Pemuas Sang Cassanova

Pemuas Sang Cassanova
Bab 53. Jangan Ikut Campur!


__ADS_3

Rutinitas setiap pagi yang dijalani oleh William selama beberapa hari belakangan ini tak pernah berubah. Yakni mengecek CCTV apartemennya. Dan hari ini dia dibuat menganga, karena ternyata Zack sempat datang ke apartemennya dan bertemu Bella.


Dari interaksi keduanya, William bisa menebak bahwa Bella menganggap bahwa Zack adalah dirinya. Sementara sang kembaran hanya mengikuti apa yang dilakukan oleh gadis itu.


"Zack, ku harap kau tidak mengacaukan rencanaku!" gumam William setelah selesai melihat CCTV tersebut. Dia sedikit mengepalkan tangan, karena bisa-bisanya pria itu diam saja saat Bella menciumnya.


"Awas saja kalau kau menikmatinya!"


Dengan gemuruh di dadanya, William melenggang ke arah dapur, di mana ada Bella yang sedang memasak. Tanpa ba bi bu pria itu langsung menarik pinggang Bella dan melabuhkan ciuman di bibir gadis itu.


Bella terkejut bukan main, karena gerakan William sungguh tak terduga. Bahkan ia nyaris tak bisa mengimbangi lumaatan dan hisapan pria itu, William benar-benar membuat Bella kehabisan nafas.


"Tuan, anda ini kenapa?" tanya Bella saat ciuman itu terlepas, karena tak biasanya William sampai sebuas itu dalam menciumnya. Bella merasa kewalahan.


"Aku hanya ingin mengatakan kalau aku tidak akan sarapan pagi ini, aku akan langsung pergi ke kantor," jawab William dengan raut datar, setelah berhasil membuat darah di tubuh gadis itu mendidih.


"Apakah aku perlu membuat bekal?" tanya Bella dan William langsung menggelengkan kepala. Bella menghembuskan nafas kecewa, padahal dia suka sekali kalau William memakan masakannya.


Sebelum William pergi meninggalkan dapur, Bella teringat dengan satu pertanyaan yang berputar di otaknya sejak semalam, sehingga dia kembali menahan pria itu. "Tuan!" Panggil Bella, membuat langkah William berhenti seketika.


Pria itu hanya menoleh tanpa bicara. Sementara Bella mendekat ke arah pria itu, agar jarak mereka tidak terlalu jauh.


"Aku hanya ingin bertanya, kemarin aku lihat anda pergi dengan baju berwarna putih, tetapi setelah kembali kenapa bajunya berbeda?"


Bella mengutarakan rasa penasarannya. Apalagi setelah kembali, William dalam keadaan mabuk dan sempat bicara tentang sesuatu yang tidak Bella mengerti.

__ADS_1


William terdiam sesaat, ya, mungkin hanya satu klu tersebut yang membuat Bella merasa bingung. Selebihnya gadis itu pasti percaya bahwa Zack adalah dirinya.


"Aku sempat muntah, dan Jo yang menggantikan bajuku," jawab William yang membuat Bella langsung manggut-manggut. Ya, tentunya dia percaya begitu saja, karena dia tidak tahu kalau ternyata William memiliki kembaran.


"Ada lagi yang ingin kau tanyakan?" lanjut William karena melihat Bella yang bergeming.


"Ah tidak, itu saja, Tuan," jawab Bella yang langsung tersadar. Akhirnya dia membiarkan William bersiap-siap, karena pria itu harus segera pergi, bukan ke perusahaannya sendiri. Melainkan menemui Zack, untuk membicarakan tentang keberadaan Bella yang disembunyikan di apartemennya.


.


.


.


Setibanya di salah satu anak perusahaan Tan Group. William langsung masuk dan naik ke ruangan tertinggi, di mana ruangan Lee, sepupunya, berada.


William langsung melayangkan tatapan datarnya ke arah benda persegi panjang itu. Sementara Zack dan Lee dibuat terkejut. Karena tiba-tiba ruangan mereka memiliki seorang penghuni berwajah seram.


"Astaga, mengejutkan saja!" sentak Lee sambil memegangi dadanya. Kemudian ia berjalan ke arah meja kebesarannya.


Lain dengan Zack yang langsung menatap kembarannya. Dia tidak tahu apa tujuan William, tapi yang jelas pasti ada sangkut pautnya dengan gadis yang ada di apartemen pria itu.


"Aku ingin bicara berdua dengan Zack!" ujar William tanpa to the point, seraya bangkit dari duduknya.


Lee melirik sekilas. "Ya sudah sana, lagi pula kami belum mulai bekerja."

__ADS_1


"Aku bilang aku ingin bicara berdua!" timpal William tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun. Saat melihat Zack, dia benar-benar seperti melihat dirinya sendiri. Hanya saja, pembawaan mereka yang berbeda. Zack masih bisa bertutur kata lembut, lain dengan dirinya yang selalu membuat orang merasa terintimidasi.


"Ck, ini adalah ruanganku!" cetus Lee, tak ingin mengalah.


"Aku adalah tamu, dan tamu adalah raja. Kau mau keluar atau ku robohkan gedung ini?"


Ancaman langsung keluar dari mulut William, membuat Lee mengeratkan gigi depannya. Dia kembali bangkit, percuma saja melawan sang sepupu yang keras kepalanya sungguh di luar batas wajar.


"Robohkan saja kalau kau berani!" cetus Lee, tetapi langkahnya justru membuktikan bahwa dia takut William merealisasikan ucapannya.


Setelah Lee keluar, William langsung mendekat ke arah Zack. Dia tahu kini sang kembaran sedang bertanya-tanya siapa Bella, dan ada hubungan apa dengannya.


"Apa maksudmu?" tanya Zack untuk pertama kali, dia belum sempat membocorkan keberadaan Bella yang ada di apartemen William kepada keluarganya. Karena ia masih mencari tahu siapa gadis itu.


"Kau datang ke apartemenku kemarin?" William balik bertanya untuk sekedar memastikan.


"Hem ...," jawab Zack singkat, meski ia tidak tahu dari mana William tahu kalau dia sempat datang ke apartemennya. Apakah gadis itu mengadu?


"Dan kau bertemu dengannya?" tanya William sambil mencengkram kerah kemeja Zack, teringat saat Bella mencium pipi kembarannya, dan pria ini hanya diam saja.


Zack segera menepis tangan William hingga menyisakan kerah bajunya yang berantakan. "Aku tidak tahu siapa dia dan ada hubungan apa kau dengannya. Tapi kau tidak bisa seperti ini, Will!"


William mengembuskan nafas kasar, kemudian mengangkat kepalanya, menunjukkan tatapan serius. "Untuk kali ini saja. Jangan ikut campur!" Ucap William, karena terakhir kali ia bermasalah dengan sang ayah, Zack adalah orang yang mengadukannya. Memberitahu kepada Caka, bahwa ia kerap bermain dengan berbagai macam jenis wanita.


"Memangnya apa yang sedang kau rencanakan? Ingatlah, kau sudah bertunangan. Kau yang setuju untuk berkomitmen dengan Deborah. Jadi jangan sampai kau mengecewakan salah satunya, apalagi keluarga kita!" ujar Zack mengingatkan William. Karena sebagai saudara, ia tidak ingin William mendapatkan masalah.

__ADS_1


"Kau tenang saja, semuanya akan beres di tanganku. Kau hanya perlu tutup mulut!" balas William, seolah tak dapat mendengar nasihat yang diberikan oleh Zack. Kemudian ia mencondongkan wajah untuk berbisik di telinga pria itu. "Dan satu lagi, jangan sekali-kali kau berpura-pura menjadi aku di depannya!"


Setelah itu William langsung melangkah pergi meninggalkan perusahaan yang dikelola oleh Lee.


__ADS_2