
William terus berkejaran dengan waktu. Sebab jika ia terlambat sedikit saja, maka ia yakin bahwa ia akan kehilangan Bella untuk selamanya. Namun, di saat ia sedang fokus, sebuah panggilan dari nomor baru masuk ke ponselnya.
Dia melirik sekilas, entah siapa orang yang ada dibalik panggilan tersebut. Akan tetapi karena tak memiliki waktu untuk memikirkan hal yang tidak penting, William langsung menerimanya. Dia memasang earphone supaya tidak mengganggu aktivitasnya yang sedang mengemudikan mobil.
"Siapa kau?" tanya William to the point, membuat pria paruh baya yang ada di ujung sana langsung tersenyum sumringah.
Dimitri berjalan mendekati Bella yang saat itu duduk di sebuah kursi dengan tangan dan kaki yang sudah terikat. Sementara di beberapa bagian wajah gadis itu, ada luka yang darahnya sudah cukup mengering.
Keputusannya datang ke rumah Lena ternyata tak mendapatkan hasil yang baik. Sebab ia malah tertangkap oleh Dimitri dan anak buahnya, sementara Leo entah ada di mana. Pria itu juga terkena serangan anak buah Dimitri karena berusaha melindunginya.
"JAWAB AKU, SIAPA KAU!?" sentak William karena Dimitri tak lekas menjawab. Dan suara itu terdengar jelas di telinga Bella, karena Dimitri sengaja menyalakan loud speaker. Bella langsung menitikkan air mata, sementara ludahnya terasa tercekat di tengah tenggorokan.
Dia telah salah, dia salah karena tak mendengarkan penjelasan William terlebih dahulu. Padahal William sudah pernah berkata bahwa dia harus mempercayai pria itu. Namun, kenapa ia malah mengendapkan egonya? Dan sekarang ia harus menerima akibatnya.
"Hah, aku bisa tebak. Kau adalah Pak Tua itu, ada apa kau menghubungiku?" ujar William dengan penuh penekanan, tetapi bukannya takut Dimitri justru semakin menyeringai penuh.
"Tebakanmu tepat sekali, Tuan William," jawab Dimitri sambil terus menatap Bella yang terus menangis sambil menggelengkan kepala. Dia berharap kalau William tidak akan datang untuk menyelematkannya, karena dia takut pria itu akan kembali terluka. "Kau pasti sudah tahu juga, kalau wanitamu ada di tanganku."
"Cih, bagaimana bisa aku percaya pembohong ulung sepertimu. Lebih baik sekarang kau katakan, di mana kau berada. Ayo kita selesaikan semuanya!" balas William yang berpura-pura tak percaya. Karena ia ingin memancing Dimitri, supaya ia bisa memastikan bahwa Bella memang bersama pria paruh baya itu.
Tepat seperti harapan William, Dimitri berusaha membuat Bella bersuara. Namun, Bella yang sudah bertekad untuk tidak melibatkan William, lebih memilih untuk menahan semua rasa sakit akibat cubitan yang ia terima. Biar dia mati, dan William bisa melanjutkan hidupnya.
__ADS_1
Dimitri merasa geram, karena Bella benar-benar tak mengeluarkan suaranya sedikit pun. Dia menambah tekanan, hingga kukunya nyaris menancap di kulit Bella. Akan tetapi hasilnya sama saja, hingga tanpa segan lagi Dimitri menampar pipi Bella dengan keras.
Plak!
Seiring dengan itu Bella reflek mengeluarkan isak tangisnya. Membuat William yang ada di ujung sana langsung menggeram. Berbeda dengan Dimitri yang langsung terbahak-bahak.
"Kau dengar sendiri? Kau pasti mengenali suara itu 'kan?" ujar Dimitri dengan wajah yang terlihat puas.
"KEPARATTT KAU! Ternyata keputusanku melepaskanmu itu salah, harusnya aku bunuh saja kau saat itu. Karena manusia sepertimu tidak pantas hidup! Katakan di mana kau sekarang, aku akan mencabut nyawamu hari ini juga!" pekik William dengan gemuruh hebat di dadanya. Sebab mendengar Bella yang kesakitan sungguh membuatnya tak tahan.
Dimitri kembali terbahak-bahak. Dia berpikir bahwa William sedang kebingungan mencari keberadaan Bella, nyatanya sebentar lagi pria itu akan sampai di titik lokasi.
Plak!
Bukannya disetujui Bella justru kembali mendapat tamparan keras. "Tutup mulut busukmu! Kau tidak berhak mengatur." Sentak Dimitri, semakin membuat William tak tahan. Rasanya dia ingin segera sampai dan menghajar pria paruh baya itu sampai habis.
"JANGAN SEKALI-KALI KAU MENYENTUHNYA! SEKARANG KATAKAN SAJA KAU DI MANA?" pekik William dengan emosi yang semakin memuncak.
Dimitri menarik sudut bibirnya ke atas, sementara tatapannya tak beralih pada wajah Bella yang sudah dibasahi air mata. Gadis itu hanya bisa menggeleng, berharap Dimitri berhenti bermain-main dengan William. Namun, apa yang ia lakukan hanyalah sia-sia. "Aku akan mengirim lokasinya, dan aku akan menunggumu dalam waktu 1 jam, kalau kau tidak datang juga. Maka kau akan melihat mayat wanitamu. Kita buktikan, seberapa hebat dirimu untuk melawanku."
Dan setelah itu panggilan langsung terputus. Disusul William yang mendapat sebuah pesan lokasi tempat di mana keberadaan Dimitri saat ini. Andai William masih berada di perusahaan, mungkin ia membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam. Namun, dia bergerak lebih cepat dari apa yang Dimitri bayangkan.
__ADS_1
William benar-benar sudah gila, ia kembali menambah kecepatan. Demi meminimalisir waktu yang ada. Dia juga berusaha menghubungi para anak buahnya.
"Di mana kalian?" tanya William.
"5 menit lagi kami sampai di lokasi, Tuan," jawab salah satu dari mereka. Mendengar itu William langsung menyeringai penuh.
"Bagus! Siapkan semuanya, kita jadikan gedung itu sebagai kuburan mereka!" balas William dengan emosi yang menggebu. Setelahnya dia kembali fokus menyetir, hingga tak berselang lama dia sampai di tempat yang di tuju.
Tanpa basa-basi lagi dia segera turun, sementara dalam dua genggaman tangannya sudah ada pistol yang terisi penuh oleh peluru.
William melangkah dengan gagah, diiringi beberapa anak buah yang mengekor padanya. Karena sebelumnya mereka sudah mengatur strategi untuk mengepung gedung ini.
Kedatangan William disambut dengan keterkejutan. Semua anak buah Derry yang melihat itu langsung mengangkat senjata masing-masing, tetapi gerakan William jauh lebih gesit. Dia memainkan kedua tangannya.
DOR!
DOR!
DOR!
DOR!
__ADS_1