
William meminta agar ruangannya disatukan dengan ruangan Bella, supaya mereka tetap bisa bersama meski berbaring di brankar masing-masing. Tidak ada yang bisa membantah, sehingga apa yang diinginkan William langsung dikabulkan.
Karena kondisi William yang sudah semakin membaik. Para keluarganya pun meluangkan waktu untuk menjenguk, tetapi mereka memakai sistem bergiliran supaya tidak mengganggu waktu istirahat William.
Tak terkecuali Ervin, yang sempat menjadi calon mertuanya. Pria paruh baya itu memutuskan untuk datang ke rumah sakit, tempat di mana William dirawat.
Ketika ia datang, Jo adalah orang yang paling gelisah, karena takut jika Ervin akan melakukan balas dendam atas kematian Deborah dengan mencelakai William. Hingga tanpa pikir panjang ia mencekal langkah Ervin, sebelum pria paruh baya itu tiba di depan ruangan tuannya.
"Anda mau apa, Tuan?" tanya Jo dengan tatapan berani. Dan hal tersebut membuat semua orang terperangah, termasuk Caka yang mengenal betul bagaimana Ervin. Dari dulu keduanya sudah bekerja sama, jadi dia cukup tahu tabiat pria paruh baya itu.
"Jo!" panggil Caka, karena menurutnya sangat tidak sopan menanyakan hal tersebut pada orang yang berniat baik. Dia yakin Ervin datang hanya untuk menjenguk putranya. Terlepas masalah yang terjadi pada William dan Deborah.
Namun, Jo seolah tak mendengar, hingga dia tetap menatap lurus dan semakin memajukan tubuhnya, menahan Ervin supaya tidak menemui William.
"Aku hanya ingin menjenguk William, Jo. Apakah itu salah?" jawab Ervin seraya melayangkan pertanyaan pula. Dia datang sendirian, padahal biasanya selalu ada anak buah di belakangnya.
Mata Jo menyipit, tak langsung percaya begitu saja. Karena sampai kapan pun, dia akan melindungi William dengan segenap jiwa dan raganya. "Apa buktinya?" Tantang Jo, sementara yang lain hanya bisa menonton aksi asisten William.
Ervin menarik sudut bibirnya ke atas. Deborah memang putri kesayangannya, tetapi jangan dipikir dia akan tetap membela Deborah ketika wanita itu salah. Walau bagaimanapun Deborah telah menerima akibatnya, dan dia tidak mau hubungan antara ia dan Caka menjadi berantakan hanya karena dendam.
__ADS_1
"Aku datang sendirian, dan tanpa apa pun, Jo. Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa memeriksanya sendiri," jawab Ervin seraya membuka tangannya, memberikan akses pada Jo supaya memeriksa pakaiannya.
Tanpa segan Jo langsung meraaba saku jas Ervin. Dia tidak peduli meski Ervin adalah orang tua, kalah pria itu berani macam-macam. Maka siap-siap saja menerima serangannya.
Caka hendak menghentikan perlakuan asisten putranya, tetapi Aneeq justru menahan. Dia tahu apa yang dilakukan Jo semata-mata karena ingin menjaga William.
"Bagaimana? Kamu menemukan sesuatu?" tanya Ervin, yang langsung mendapat tatapan tajam dari Jo. Pria itu menghembuskan nafas kasar, karena tidak menemukan apa pun.
Namun, hatinya masih saja tidak tenang sehingga dengan gerakan cepat, dia mengeluarkan pistol dari balik saku jasnya. Dia mengarahkan benda itu tepat ke dada Ervin. "Andai anda melakukan sesuatu di dalam sana, pistol ini akan menembus jantungmu!"
Grep!
Caka langsung meringkus senjata itu dengan cepat. Karena Jo sudah sangat keterlaluan. Akan tetapi pria itu tak merasa bersalah sedikit pun, dia malah mundur tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Sementara Caka mengalihkan tatapannya pada Ervin. Pria paruh baya itu juga tidak marah, seperti memahami betul apa yang dilakukan oleh Jo terhadapnya. "Tidak apa-apa, Tuan Caka. Saya bisa menerimanya."
Caka menghela nafas panjang. Beruntung semua orang yang ada di sekitarnya berhati besar.
"Mari, Tuan, biar saya antar ke dalam," ucap Caka seraya membuka pintu ruangan William. Kebetulan di dalam sana, ada Eliana dan keluarga yang lain.
__ADS_1
Namun, fokus Ervin malah tertuju pada ranjang di samping William. Seorang gadis cantik yang ia yakini adalah anak tiri Lena. Ternyata gadis ini pula yang membuat William tergila-gila.
"Dia milikku, anda tidak bisa menatapnya terlalu lama!" cetus William dengan nada tak suka, yang membuat Ervin langsung tersadar.
Sekali lagi, pria paruh baya itu mengangkat sudut bibirnya ke atas. Dia mencoba menguasai diri meski rasa sesak akan kehilangan Deborah masih menyeruak. Setiap melihat William, dia juga teringat sang anak. Namun, dia juga harus sadar, kalau Deborah tidak mati di tangan pria itu.
"Aku datang ingin menjengukmu, Will, tapi maaf aku tidak membawa apa-apa," ujar Ervin mengatakan tujuannya. Namun, sama seperti Jo, reaksi William pun tak kalah dingin. Dia membuang muka, karena walau bagaimanapun Ervin adalah ayah Deborah. Bisa saja pria paruh baya itu melakukan rencana balas dendam padanya.
"Will," panggil Caka, merasa tak enakan pada Ervin yang tak disambut dengan baik.
Ervin menyentuh bahu Caka sekilas. Dia tahu situasi ini tidak mudah untuk dihadapi. Namun, dia pun sama terlukanya, karena harus kehilangan satu-satunya orang yang menjadi pegangan hidupnya.
"Will, Uncle tahu apa yang ada pikiranmu sekarang. Jujur saja, kemarin Uncle sangat-sangat marah karena mendengar kematian Deborah. Tapi begitu tahu cerita yang sebenarnya, amarah ini sedikit mereda. Karena Uncle tahu Deborah juga bersalah. Percayalah ... dia benar-benar mencintai kamu, sampai tak ingin ada satu pun wanita lain berada di dekatmu. Dan karena rasa cintanya, dia jadi kehilangan arah. Uncle tidak ingin membela diri, tapi kamu juga bersalah dalam hal ini karena sudah memanfaatkan putri Uncle meski kamu punya tujuan. Jadi, bukankah seharusnya kita saling memaafkan dan melupakannya saja?" ujar Ervin, meski William tak memberi waktu untuknya bicara. Dia adalah orang tua, dalam hal ini dia ingin lebih legowo dan menerima takdir Yang Maha Kuasa.
Mendengar itu, William merasa tergugah. Dia pun melirik ke samping di mana Bella berada. Ya, walau bagaimanapun sebenarnya dia pun sama-sama salah. Karena selama bertunangan dengan Deborah sikapnya tidak pernah baik, bahkan masih menyimpan wanita lain di belakang wanita itu.
"Uncle benar, tidak ada yang paling bersalah di antara kami berdua. Dan luka tusukan ini aku anggap sebagai salam perpisahan darinya. Dia wanita baik, andai tidak bertemu dengan ibunya," balas William setelah beberapa saat berlalu.
Dan Ervin langsung menganggukkan kepala. Perkataan William benar, andai dia mengontrol seluruh kegiatan mau pun komunikasi Deborah, mungkin sang anak tidak mungkin berhubungan lagi dengan ibunya yang serakah.
__ADS_1