
Karena sudah diamanati oleh William untuk menjaga Bella. Alhasil Leo yang menjemput gadis itu ke kampus, karena ia tidak ingin membiarkan Bella sendirian. Dia takut kejadian waktu itu kembali terulang, dan membuat Bella dalam bahaya.
Leo menunggu Bella di dalam mobil, hingga gadis itu keluar dari kelas. Dia baru turun, ketika melihat bayangan gadis itu melewati gerbang kampus, Leo langsung melambaikan tangan. "Bel!" Serunya supaya Bella melihat ke arahnya.
Bella menajamkan penglihatannya, saat sadar bahwa Leo yang baru saja memanggilnya, dia pun kemudian bergegas, dengan berjalan lebih cepat ke arah pria itu.
"Kenapa Kakak yang menjemputku?" tanya Bella dengan kening yang mengeryit. Dan tentunya hal tersebut membuat Leo merasa aneh, apakah William tidak pamit pada Bella kalau dia harus pergi ke luar kota?
"Kau tidak tahu? William ada pekerjaan di luar kota, jadi dia menitipkankanmu padaku," jawab Leo yang membuat Bella sedikit terhenyak. Pasalnya pria itu tidak mengirim pesan apa pun padanya. Padahal semua itu hal yang mudah dan tak membutuhkan waktu yang lama.
Bella langsung mengembuskan nafas kecewa. Namun, meski pun begitu, ia tetap merasa bahwa William menganggapnya penting, karena pria itu meminta Leo agar menjaganya.
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan, William itu orang super sibuk, mungkin tidak sempat untuk menghubungimu," ujar Leo, sudah bisa ia tebak, bahwa William memang tak menghubungi Bella. Untuk menghibur gadis cantik itu, dia pun menawarkan Bella untuk makan siang bersama.
Akan tetapi Bella justru menolak, dia langsung masuk ke dalam mobil dan duduk dengan tenang.
Keduanya tidak tahu kalau sedari tadi ada Deborah yang menyaksikan interaksi keduanya. Deborah semakin yakin kalau sepatu yang ada di apartemen William adalah milik Bella.
"Kamu pikir aku akan diam saja? Tidak, aku tidak suka kepunyaanku diusik, apalagi sampai harus berbagi!" gumam Deborah dengan tatapan nyalang. Detik berikutnya dia berlalu menuju ruangannya lengkap dengan bibir yang tertarik sinis.
.
.
__ADS_1
.
Hari ini Bella tidak memasak makan malam. Entah kenapa dia jadi lebih suka mengurung diri di dalam kamar. Hingga akhirnya Leo mengetuk pintu, karena dia merasa lapar.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Bel, ayo kita makan malam di luar," teriak Leo, karena sejak pulang kuliah, Bella tak lagi menampakkan wajahnya. Leo takut Bella sakit, karena ujungnya pasti dia yang kena marah.
"Kak Leo saja, aku tidak lapar," jawab Bella sambil terus menatap ponselnya, berharap William menghubunginya. Akan tetapi nihil, sampai layar itu mati pun, harapannya tidak terwujud.
Di luar sana Leo menghela nafas, mencari cara supaya Bella bisa menerima ajakannya. Dan sepertinya ia perlu sedikit berbohong. Leo kembali mengetuk benda persegi panjang itu, kemudian berkata. "Bel, come on. William sudah meneleponku, menanyakan kamu sudah makan atau belum."
Mendengar nama William, tentu saja membuat Bella langsung terhenyak. Bella yang semula berbaring, langsung terduduk seolah mendapat gairah hidupnya kembali. "Apa benar Tuan William menanyakan itu pada Kak Leo?"
Tak butuh waktu lama, suara decitan pintu langsung terdengar, disusul dengan kemunculan wajah Bella menyunggingkan senyum. Dia merasa senang karena diperhatikan oleh William.
"Ayo! Aku tidak ingin membuat dia cemas," ucap Bella, membuat Leo merasa takjub. Sebab beberapa saat lalu Bella masih terlihat ogah-ogahan, sekarang gadis itu malah menatapnya dengan senyum yang mengembang.
Tak ingin Bella berubah pikiran, akhirnya Leo langsung mengangguk. Mereka pergi ke salah satu restoran dekat apartemen. Dan tanpa keduanya ketahui, ada orang yang senantiasa membuntuti mereka.
Setibanya di restoran mereka langsung memesan makanan. Tak disangka, ternyata Bella seperti orang kelaparan, karena dia memesan beberapa menu dalam waktu yang bersamaan.
Baiklah, sekarang aku tahu mantra apa yang bisa membuat Bella menjadi patuh. Aku hanya perlu menyebut nama William. Batin Leo saat melihat Bella yang masih membolak-balikkan buku menu.
__ADS_1
Setelah pelayan menuliskan semua pesanan Bella dan Leo, dia segera kembali ke dapur. Sementara di sisi lain, ada seseorang yang berusaha menyamar, untuk memulai rencana yang sudah diberikan oleh sang tuan.
Dengan segala cara ia lakukan, hingga ia berpakaian layaknya seorang pelayan. Dia masuk ke dapur dan menanyakan pesanan meja nomor 20.
"Sebentar lagi," ucap seseorang yang sedang membuatkan minuman. Dan hal tersebut membuat salah satu anak buah Derry menyeringai. Setelah makanan dan minuman sudah siap, pria itu segera mencampurkan sesuatu yang ia simpan di saku celana.
Kemudian berjalan menuju meja nomor 20, tempat di mana Leo dan Bella duduk. Saat melihat pelayan datang, Bella langsung bertepuk tangan girang, seperti sudah tak sabar untuk menyantap hidangan makan malam.
Sedangkan Leo tiba-tiba mendapat notifikasi pesan. Dia membacanya sekilas, kemudian kembali fokus pada makanannya.
"Kau yakin akan menghabiskan ini semua?" tanya Leo sambil menunjuk beberapa piring yang ada di atas meja.
"Tentu saja. Aku akan kenyang sampai pagi," jawab Bella, tanpa peduli tatapan Leo.
Detik selanjutnya mereka menikmati makanan di piring masing-masing. Bella terlihat lahap, sementara Leo hanya bisa geleng-geleng kepala. Gadis ajaib, batinnya.
Hingga setelah beberapa saat berlalu, Leo tiba-tiba terlihat seperti kepanasan. Dia mengibaskan baju beberapa kali, membuat seseorang yang sedang mengawasinya menyeringai penuh.
"Bel, kita pulang sekarang!" cetus Leo tiba-tiba karena dia sudah terlihat tak karuan, membuat Bella terhenyak. Sebab makanannya masih banyak. Bahkan Leo belum menghabiskan setengahnya.
"Kenapa?" tanya Bella dengan mulut penuh, tetapi Leo justru memanggil pelayan untuk menghitung tagihan yang harus ia bayar.
Dia langsung mengeluarkan kartu, dan begitu selesai dia langsung meraih tangan Bella lalu menyeret gadis itu untuk masuk ke dalam mobil. Sementara Bella yang tidak mengerti akan sikap Leo ini, hanya bisa meronta-ronta.
__ADS_1
"Kak Leo, lepas! Kamu ini kenapa sih?"