
"TIDAK!!!" teriak Lena dengan air mata yang sudah pecah, melihat putrinya terkulai lemah dan bersimbah darah.
Lena langsung melemparkan pisaunya ke sembarang arah, dia berlari kencang untuk menyelamatkan Deborah sebelum semuanya terlambat. Lena berusaha mengangkat tubuh Deborah, tetapi sang anak sudah terlihat lemah.
Lena kembali menangis. Tidak, dia tidak akan mengizinkan Deborah pergi secepat ini, Lena berusaha untuk meminta bantuan pada Dimitri, tetapi pria paruh baya itu justru masih bergeming. Nyaris tak bisa berkata-kata, karena rencana mereka malah berantakan.
"Cepat bantu aku!" teriak Lena memekik, hingga urat-urat di sekitar lehernya menonjol. Sementara Deborah yang berada di pangkuannya sudah sekarat dan nyaris tak sadarkan.
"Kamu urus Deborah sendiri dulu, Len, aku akan mengurus yang lain," balas Dimitri karena dia memiliki rencana untuk kembali menyerang William. Ya, pria itu juga sudah terlihat lemah. Dia yakin akan mudah untuk menghabisi William sendirian. Namun, jawaban itu justru membuat Lena marah, dia mengeratkan gigi depannya, karena Dimitri malah fokus pada yang lain.
"Bedebah!" maki Lena, lalu kembali fokus pada Deborah yang mulai tak sadarkan diri.
Dimitri mengangkat senjatanya dan mengarahkan pada William yang sedang merangkak menuju Bella. Pria itu tertatih-tatih sambil memegangi perutnya yang terus mengeluarkan darah. Dia berusaha keras untuk bisa menyelematkan wanitanya.
"Honey," lirih William dengan suara yang terdengar sangat lemah. Karena sekujur tubuhnya terasa begitu sakit.
Sementara gadis itu hanya bisa tergugu di tempatnya menyaksikan pria yang dicintainya terluka parah. Andai bisa mengulang waktu, dia akan memilih untuk tetap berada di apartemen dan menunggu penjelasan William. Namun, semuanya sudah terlanjur basah, dan sekarang Bella hanya bisa menyesali perbuatannya.
"Tuan," balas Bella dengan suara yang terdengar sumbang, karena dia sudah terlalu banyak menangis. Apalagi melihat kondisi William, pria yang biasa berdiri dengan gagah, kini terlihat sangat memprihatikan.
__ADS_1
Tersisa beberapa langkah lagi William sampai di tempat Bella duduk, tiba-tiba suara tembakan kembali terdengar nyaring, disusul teriakan Dimitri yang mengerang akibat timah panas yang bersarang di lengannya.
Senjata di tangan Dimitri terjatuh, dan detik selanjutnya tubuh pria paruh baya itu terpental akibat tendangan yang Jo berikan. Sementara di sisi lain, ada Caka yang langsung berlari ke arah putranya.
Namun, di tengah langkah kakinya dia melihat Aneeq datang. Dia segera melemparkan pedang yang ada di tangannya. "An!"
Aneeq langsung menerima kode itu dengan baik, dia menangkap pedang yang diberikan Caka dan berlari ke arah Lena yang masih berusaha untuk mengangkat tubuh Deborah. Namun, belum juga berhasil, sebuah pedang panjang sudah mengarah tepat pada wajahnya.
"Katakan, di mana kalian menyembunyikan Leo, atau pedang ini akan menebas lehermu!" ucap Aneeq, karena dia mendengar informasi dari Jo, kalau Leo belum juga ditemukan. Pria itu disekap dengan cara terpisah. Dan Aneeq yakin, kalau tidak segera ditemukan, maka nyawa Leo juga dalam bahaya.
Mendengar itu, Lena langsung mengangkat wajahnya yang sudah basah oleh air mata. Dia berdecih, mana mungkin dia bersedia memberitahu musuhnya. "Tidak akan! Kalian tidak akan menemukan pria itu, karena dia juga akan mati!" Tegas Lena, masih saja keras kepala, padahal putrinya sudah diambang kematian.
"Aku bukan orang yang memiliki toleransi. Katakan jika kau ingin selamat!" ujar Aneeq, masih berusaha untuk tetap tenang, padahal dalam hati dia sudah ingin menghabisi Lena, karena sudah berani bermain-main dengan anggota keluarganya.
Lena terdiam sesaat, sepertinya ia harus memanfaatkan kesempatan ini dengan baik. Supaya Deborah bisa tertolong. "Aku akan memberitahumu, tapi tolong putriku dulu!" Ujar Lena memberi penawaran, tetapi Aneeq bukanlah orang yang bodoh dan bisa ditipu dengan mudah.
"Kita sama-sama melindungi nyawa seseorang, jadi katakan dulu di mana dia sekarang, baru aku akan membantumu," balas Aneeq, membuat Lena kembali terdiam. Wanita itu terlihat gelisah, karena waktu yang ia miliki tidak banyak.
Dia melirik ke bawah, di mana tubuh Deborah terkulai dan sudah pucat pasi. Akhirnya Lena mengangguk setuju, dia mengatakan bahwa Leo ada di markas Derry. Pria itu disembunyikan di gudang.
__ADS_1
Mendengar itu, Aneeq menarik sudut bibirnya ke atas. Namun, bukannya menolong Lena, pria itu justru melangkah ke arah Jo yang sudah berhasil meringkus Dimitri. Melihat itu Lena pun langsung membuka mulutnya untuk memprotes, tetapi belum sempat ia mengeluarkan suara, pedang panjang terlempar ke arahnya dan tertancap tepat di dadanya.
Jleb!
"Kau—" ujar Lena terbata sambil merasakan sakit yang luar biasa.
"Aku berubah pikiran, aku tidak mau menolong orang jahat!" kata Aneeq sambil menunjukkan seringai. Sementara Lena merasakan pedang itu menembus hingga ke punggungnya. Detik selanjutnya mulut Lena mengeluarkan darah segar dan tubuhnya ambruk di atas tubuh Deborah. Dia mati di tempat.
Di samping itu, Bella yang sudah terlepas dari ikatan langsung memeluk tubuh William dengan erat. Dia menangis kencang, hingga dadanya senantiasa naik turun.
"Tuan, kenapa anda melakukan ini semua?" tanya Bella sambil sesenggukan. Dia tidak perduli lagi dengan rasa sakit di tubuhnya, karena ia benar-benar mencemaskan William.
Namun, anehnya William malah tersenyum saat mendapat pertanyaan seperti itu. Dia melerai pelukan Bella dan menangkup satu sisi wajah gadis itu. Dia mulai merabaa dengan sentuhan lembut. "Jangan menangis, Honey. Karena setelah ini kita akan bersama. Aku melakukannya untukmu, aku akan melindungimu dengan segenap nyawaku, jadi tetaplah berada di sisiku sampai mati." Balas William yang membuat Bella semakin tersedu-sedu.
Detik selanjutnya nafas William sudah terengah-engah. Caka tak bisa diam lagi, dia segera meraih tubuh putranya untuk dia gendong. Tanpa terasa air matanya ikut turun. "Aku harus segera membawanya ke rumah sakit."
Tanpa menunggu jawaban Bella, Caka langsung melangkah lebar, sementara kondisi William semakin memprihatinkan. Pria itu nyaris tak sadarkan diri karena sudah kehilangan banyak darah.
"Sekali pun kau tidak sepenuhnya salah, aku tidak akan menyesal telah menghajarmu. Karena kau adalah pria yang kuat. Kau tidak lemah! Kau harus bertahan, Nak!" ucap Caka di sela-sela langkahnya sambil menangis.
__ADS_1