Pemuas Sang Cassanova

Pemuas Sang Cassanova
Bab 81. Bella Lebih Suka William


__ADS_3

Sejak kemarin apartemen William menjadi sangat sunyi, seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan. Dan hal tersebut membuat Alea merasa heran, karena biasanya ia bisa melihat Leo yang mondar-mandir di depan apartemennya dari layar monitor. Ya, sebenarnya selama ini Alea selalu memperhatikan gerak-gerik pria itu, tetapi dia tidak berani untuk menemui Leo secara langsung.


Hingga akhirnya Alea yang merasa penasaran, memilih untuk keluar setelah sang suami turun ke basemen. Dia memperhatikan apartemen William dengan seksama, dan dia tidak melihat ada tanda-tanda orang akan keluar dari sana.


"Apakah dia pindah?" gumam Alea sambil tercenung, hingga tiba-tiba dia teringat kembali dengan percintaan malam itu. Satu kali tetapi penuh gairah. Wajah Leo yang begitu tampan seolah tak bisa ia hapus dari otaknya, sehingga setiap hari ia terus memikirkan pria itu.


Alea menghela nafas panjang dengan tampak yang mendadak lesu. Sebab jika Leo benar-benar pindah, maka mereka tidak akan pernah bisa bertemu lagi, dan ia yakin Leo tidak akan sadar kalau mereka pernah menghabiskan malam bersama.


"Sedang apa kamu di sini?!"


Deg!


Suara itu langsung mengejutkan Alea, dia mengangkat kepala dan melihat sang suami yang sudah berdiri tepat di hadapannya. Saking tidak fokusnya, dia tidak sadar kalau pria itu telah kembali untuk mengambil beberapa berkas yang tertinggal.


Karena sedari tadi dia sudah menelpon Alea, tetapi wanita yang ada di hadapannya ini entah ke mana. Alhasil dia naik lagi, dan mendapati istrinya yang melamun di depan pintu.


"Ada sesuatu yang harus aku beli, aku akan turun," jawab wanita itu, menguasai dirinya dengan cepat supaya suaminya tidak curiga.


"Lain kali bawa ponselmu, supaya aku tidak repot-repot untuk naik lagi!" ketus pria yang menikahi Alea enam bulan lalu. Namun, sampai saat ini pria itu belum juga memberikan hak-nya.


Alea hanya mengangguk samar seraya bertanya baik-baik. "Memangnya kamu sedang membutuhkan apa? Mau aku ambilkan?"


"Tidak perlu, aku bisa sendiri!"

__ADS_1


Pria itu segera menekan password untuk masuk ke dalam, melewati Alea yang masih berdiri di depan pintu, hingga bahu wanita itu sedikit tersenggol. Namun, Alea tak mempermasalahkan itu semua. Baginya sikap seperti ini sudah biasa dia dapatkan.


Setelah kepergian suaminya, Alea langsung berjalan ke arah lift. Dia masih berharap bahwa di bawah sana ia bisa melihat Leo. Namun, harapannya harus pupus karena pria itu sedang terbaring di rumah sakit.


.


.


.


Saat makan siang telah tiba, Zack berinisiatif untuk mengantarkan makanan ke kamar Bella. Sekaligus dia ingin menjelaskan kejadian waktu itu, supaya Bella tidak bingung mengapa tiba-tiba wajah William jadi ada dua.


Tok Tok Tok!


Namun, saat pintu terbuka. Bella dibuat terperangah, karena sosok yang mirip dengan William datang menghampirinya. Sesaat dia merasa pria yang sedang berjalan sambil mendorong troli itu adalah pria pujaannya, tetapi kesadarannya seolah ditampar oleh fakta.


William ada di kamar sebelah, Bell. Dia bukan William.


Zack sedikit mengulas senyum, supaya suasana di sekitar mereka tidak begitu canggung.


"Aku membawa makan siang untukmu," ucap Zack seraya menarik kursi di samping pembaringan Bella. Sementara Ellen yang sedari tadi menemani sang kakak sedang tidur di sofa.


"Ter—terima kasih, Tuan," jawab Bella terbata, sementara manik matanya tak lepas menatap wajah Zack. Andai pria yang ada di hadapannya benar-benar William, mungkin Bella sudah menghambur dan memeluk tubuh pria itu. Namun, sayangnya bukan.

__ADS_1


"Kau pasti bingung ya, kenapa aku bisa memiliki wajah yang sama dengan William," ucap Zack, yang membuat Bella langsung menganggukkan kepala. Bagaimana tidak? Sudah cukup lama ia mengenal dan tinggal bersama William, dia sama sekali tidak tahu kalau pria itu memiliki kembaran.


"Aku Zack, salah satu kembaran William. Kami empat bersaudara, dan yang lainnya berjenis kelamin wanita," sambung Zack menjawab kebingungan Bella. "Jangan salah, kita berdua sudah pernah bertemu."


Kening Bella langsung mengernyit, dia mencoba mengingat-ingat kapan William memperkenalkan kembarannya. Akan tetapi dia sama sekali tidak ingat momen tersebut.


Bella menggeleng lemah. "Aku tidak ingat, Tuan."


Dan Zack sudah bisa menebak bahwa jawaban itu yang akan keluar dari mulut Bella. Akhirnya dia pun memberitahu gadis itu, kalau mereka pernah bertemu di apartemen. Hingga ingatan Bella langsung berputar ke belakang. Dia membelalakkan mata, karena semuanya terekam jelas.


"Saat itu, kau mencium pipiku dengan cuma-cuma, karena berpikir aku adalah William," ujar Zack menutup ceritanya dengan sesuatu yang membuat Bella tergagap. Sumpah demi apa pun, saat itu yang ada di pikirannya Zack adalah William, jadi dia tidak berpikir salah orang.


Astaga, rasanya aku ingin tenggelam ke dasar bumi!


"Kau tahu, setelahnya William langsung mendatangiku ke kantor dan mengancamku. Sekilas dia seperti pria pencemburu, tetapi dia selalu bisa mengendalikan perasaan itu dengan baik," ucap Zack, mengalihkan rasa malu Bella karena sudah bertindak sembarangan.


Sehingga Bella pun semakin tertarik untuk mendengarkan cerita Zack. Pantas saja setelah itu sikapnya jadi aneh, ternyata dia tahu apa yang aku lakukan. Batin Bella dengan jantung yang tiba-tiba berdebar.


Dia tidak banyak tahu tentang William, tetapi di belakangnya ternyata pria itu memiliki perasaan yang begitu besar.


"Tuan—"


"Panggil saja aku Zack, karena aku adalah calon adik iparmu!" tukas Zack yang membuat bibir Bella semakin tertarik ke atas. Meski memiliki wajah yang sama, ternyata keduanya memiliki sifat dan sikap yang berbeda. Dan Bella lebih suka William.

__ADS_1


__ADS_2