
Bella tidak menyadari bahwa dirinya sudah berbadan dua. Karena berpikir bahwa pil kontrasepsi yang selama ini ia minum, dapat mencegahnya. Namun, ternyata semua itu tak bisa diandalkan seratus persen, sebab ia malah dinyatakan keguguran, meski entah kapan tepatnya ia telah mengandung anak William.
Lampu di ruangan operasi masih terus menyala, dan setiap detik yang Caka lewati diisi dengan ketegangan. Dia terus memanjatkan doa, supaya Tuhan masih memberikan umur panjang pada putranya.
Hingga tak berapa lama kemudian, tiba-tiba ada seorang perawat keluar. Sontak saja hal tersebut membuat Caka langsung bangkit dari kursi dan menghampiri perawat itu.
"Sus, bagaimana keadaan putra saya? Kenapa operasinya belum selesai juga?" tanya Caka masih dengan raut wajah gelisah. Sebab sebelum operasi William dinyatakan berhasil, maka dia tidak akan pernah bisa tenang.
"Maaf, Tuan, kondisi pasien benar-benar kritis, karena dia kehilangan banyak darah, untuk itu kami butuh donor segera, karena stok di Bank darah tidak cukup," jawab sang perawat apa adanya, yang membuat Caka menelan ludahnya getir.
"Kalau begitu ambil darah saya, Sus, ambil sebanyak mungkin, karena golongan darah kami sama!" tukas Caka cepat seraya menyodorkan lengannya yang terus bergetar, dia tak ingin membuang waktu dan membuat William menunggu lebih lama. Karena kesakitan William adalah kesakitannya juga.
"Baik, Tuan, mari ikut saya," balas perawat itu seraya memimpin langkah, sementara Aneeq hanya bisa menepuk bahu Caka untuk memberikan semangat.
Setelah kepergian sang adik ipar, Aneeq melirik ke arah Lee yang terus terdiam. Sedari tadi pria itu hanya menunduk dan tak berani mengeluarkan sepatah kata pun. Aneeq menyentuh pundak putranya, hingga Lee mengangkat kepala dan memperlihatkan matanya yang memerah.
"Kamu kenapa, Lee?" tanya Aneeq sambil mengelus kepala putranya. Sama seperti Caka, dia pun pernah menghajar Lee habis-habisan. Saat pria itu melakukan kesalahan yang begitu fatal.
"Aku tidak tahu, Dad, tapi aku merasa bahwa tidak ada cinta yang paling besar kecuali cinta William terhadap wanitanya, dia berkorban begitu banyak. Aku tidak bisa membayangkan kalau sampai William benar-benar pergi," jawab Lee sambil terisak-isak. Dia menutup wajahnya dengan satu tangan dan membiarkan air matanya jatuh membasahi janggut. Karena ia begitu terharu dengan pengorbanan sang sepupu untuk menyelamatkan wanita yang dicintainya.
Mendengar itu, Aneeq tersenyum tipis. Dia merasa bersyukur karena rasa persaudaraan di antara cucu ayah dan ibunya terjalin dengan baik.
__ADS_1
"Kamu bisa ambil contoh itu, Lee. Lakukan apa pun untuk melindungi keluarga kecilmu, meski kamu harus bertaruh nyawa. Dan teruslah saling tolong menolong, karena kita tidak pernah tahu kapan musibah akan datang," balas Aneeq dengan mata yang ikut berkaca-kaca. Dia bukannya tak ingin menangis, tetapi ia hanya berusaha kuat untuk orang-orang di sekitarnya, terlebih Caka yang sedang menemui titik terendah dalam hidupnya.
Lee menganggukkan kepala, dan ia merasakan sebuah usapan di punggungnya.
"Kamu tunggu di sini sebentar ya, Daddy mau menemui gadis itu dulu. Daddy takut dia sudah sadar dan malah kebingungan," ujar Aneeq yang ikut memikirkan tentang Bella. Meski pun ia tidak tahu bagaimana awal mulanya, tetapi ia yakin Bella juga memiliki cinta yang besar untuk William.
"Iya, Dad," balas Lee seraya mengusap wajahnya.
Detik selanjutnya Aneeq pergi ke ruangan Bella. Untuk saat ini dia tidak akan menjelaskan yang sebenarnya pada gadis itu, karena ia tidak mau Bella bersedih akibat kehilangan bayinya. Apalagi ditambah keadaan William yang sedang kritis.
Saat Aneeq membuka pintu ruangan itu, ia melihat Bella terkulai di atas brankar. Tepat seperti dugaannya, Bella sudah mulai sadar. Namun, dia masih nampak sangat lemah.
"William masih di ruang operasi. Mungkin sebentar lagi selesai, jadi lebih baik kamu pikirkan keadaanmu. William pasti selamat," jawab Aneeq dengan kalimat penyemangat. Supaya Bella tidak bersedih.
Namun, tetap saja semua itu membuat genangan di sudut matanya menetes. Ingin rasanya ia menemani William yang sedang berjuang hidup, tetapi nyatanya ia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Dia adalah pria hebat. Dia pasti bisa melewati semuanya, dia pasti bisa!" ujar Bella sambil menggigit bibir bawahnya kuat. Sementara Aneeq hanya bisa menganggukkan kepala, supaya Bella bisa percaya pada ucapannya sendiri.
"Pasti! Karena William punya kamu. Kamu adalah sumber kekuatannya. Berdoalah untuknya," balas Aneeq yang membuat Bella tersenyum meski bulir-bulir bening terus membasahi pipinya.
.
__ADS_1
.
.
Jo dan Leo sama-sama dilarikan ke rumah sakit. Dan semuanya tak lepas dari perjuangan Zack, karena keduanya pingsan dan membuat Zack menjadi sedikit kerepotan. Namun, ternyata tak lama dari itu ada anak buah William yang menyusul, hingga Zack merasa cukup terbantu.
Sementara di sisi lain, kabar duka juga menyelimuti keluarga Edison. Karena tiba-tiba Ervin kedatangan tamu yang membawa jenazah putri serta mantan istrinya.
Ervin tertegun, dan pastinya shock berat setelah mendengar penjelasan salah seorang dari mereka. Karena putri yang selama bertahun-tahun dia jaga, harus meninggal dalam keadaan yang sangat mengenaskan.
Dengan tangan gemetar, Ervin membuka kain yang menutupi wajah Deborah. Dia masih berusaha menahan diri untuk tidak histeris, tetapi begitu wajah putrinya terlihat. Ervin langsung berteriak kencang dengan lelehan air mata.
"TIDAK! KAMU TIDAK BOLEH PERGI, NAK! KAMU TIDAK BOLEH PERGI!"
Ervin tergugu dan ambruk di samping jenazah Deborah. Dia terus menggelengkan kepalanya tak percaya, tetapi kenyataan menamparnya dengan begitu hebat. Dia harus menerima fakta bahwa kini putri semata wayangnya telah tiada.
"Kenapa kamu melakukan ini, De? Kenapa kamu meninggalkan Daddy?" lirih Ervin dengan perasaan hancur bertubi-tubi.
Sementara di sudut yang berbeda, ada Alland yang ternyata dititipkan di keluarga Edison. Pria kecil itu menatap Ervin yang sedang menangis, dia tidak tahu kalau ternyata ada jasad ibunya juga di sana.
"Mamah ke mana? Kenapa belum jemput Alland sampai sekarang?" gumam pria kecil itu sambil terus menyembunyikan diri.
__ADS_1