
"Jadi, kau orangnya? Salam kenal, Tuan," ucap William dengan tatapan remeh. Sementara Dimitri benar-benar terkejut, karena tak seharusnya William berada di sini. Pria itu ada di luar kota!
"Kenapa, Tuan? Sepertinya kau sangat terkejut aku ada di sini. Biar aku beritahu, kau telah salah orang," sambung William, kini dengan senyum mengejek yang membuat Dimitri benar-benar merasa kesal. Bagaimana bisa pria itu tahu di mana tempat tinggalnya, padahal dia sudah bersembunyi dengan sangat baik.
Dan Derry? Kenapa bisa salah orang? Padahal ia sudah sangat percaya diri, bahwa rencana malam ini akan berhasil. Akan tetapi nyatanya nol besar! Rencana mereka gagal total.
"Apa maksudmu? Dan untuk apa kau datang ke mari?" tanya Dimitri berpura-pura bodoh. Karena ia tidak tahu sejauh apa William mengetahui seluk-beluknya. Apakah pria ini juga tahu, kalau ternyata ia adalah paman Deborah?
"Jangan berlagak di depanku, Tuan. Karena semuanya percuma, aku tahu siapa kau dan apa tujuanmu!" ujar William, senyum di bibirnya menghilang, berganti dengan tatapan tajam yang mematikan.
Dia seperti tak takut malaikat maut menjemputnya, padahal di setiap sudut sudah ada senjata api yang mengarah padanya. Andai peluru melesat dan mengenai titik vitalnya, sudah tentu nyawa William akan melayang.
"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, Anak Muda. Tapi yang jelas, aku tidak memiliki urusan denganmu. Kau yang salah orang!" balas Dimitri, masih mengelak bahwa dia adalah dalang dibalik terancamnya nyawa Bella. Padahal William sudah tahu semuanya, dari alat pelacak yang ia taruh di mobil Derry sudah jelas menunjuk ke lokasi rumah ini.
"Lalu bagaimana dengan ini?"
William mengambil sesuatu dari balik sakunya lalu ....
DOR!
__ADS_1
Gerakan secepat kilat itu membuat Dimitri terhenyak. Jantung pria itu nyaris tak ada di tempat. Namun, dia bersyukur sebab peluru tersebut hanya mengenai jendela rumahnya.
William tertawa keras, sementara seluruh penjaga langsung mengangkat senjata masing-masing, siap untuk menembak pria itu.
"Tembak saja, karena kau tentu tahu siapa aku. Kalau aku mati di sini, ku pastikan kau akan ikut dikubur dalam pemakamanku!" ucap William dengan tatapan serius. Membuat Dimitri merasa geram, William benar-benar mampu memanipulasi keadaan. Hingga Dimitri ragu untuk melangkah.
"Turunkan senjata kalian!" teriak Dimitri akhirnya. Membuat semua orang yang sudah tak sabar ingin membinasakan William, langsung menurunkan senjata secara perlahan.
Lagi, William tersenyum dibuatnya. Karena ternyata Dimitri mudah untuk diancam. Sekarang ia hanya perlu membuat Dimitri mengakui kalau dialah yang selama ini mengincar nyawa Bella.
"Sebenarnya apa maumu?" tanya Dimitri kepada William. Karena jujur saja, sedari tadi lututnya sudah ikut gemetar. Takut William menggunakan tindakan cuma-cuma dan langsung membinasakannya.
"Aku hanya ingin kau mengakui kalau kau adalah orang yang selama ini ingin membunuh wanitaku. Ah, bukan maksudku Bella, karena jika aku menyebutnya seperti itu, nanti kau malah salah sangka. Padahal kau adalah Paman Deborah, jadi tidak mungkin kau mengincar ponakanmu sendiri," ujar William dengan seringai licik, yang membuat Dimitri mengepalkan tangannya.
"Andai iya, lantas kau mau apa? Kau ingin menjebloskanku ke penjara tanpa alasan dan bukti?" tanya Dimitri dengan satu alis terangkat. Karena dia yakin, William tak memegang bukti apa pun kalau ia adalah dalangnya.
"Tentu saja tidak. Untuk apa aku menjebloskan orang sepertimu ke penjara. Kalau itu terjadi, rasanya tidak sebanding dengan apa yang sudah kau lakukan pada Wanitaku. Kau akan mendapatkan sesuatu yang lain, andai kau masih mengganggunya. Jadi mari buat kesepakatan?" ujar William memberikan sebuah tawaran, entah apalagi yang ada di dalam otak pria itu. Karena nyatanya ia tak langsung mengeksekusi orang yang hampir membunuh Bella.
Dimitri mengernyitkan dahinya. Kesepakatan apa yang William inginkan? Dan haruskah ia percaya pada pria itu?
__ADS_1
"Kau adalah orang yang cukup licik, kesepakatan apa yang kau inginkan?" tanya Dimitri, dia menggerakkan tangan ke belakang untuk mengambil sesuatu dari balik saku celananya. Berjaga-jaga jika William melakukan sesuatu yang tidak terduga seperti beberapa saat lalu.
Tatapan William kembali terlihat serius. Ingin meyakinkan Dimitri akan ucapannya. "Berhenti mengganggu Bella. Karena sekali lagi kau menyentuhnya, kau akan berurusan denganku. Ingat baik-baik, aku bukanlah orang yang pemaaf. Jadi jika kita bertemu lagi, aku akan memenggal kepalamu."
"Tapi bagaimana dengan Deborah? Bukankah kalian sudah bertunangan?" ketus Dimitri, tak ingin sang keponakan sakit hati hanya karena dipermainkan oleh William.
"Dia hanyalah sebuah pion untuk menemukanmu. Jadi, aku dan dia tidak ada apa-apa. Sekali pun kami bertunangan, dia tidak akan bisa menggantikan seseorang yang ada di sisiku. Do you understand, Mr. Dimitri?"
Mendengar itu tangan Dimitri semakin menggenggam erat senjatanya. Seperti yang Derry bilang, William adalah orang yang licik. Tidak mudah untuk berurusan dengan pria itu.
"Karena kau diam, aku anggap kau setuju. Ingat, jangan sampai kita bertemu lagi. Karena jika itu terjadi, riwayatmu akan tamat!" sambung William, karena tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Dimitri.
Dengan penampilannya yang sudah berantakan, William memutar badan untuk kembali masuk ke mobilnya. Namun, baru beberapa langkah suara letusan senjata mengalun di udara.
DOR!
DOR!
Dua kali Dimitri menembak dan salah satunya mengenai lengan kiri William. Pria itu langsung mengeratkan gigi depannya, saat menerima timah panas itu.
__ADS_1
Seketika darah mengalir membasahi lengannya, William menoleh dan melihat Dimitri yang tengah menatapnya tajam.
"Sebagai salam perkenalan dan salam perpisahan!" ucap pria paruh baya itu.