Pemuas Sang Cassanova

Pemuas Sang Cassanova
Bab 29. Semua Ini Hanya Milikku


__ADS_3

Kaca mobil pecah berhamburan, sementara dua orang yang ada di dalam sana langsung mengalihkan pandangan. Mereka sama-sama terkejut dengan kedatangan William yang sangat tiba-tiba.


Tanpa membuang waktu William langsung membuka pintu mobil. Menyeret pria itu keluar dengan sekuat tenaga, lalu menghempaskannya ke tanah.


Wajah William benar-benar terlihat merah padam, karena dengan bola matanya sendiri dia melihat Bella yang hendak dilecehkan. Bahkan pakaian gadis itu sudah tak berbentuk.


"Keparattt! Beraninya kau menyentuh wanitaku?!" teriak William dengan sangat lantang. Melihat wajah Bella yang nampak ketakutan, membuat amarah dalam diri William berkobar seketika.


Dia kembali menarik kasar tubuh pria yang hendak melecehkan Bella, kemudian memberikan pukulan membabi buta. Namun, tak tinggal diam pria itu pun berbalik menyerang William.


Hingga mereka bertarung di antara gelapnya malam. Bella hanya bisa menyaksikan semua itu dengan mata yang terbelalak, sementara William memberikan tendangan hingga pria itu terhuyung mundur.


Netra mereka saling menatap tajam, kemudian William berlari dan kembali melayangkan tangannya. Akan tetapi pukulan William beberapa kali ditepis, dan dia mendapatkan serangan balik. Bahkan kini pria itu sudah memegang senjata tajam.


"Kau benar-benar pengacau!" cibir pria itu dengan wajah yang lumayan babak belur.


"Cih, asal kau tahu, aku tidak akan melepaskanmu, aku akan menyeretmu ke neraka!" cetus William, keringat seketika mengucur deras dari pelipis hingga membasahi rahangnya yang berbulu tipis, dengan seluruh kemampuan yang William punya, ia memberikan harga yang harus dibayar, karena berani menyentuh Bella.


Kyaaa!


Mereka kembali saling serang, hingga William mendapat sabetan pisau. Dia mengerang keras, karena lengannya robek. Melihat itu Bella semakin ketakutan, tetapi dia tak bisa berbuat apa-apa.


Sementara William tak menyerah, dia melompat dan langsung memberikan tendangan ke wajah pria itu hingga tersungkur. Dia tidak lagi memikirkan luka di tubuhnya, karena yang ada di pikirannya sekarang hanyalah Bella, Bella dan Bella.


Pria yang tersungkur itu hendak meraih kembali pisau miliknya, tetapi William dengan cepat menendang benda itu menjauh. Bahkan tak terlihat lagi. Kemudian setelah itu William memberikan pukulan dengan sikutnya, hingga membuat pria itu kembali terjatuh, William mengunci pergerakan dengan menodongkan sebuah pistol yang ada di tangannya.

__ADS_1


"Katakan siapa yang menyuruhmu?!" ujar William, sementara Bella dibuat terkejut oleh kedatangan Jo. Pria itu membantunya untuk keluar dari mobil, karena Jo tak ingin Bella melihat kebengisan tuannya.


"Nona, sebaiknya anda menunggu di mobil saya," ucap Jo, dia baru saja datang, sementara anak buah yang lain sudah meringkus penjahat lainnya.


"Tapi—"


"Jangan khawatirkan Tuan William, dia bisa mengurus dirinya sendiri," tukas Jo, dan Bella akhirnya menurut. Dia mengikuti langkah Jo dan masuk ke dalam mobil pria itu.


Sedangkan William semakin mengarahkan senjatanya ke kepala orang yang hendak melecehkan Bella. "Jawab atau kau akan kehilangan tangan yang sudah berani menyentuh wanitaku!" Sentak William dengan kilatan amarah.


"Cih, sekali pu aku mati, kau tidak akan pernah tahu siapa orang yang sudah menyuruhku!" jawab pria itu, membuat William semakin meradang. Tanpa basa-basi lagi, William langsung mendekat dan menginjak tangan pria itu menggunakan kakinya.


"ARGH!" teriaknya dengan begitu keras, tetapi William seolah tak memiliki belas kasih, karena dia malah semakin memberikan tekanan.


Sambil meringis pria itu menatap William. Sumpah demi apa pun, dia akan tetap memilih untuk tutup mulut, sebab mau bilang atau tidak, dia akan tetap mati. Terlebih jika ia membocorkan identitas orang yang membayarnya, tentu saja keluarga dia menjadi taruhannya.


"Aku sudah bilang, aku tidak akan mengatakannya bodoh!" ucapnya dengan suara terbata.


"KEPARATTT!!!"


Kemarahan William semakin berkobar hebat, dan otaknya tak bisa lagi untuk berpikir jernih. William kembali mengangkat kaki, kemudian menginjak tangan yang satunya.


"ARGH!" Pria itu semakin menjerit kesakitan, tetapi William tak peduli dia justru memilih untuk meninggalkan pria itu setelah tiga tembakan lepas dari pistolnya.


Dor!

__ADS_1


Dor!


Dor!


Timah panas menembus kepala pria itu, membuatnya langsung ambruk seketika. William adalah orang yang tidak memiliki rasa sabar, jadi dia langsung mengeksekusinya.


Setelah menyelesaikan masalah itu, William langsung berlari menemui Bella yang ada di dalam mobil Jo. Saat mata mereka baru bersitatap, William langsung menarik Bella dalam dekapan.


"Apa kau takut aku tidak akan datang?" tanya William, dan Bella langsung mengangguk sambil menangis.


"Tenanglah kau aman bersamaku. Jadi jangan pernah berpikir untuk lari dariku," ucap William lagi dengan perasaan yang sedikit lebih lega, tanpa sadar ia telah menawarkan diri agar Bella senantiasa bergantung padanya.


"Aku tidak tahu bagaimana nasibku kalau Anda tidak datang, Tuan," ucap Bella sambil menengadah. William menghapus air mata itu, kemudian memperhatikan baju Bella yang acak-acakan.


"Mana saja yang dia sentuh?" tanya William, dan Bella langsung paham, dia menunjuk beberapa bagian yang sempat disentuh oleh pria itu, termasuk bibirnya yang sempat diusap dengan ibu jari.


Tanpa Bella tahu William menggeram, kemudian William mencondongkan wajah untuk mengecup leher Bella, terus naik hingga ke bibir gadis itu. William melumaatnya dengan begitu lembut, karena tak ingin membuat luka Bella semakin menganga.


"Semua ini hanya milikku, tidak ada yang bisa menyentuhnya kecuali aku," ucap William dan dengan mudahnya Bella mengiyakan perkataan William.


Detik selanjutnya William membuka jas, kemudian memakaikannya di tubuh mungil Bella hingga terlihat kedodoran. Kemudian mengajak Bella untuk keluar, dan membawa gadis itu naik ke atas motor.


"Tuan, komplotan yang lain akan saya bawa untuk interogasi," ucap Jo sebelum William pergi membawa Bella. Dan William segera menganggukkan kepalanya.


Sebelum benar-benar membawa kendaraan itu melandas. William menarik kedua tangan Bella agar memeluk tubuhnya. Dan di balik punggung kekar itu, Bella tersenyum kecil, dia pun berinisiatif sendiri untuk memeluk William dengan erat.

__ADS_1


__ADS_2