leo tetap tak mau dengar. Dia menggelengkan kepala dan terus mengulurkan sendok ke depan mulut Bella.


Saat Bella sedang mengunyah tiba-tiba tangan Leo menyentuh keningnya. Gadis itu terkejut dan hanya bisa membelalakkan mata.


"Demammu sudah turun, kamu minum vitamin saja hari ini, aku sudah menyiapkannya," ucap Leo dan Bella hanya bisa mengerjap beberapa kali. Andai yang ada di hadapannya saat ini adalah William, mungkin Bella sudah salah tingkah hingga mengeluarkan semburat merah di pipinya.


Setelah menghabiskan bubur dan satu mangkuk sup buatan Leo. Bella memutuskan untuk kembali ke kamarnya, dia membersihkan diri dengan air hangat kemudian memakai baju kasual.


Leo sudah melarang Bella untuk pergi kuliah. Namun, gadis cantik itu tetap keras kepala. Dia sudah merasa lebih baik, jadi memilih untuk tidak berdiam diri di apartemen.


"Ya sudah, biar aku yang mengantarmu!" ucap Leo akhirnya mengalah. Tak peduli pada larangan William, hari ini dia tetap mengantar Bella.


"Tapi—"


Belum sempat menolak, tangan gadis itu sudah ditarik keluar. Hingga akhirnya Bella hanya bisa pasrah. Bahkan kali ini Bella duduk di depan, yakni di samping Leo. Karena pria itu tak ingin terlihat seperti supir pribadi.


Sampai di kampus, Bella langsung pamit dan melambaikan tangan pada Leo. Dia sedikit mengulas senyum, sebagai tanda terima kasih karena Leo sudah sangat baik padanya.


Baru saja tiba di depan kelas, bahu Bella tiba-tiba ditepuk dari belakang. Bella menoleh dan mendapati temannya. "Bel, kamu disuruh menghadap ketua yayasan."


"Ketua yayasan?" ulang Bella, dan temannya langsung mengangguk.

__ADS_1


Bella mulai berpikir, apa tujuan ketua yayasan memanggil dirinya. Apakah ada sesuatu yang penting yang ingin dibicarakan. Tak ingin membuang waktu percuma, Bella pun akhirnya memutar langkah.


"Makasih ya," ucap Bella sambil meninggalkan kelas. Hingga kini ia benar-benar berhadapan dengan sang ketua yayasan. Dia menunduk sopan, dan memilih berdiri sebab wanita yang ada di depannya tidak mempersilahkan dia duduk.


"Bella Blossom," panggil Deborah, sang ketua yayasan di tempat Bella menimba ilmu. Entah kebetulan seperti apa, karena ternyata mereka dipertemukan.


"Ya, Miss," jawab Bella dengan sapaan akrab para mahasiswa terhadap Deborah.


Deborah menghela nafas panjang sambil mengecek beberapa berkas. "Kamu adalah anak beasiswa, Bel. Tapi kenapa akhir-akhir ini nilaimu turun. Ada apa? Kamu sedang ada masalah?"


Mendengar itu, Bella pun langsung menggigit bibir bawahnya kuat. Sebab ia pun merasa bahwa akhir-akhir ini otaknya tak bisa fokus. Banyak sekali yang berkecamuk di dalam sana.


"Maafkan saya, Miss. Saya memang sedang ada masalah keluarga," jawab Bella tanpa menyebutkan spesifikasi. Karena ia jelas sadar, bahwa pihak kampus tidak akan mungkin harus memakluminya.


"Tapi kamu juga tahu kan, bagaimana resiko jika nilaimu turun terus-menerus. Yang ada pihak kampus akan mencabut beasiswamu," jelas Deborah lagi sambil menatap Bella yang menunduk lesu.


"Baguslah, kalau begitu kamu boleh keluar!" ucap Deborah, dan Bella langsung menganggukkan kepala. Dia pamit, kemudian memutar tubuh untuk meninggalkan ruangan tersebut.


Namun, belum sempat melangkah, Deborah kembali memanggilnya. "Oh iya, Bel. Satu lagi, jangan sering begadang, kantung matamu terlihat hitam."


"Iya, Miss, terima kasih atas semua perhatiannya," balas Bella, kemudian benar-benar pergi, sebab Deborah tak lagi menahannya.


***

__ADS_1


Saat siang telah tiba, Deborah lantas masuk ke dalam mobil. Dia membawa kendaraan roda empat itu ke sebuah tempat, yakni perusahaan milik William. Hari ini rencananya dia akan mengajak pria itu untuk makan bersama.


Hingga saat Deborah tiba di salah satu cabang Tan Group. Wanita cantik itu langsung pergi ke meja resepsionis. Lekuk tubuh serta langkahnya yang anggun, membuat semua mata tertuju padanya.


"Ada yang bisa kami bantu, Nyonya?" tanya salah satu resepsionis dengan ramah.


Deborah menurunkan kaca matanya, kemudian berkata sambil mengulas senyum manis. "Aku ingin bertemu dengan Tuan William."


"Apakah anda sudah memiliki janji sebelumnya?"


"Oh tidak, aku adalah calon tunangannya, jadi bukankah semua itu tidak perlu?" ujar Deborah membuat wanita yang ada di hadapannya terkejut. Karena setahunya William tidak pernah memiliki seorang kekasih.


Sang resepsionis pun lantas menundukkan kepala dalam. "Maafkan saya, Nyonya. Saya tidak tahu kalau anda—"


"Tidak perlu berlebihan. Apakah sekarang aku boleh menemuinya?" potong Deborah.


"Ah iya, mari saya antar, Nyonya," ujar sang resepsionis. Kemudian membawa Deborah untuk naik ke atas ruangan William. Sepanjang langkah, wanita itu memperhatikan seisi gedung, tetapi ia tak memberikan komentar apa-apa.


Hingga akhirnya mereka telah tiba di depan ruangan William. Deborah langsung menyuruh resepsionis itu pergi, karena dia bisa sendiri.


Deborah mengetuk pintu, hingga membuat fokus William sedikit teralihkan. Namun, dia tetap bergeming di tempatnya.


Belum sempat memberikan ketukan kedua, benda persegi panjang itu sudah terbuka. Namun, wajah Jo yang menyambut Deborah.

__ADS_1


Jo terkejut melihat kedatangan wanita itu. Wanita yang semalam ia lihat bersmaa William.


"Sayang, kenapa tidak menyambutku?" tanya Deborah, membuat William mengangkat pandangannya. Tak disangka wanita satu ini malah menemuinya di perusahaan.


__ADS_2