Pemuas Sang Cassanova

Pemuas Sang Cassanova
Bab 87. Aku Yang Membunuhnya


__ADS_3

Setelah terbaring cukup lama di rumah sakit. Akhirnya William dan Bella sudah diizinkan untuk pulang. Namun, kali ini keduanya dibawa ke mansion keluarga Tan atas permintaan Eliana. Supaya dia bisa mengontrol perkembangan sang putra.


Sebenarnya Bella masih merasa cukup canggung, karena dia seperti beban untuk William. Setiap hari dia dilayani, tanpa harus melakukan apa-apa, bahkan biaya rumah sakit pun sudah ditanggung sampai lunas.


Namun, di samping itu William selalu berusaha membuat Bella merasa nyaman berada di tengah-tengah keluarganya. Sebab sebentar lagi gadis itu akan menjadi Nyonya Liem.


Di mansion, mereka diberi kamar yang berbeda. Namun, tetap saja William akan lebih betah menyambangi kamar Bella. Seperti saat ini, padahal mereka sudah dipanggil oleh Caka untuk turun, karena ada sesuatu yang ingin dibicarakan. Akan tetapi William malah mencuri waktu untuk sekedar mencium Bella.


"Kak, sudah ... katanya Daddy panggil kita berdua. Ayo turun!" rengek Bella saat sang kekasih masih saja melumaat bibirnya dengan rakus. Oh iya, kalian tidak perlu salah fokus dengan panggilan Bella kepada William.


Karena sejak hari itu, William telah setuju jika Bella memanggilnya Kakak. Terdengar manis bukan? Apalagi jika kalian membayangkan bagaimana reaksi William yang salah tingkah, ketika Bella baru melayangkan panggilan pertamanya.


"Sebentar lagi, Honey. Masih ada waktu dua menit," balas William seraya menahan tengkuk Bella. Sementara bibirnya berkali-kali mendarat di bibir gadis itu. Pada akhirnya Bella pun tak bisa membantah, meski tangannya kerap menangkis tangan William yang mulai bergerilya ke mana-mana.


"Aku sudah tidak sabar memakanmu!" ucap William setelah melepaskan Bella. Dia mengusap benda ranum yang habis dia gigit menggunakan ibu jari, tampak merah dan basah.


"Mommy dan Daddy bilang Kakak baru bisa melakukannya setelah kita menikah. Jadi jangan macam-macam!" cetus Bella dengan bola mata membulat lucu. Dia akan selalu menjadi si patuh, sementara William adalah orang yang suka melanggar.


"Kita lihat saja nanti. Aku tidak yakin kau juga bisa menahannya, saat tanganku—" Jemari besar itu tiba-tiba merayap dan mengusap perut Bella dengan lembut. Sementara tatapan William terasa menantang, hingga Bella menggelinjang kegelian. "Ayo turun! kita sudah terlambat lima menit."


Cih! Bella hanya mampu melakukan itu. Sebab kalau sudah berdua ucapan William memang tidak bisa dipegang.

__ADS_1


.


.


.


Di ruang keluarga sudah ada Caka dan Eliana yang menunggu kedatangan mereka berdua. William dengan wajah tanpa dosa menggandeng tangan Bella hingga mereka duduk di sofa.


Melihat ayah dan ibunya memasang wajah serius, William pun sedikit mengerutkan dahi. "Mommy dan Daddy ingin membicarakan apa? Kenapa terlihat serius sekali? Ada masalah?"


Caka menelan ludahnya dengan kasar. Dia tidak tahu harus memulainya dari mana, karena sebenarnya dia takut kalau pembahasan ini akan menciptakan masalah baru atau tidak.


"Eum begini, Will. Daddy rasa kalian pun perlu tahu tentang ini, supaya kalian bisa mengambil pelajaran di dalamnya," ujar Caka yang semakin membuat William bingung. Karena kali ini dia tidak bisa menebak ke mana arah pembicaraan sang ayah.


Bella melirik sang pria sekilas, dia tahu William tidak akan pernah membiarkan dia kecewa.


"Sebenarnya saat di rumah sakit Bella sempat keguguran. Apakah sebelumnya kalian tidak menyadari adanya janin itu?" jelas Caka dengan gamblang, membuat dua jantung terkesiap dan berhenti berdetak sesaat.


William dengan air mukanya yang gamang, menatap Bella untuk mempertanyakan hal tersebut. Karena selama ini Bella memakai pil kontrasepsi, dan gadis itu tidak pernah mengeluhkan sesuatu yang mengarah ke kehamilan.


"Bel," panggil William dengan suara lirih. Namun, Bella mendengar suara sumbang itu seperti penuh luka. Dia meneguk ludahnya susah payah, karena dia pun tidak tahu-menahu tentang janin yang berkembang di rahimnya. Calon anak mereka yang sudah tiada.

__ADS_1


"Aku—aku tidak tahu, Kak. Aku tidak tahu kalau dia ada di perutku," jawab Bella dengan suara terbata, sementara genggaman itu semakin terasa kuat, Bella bahkan bisa merasakan kekecewaan dan kemarahan di dalamnya.


"Apakah pil kontrasepsi yang aku berikan yang membuatnya menjadi lemah?" tanya William dengan ludah yang tercekat. Awalnya dia memang tidak ingin Bella hamil, tetapi mendengar kabar bahwa benih yang ia tanam telah menjadi janin dan kini telah tiada, entah kenapa hatinya sangat sakit.


Sementara Bella hanya bisa bergeming. Dia tak mampu menjawab, karena dia pun tidak tahu. Yang dia ingat, saat orang-orang berusaha membawanya dari rumah Lena, perutnya terbentur meja.


"Sepertinya iya, berarti aku yang membunuhnya. Atau karena aku yang datang terlambat untuk menyelamatkan kalian berdua?" sambung William karena melihat Bella terdiam.


Mendengar itu, Bella pun langsung menggelengkan kepala dengan air mata yang luruh. Dia tidak mau William menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang tidak mereka sadari. "Kamu tidak membunuh siapa pun!" Ujar Bella seraya menangkup kedua sisi wajah William.


"Benar, Sayang, mungkin ada faktor lain," sambar Eliana.


"Tapi dari awal aku yang tidak menginginkan dia hadir. Dan sekarang, mendengar kabar ini hatiku malah sakit. Inikah balasan dari dia untukku? Dia ingin membalas dendam?" ujar William menguapkan sebuah rasa yang tak pernah hinggap di dalam hatinya.


Eliana dan Caka saling pandang, mereka sama-sama merasakan apa yang dirasakan William, karena Eliana pun hampir pernah mengalaminya, sampai membuat sang ayah marah besar terhadap Caka.


Sementara Bella berusaha untuk tetap tegar, dia mengusap wajah William dan meminta pria itu menatapnya. "Tidak, Sayang. Dia hanya menunggu kita di surga. Bukankah kita bisa memilikinya lagi? Setelah menikah ayo buat yang banyak."


"Aku tidak sedang bercanda, Bell!" tukas William dengan tatapan matanya yang tak main-main. Bahkan dia menangkis salah satu tangan Bella yang bertengger di pipinya.


Bella menganggukkan kepala dan setiap anggukan itu air matanya ikut menetes. "Aku tahu itu, Kak. Tapi kita tidak mungkin menarik dia untuk kembali. Ayo menikah, supaya aku bisa hamil lagi. Dan aku janji, aku akan menjaganya dengan baik."

__ADS_1


Gadis itu mencoba tersenyum, sementara William tetap bergeming dengan perasaan yang berkecamuk. Hingga detik berikutnya, Bella menarik kepala William untuk dia peluk.


__ADS_2