
"Hai, kita bertemu lagi," sapa William dengan senyum remeh. Dan suara yang bergema itu sukses membuat Derry dan beberapa anak buahnya menoleh.
Derry langsung terbelalak lebar karena melihat William yang berhasil naik ke lantai tiga, disusul dengan beberapa anak buah pria itu. Di belakang William sudah ada sekitar 5 orang yang siap untuk melindungi sang tuan.
"Sial, dia pasti sedang meremehkanku sekarang! Tembak!" Tanpa mengulur waktu, Derry langsung berseru pada anak buahnya. Seraya mengangkat senjata untuk menembaki William. Dia pastikan bahwa hari ini juga pria itu akan habis di tangannya.
DOR! DOR! DOR!
Anak buah William tak diam saja, mereka juga sama-sama mengangkat senjata hingga adu tembak kembali terjadi. Mereka melindungi diri masing-masing dari serangan. Sementara William belum juga menarik pelatuknya, meski Derry sudah merentetinya dengan senjata laras panjang.
Derry merasa heran, tetapi dia bersikap masa bodoh, yang penting ia bisa berhasil membuat salah satu pelurunya menancap di tubuh William.
Sementara William terus melompat dan beberapa kali bersembunyi di dinding bangunan. Saat ia keluar, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang melewati lengan kirinya, hingga jas mahalnya robek. Hampir saja tembakan Derry melukai tubuhnya.
Melihat itu Derry langsung menyeringai, dia sudah percaya diri kalau sebentar lagi ia bisa menghabisi William. Derry berjalan cepat dan tak berhenti untuk menembak.
"Kau tidak akan lepas dariku kali ini!" gumam Derry dengan perasaan menggebu-gebu.
Sedangkan William masih saja menghindar dengan berlari mengitari lantai tersebut. Hingga tak berapa lama kemudian, ia kembali menemukan tangga menuju lantai berikutnya. Dia sengaja memancing Derry mengikutinya, agar pria itu terpisah dari anak buahnya.
Kini mereka tinggal berdua, lalu ketika Derry lengah, William langsung menebakkan pistolnya dan tepat mengenai dada pria itu. Seketika itu juga darah langsung membasahi kemeja putih yang Derry kenakan. Derry melirik ke arah dadanya, kemudian mengeratkan giginya ke arah William.
__ADS_1
"Perlu ku beritahu, kau kurang ahli dalam menembak, mau ku ajari?" ujar William dengan tatapan meledek. Kini ia ada dia tas tangga, sementara Derry masih ada di bawahnya.
"Cih, ini tidak seberapa! Kau pikir, kau sudah hebat?" balas Derry dengan penuh keangkuhan karena ia tak ingin William menganggapnya lemah. Padahal sebenarnya ia mulai merasakan nyeri di dada kirinya.
"Aku tidak bilang begitu. Tapi perlukah kita uji coba?" kata William dengan pembawaan yang santai, tetapi begitu menyebalkan di mata musuh. Seketika itu juga mata Derry langsung menyalak tajam.
Dia terdiam sesaat, untuk mengukur jarak pandangnya. Supaya peluru bisa tepat sasaran. Dia mengeratkan tangan pada pelatuk. Dan detik selanjutnya suara letusan kembali terdengar, tetapi bukan dari pistol milik Derry. Melainkan William. Ya, pria itu lebih dulu menembak, karena sudah paham dengan gestur tubuh Derry.
"Argh!" Kali ini Derry mengerang karena tangan kanannya kembali tertembak. Sementara senjatanya langsung terjatuh di lantai. Kesempatan yang bagus untuk William, pria itu langsung melompat dari tangga, hingga melandas tepat di hadapan Derry.
"Kau kurang gesit juga!" William kembali memberi komentar, hingga membuat Derry semakin merasa geram. Namun, karena posisinya dia sudah terluka, Derry tak bisa menyombongkan diri. Apalagi William sudah berhadapan dengannya dengan jarak yang cukup dekat.
Derry berjalan ke samping dengan ritme yang pelan. Sesekali dia melirik pistolnya yang tergeletak di lantai. Saat ia hendak mengambil benda itu, William langsung berlari dan menendang benda itu hingga menjauh.
William menarik sudut bibirnya ke atas. Baiklah dia akan meladeni permainan Derry, meski ia tahu pria itu pasti memiliki rencana licik. William meletakkan pistolnya di lantai, kemudian membuang jasnya ke sembarang arah dan menarik lengan kemeja hingga ke siku.
Melihat itu Derry berusaha menahan nyeri di dada serta lengannya. Bagaimana pun caranya ia harus bisa melukai William dan membuat pria itu lengah. Jadi, andai William menemukan Bella, dia pastikan tenaga William sudah terkuras habis, sehingga Dimitri dengan mudah melenyapkan pria itu.
"Let's go! Keluarkan kemampuanmu," ucap William sambil menggerakkan kedua jarinya.
Rahang Derry langsung mengeras, dia berusaha untuk melawan William dengan kemampuan gulatnya. Namun, setiap serangannya bisa ditepis hingga ia sempat mundur beberapa langkah.
__ADS_1
Tak peduli akan lukanya yang semakin banyak mengeluarkan darah. Derry berlari dan melayangkan tendangan hingga mengenai perut William. Di saat William terhuyung, dia menambahkannya pukulan di wajah dua kali, hingga William tak mampu untuk melawan.
Nafas Derry terengah-engah, sementara tubuhnya mulai terasa lemas karena telah kehilangan banyak darah. Namun, saat William berusaha menyerang, dia tetap menahan setiap pukulan itu.
Tapi tidak ketika William menahan kedua bahunya. Derry telah kalah kesiapan, William mengadu kepala mereka berdua hingga Derry terhuyung sambil mengerang sakit.
"Argh!" Derry memegangi kepalanya, mendadak penglihatannya sedikit mengabur. Namun, sekali lagi dia tidak boleh kalah begitu saja. Sementara William belum mendapat luka apa-apa.
Derry mencoba untuk mencari kesadaran, setelah itu dengan emosi yang menggebu-gebu, Derry berlari ke arah William, saat sudah dekat dia langsung mengambil pisau yang ia simpan hingga ....
Crash!
Crash!
William sudah berusaha menghindar, tetapi lengan dan dadanya justru terkena sabetan tersebut. Melihat itu Derry langsung menyeringai penuh, sementara William sedikit meringis sambil menatap cairan berwarna merah merembes dari balik kemejanya.
"Aku pastikan, bahwa hari ini kau hanya akan melihat mayat wanitamu!" ucap Derry dengan penuh keyakinan. Namun, dia lupa siapa yang sedang dia hadapi sekarang. Mendengar ucapan Derry, kemarahan William kembali memuncak. Tanpa diduga dan dengan gerakan yang nyaris tak terlihat William melayangkan senjata lempar yang mirip dengan pisau kecil, dan senjata itu tepat mengenai dada Derry. Karena ia ingin segera mengakhiri permainan.
Jleb!
__ADS_1
Derry tersentak karena tiba-tiba ada sesuatu yang menusuk hingga ke jantungnya, sebelum tubuhnya ambruk, dia menatap William yang menunjukkan sedikit seringai.
"Kau salah, justru hari ini aku akan melihat mayat kalian semua!" ucap William.