
Saat masuk ke dalam kamar, William tak melihat keberadaan Bella. Dia mengedarkan pandangan, hingga akhirnya ia memutuskan untuk melangkah ke arah kamar mandi, saat itu membuka pintu Bella yang sedang buang air besar sontak saja membulatkan matanya dengan sempurna.
"Tuan?" lirihnya dengan tergagap. Sebab meski pun sudah sering menyatu, tentu saja ia tetap merasa malu ketika William melihat dirinya dalam keadaan seperti ini.
Lain dengan Bella yang seolah ingin menenggelamkan diri ke dasar bumi. William justru masuk ke dalam sana, dia mendekati Bella, lalu tanpa rasa jijik mencium bibir mungil gadis itu. Hingga kedua netra Bella semakin terbelalak.
"Aku harus pergi, kau jangan ke mana-mana ya," ujar William, karena tak ingin Deborah berlama-lama di dalam apartemennya.
Bella menelan ludahnya dengan kasar, karena tak menyangka kalau William akan secuek itu dengan keadaannya. Kalau begini ceritanya, Bella tidak mungkin bisa menahan gejolak di dadanya.
"Memangnya siapa yang datang?" tanya Bella sambil berusaha bersikap seperti biasanya. Dia menatap William yang sedang berdiri di bawah shower, hanya sekedar untuk membersihkan peluh yang masih menempel di tubuhnya.
"Tidak penting, makanya aku ingin dia segera pergi dari sini," jawab William menyakinkan, ingin Bella berhenti bertanya.
"Ya sudah, kalau begitu aku akan berada di apartemen seperti apa kata Tuan. Aku akan menunggu anda pulang," balas Bella, paham bahwa William tak ingin dicecar oleh pertanyaan-pertanyaan darinya. Lagi pula dia juga ingin William segera pergi dari hadapannya, dia malu!
Akhir-akhir ini bibir William jadi sering melengkung. Dia segera mengambil handuk, dan segera keluar untuk bersiap-siap. Sadar bahwa di luar sana ada Deborah.
.
.
Sampai William selesai mengenakan pakaian Bella tak kunjung keluar. Alhasil William langsung menemui Deborah yang saat itu masih setia duduk di sofa. Mendengar suara decitan pintu dan disusul aroma maskulin dari tubuh William, Deborah pun segera bangkit.
Dia tersenyum saat melihat penampilan William yang selalu tampan meski hanya mengenakan kaos dan juga celana jeans. Namun, sebelum mereka benar-benar pergi, Deborah ingin menanyakan sesuatu terlebih dahulu. Karena sedari tadi, apa yang ia temukan sungguh mengganggu pikirannya.
__ADS_1
"Will, sepatu milik siapa itu?" tanya Deborah sambil menunjuk ke arah rak, di mana ada sepatu Bella yang bertengger di sana.
William tampak acuh tak acuh, karena rasanya tidak penting sekali membahas hal-hal seperti ini. "Bukan milik siapa-siapa!" Jawabnya dengan wajah datar. Meski ia tahu Deborah sangat penasaran.
Deborah mengernyitkan dahinya, dia masih ingat kalau ada salah satu mahasiswanya yang memiliki sepatu sama persis. Dia adalah Bella. Namun, dia tidak bisa langsung menjudge, sebab bukan hanya Bella yang memilikinya.
William sudah berjalan ke arah pintu, tetapi lagi-lagi Deborah menghentikan langkahnya.
"Kalau benda ini?" tanya Deborah sambil mengangkat celaana dalaam Bella yang tertinggal. William menoleh, dan bisa menyaksikan langsung bagaimana kekesalan di wajah tunangannya.
"Kenapa? Kau bilang, kau sudah tahu aku siapa dan tidak akan mempermasalahkannya. Lalu untuk apa berlebihan seperti itu?" tanya William dengan kedua tangan yang masuk ke dalam saku celana. Dia benar-benar terlihat tidak peduli dengan perasaan Deborah, tetapi Deborah sendiri yang keras kepala.
Deborah menghempaskan benda itu dengan kasar, kemudian melangkah ke arah William. "Apakah wanita itu ada di sini?" Tanyanya dengan rahang yang mengeras, menahan kecemburannya. Sebab William malah memilih untuk bermain dengan wanita lain, ketimbang dirinya. Sebenarnya apa kekurangannya?
William menghembuskan nafas kasar. Tak ingin membesar-besarkan masalah, dia memutuskan untuk mencium bibir Deborah hingga wanita itu langsung membeku. Meski terasa sangat singkat, tetapi nyatanya hal tersebut mampu membuat amarah di dada Deborah luruh seketika.
.
.
.
Setelah sudah rapih Bella langsung pergi ke dapur untuk membuat sarapan. Dia menikmatinya sendirian, karena tidak ada siapa-siapa lagi di apartemen. Namun, baru saja ia menyelesaikan beberapa kunyahan, ia mendengar ada seseorang yang membuka pintu.
Bella pun bergegas untuk melihat siapa yang datang. Dia sedikit melebarkan kelopak matanya, karena ternyata William sudah kembali secepat ini.
__ADS_1
Gadis itu mengembangkan senyum dan segera menghambur ke arah William. Menyambutnya seperti baru pulang bekerja. "Tuan, apakah urusan anda sudah selesai?" tanya Bella sambil memeluk lengan William tanpa permisi.
Akan tetapi anehnya pria ini malah terlihat kikuk. Dia juga enggan untuk melangkah, padahal Bella sudah menariknya ke arah dapur.
"Tuan, aku baru saja membuat sarapan. Apakah anda mau juga?" Bella bersuara lagi, karena orang yang ia anggap William tak lekas menjawab.
Sementara Zack, yang saat itu berniat untuk mampir ke apartemen sang kembaran, masih nampak terkejut dengan sambutan ini. Ya, tentu saja ia bertanya-tanya siapa gadis yang sedang memeluknya? Kenapa nampak begitu akrab dengan William?
"Tuan, anda kenapa?"
Bella melepaskan pelukannya pada lengan Zack, kemudian memperhatikan wajah pria itu dengan seksama. Karena begitu identik, Bella sampai tak bisa membedakannya. Apalagi ia tidak tahu, hari ini William memakai baju apa.
Bella menyentuh kening Zack, memeriksa apakah pria pujaannya sakit. Namun, nyatanya suhu tubuh pria yang ia anggap William itu normal-normal saja.
"Anda tidak sakit kok, tapi kenapa anda terlihat tegang begitu?" tanya Bella dengan kening yang mengeryit. Sementara Zack langsung menelan ludahnya kasar. Dia yakin, ada hubungan tak biasa antara Bella dengan William.
Pria itu pun berpura-pura menjadi William, seperti apa yang sedang Bella pikirkan. Zack berdehem, ingin menirukan suara sang kembaran.
"Eum, aku baik-baik saja. Lagi pula aku datang hanya untuk mengambil sesuatu yang tertinggal," ucap Zack mencari alibi.
"Apa? Mau aku ambilkan?" tanya Bella tak curiga, karena dari segi suara pun mereka benar-benar mirip.
"Aku akan mengambilnya sendiri," ujar Zack, kemudian melangkah ke arah kamar.
Namun, karena Zack meraih gagang pintu kamar Bella, gadis itu pun kembali buka suara. "Tuan, itu kan kamarku. Apakah barangnya ada di sana?"
__ADS_1
Kamarku? Batin Zack.