Pemuas Sang Cassanova

Pemuas Sang Cassanova
Bab 68. Hai, Kita Bertemu Lagi


__ADS_3

Kedatangan William disambut dengan keterkejutan, sebab tak adanya konfirmasi dari sang tuan kalau pria itu akan datang lebih cepat. Karenanya beberapa dari mereka langsung terkena tembakan yang William loloskan.


Tak ingin kalah anak buah Dimitri langsung mengangkat senjata masing-masing dan membalas tembakan itu dengan merenteti William serta anak buahnya.


Dor! Dor! Dor!


William dan anak buahnya berusaha menghindari serangan musuh. Mereka berpencar menjadi beberapa bagian, seperti yang sudah diinstruksikan oleh sang tuan ketika mereka masih di perjalanan, guna mengepung gedung berlantai lima tersebut. Karena tidak mungkin orang-orang itu hanya berada di satu titik.


William berguling ke tanah untuk sampai di tempat persembunyian. Karena ia tidak boleh gegabah, atau ia yang akan terluka parah. Dia memberi isyarat pada anak buahnya untuk hati-hati dalam melakukan serangan. Dan mereka bergerak patuh. Beberapa anak buahnya terus beradu tembakan dengan para musuh. Hingga suara letusan memenuhi udara sore itu.


Burung-burung yang ada di pohon berterbangan sebagai insting mencari keselamatan diri, sementara kaca jendela sudah mulai pecah berhamburan akibat baku tembak tersebut.


Dan suara-suara gaduh itu membuat Derry terhenyak. Dia yang sedang menyiapkan persenjataan untuk menyambut kedatangan William, nyatanya sudah kecolongan. Dia segera berlari ke depan. "Sial, apakah dia sudah datang?"


Namun, tak disangka saat ia sedang menyusuri lorong, salah satu peluru melesat. Dia langsung menjatuhkan diri, agar timah panas itu lolos melampaui tubuhnya.


"Ck, benar-benar sial! Itu pasti William!" maki Derry sambil menggebrakan tangannya di lantai. Dia segera bangkit dan saat melihat anak buahnya yang berlarian, dia pun segera menarik salah satu dari mereka.


"Apakah dia sudah datang?" tanya Derry sambil mencengkram kuat baju pria itu. Dan anak buahnya langsung mengangguk. Bahkan tanpa bertanya pun seharusnya Derry sudah tahu itu. William bukanlah orang yang bisa diremehkan.

__ADS_1


"Mereka sudah mulai berpencar, Tuan. Jadi sebaiknya anda hati-hati," ucap anak buah Derry, sehingga membuat cengkraman di bajunya langsung terlepas.


"Kalau begitu tetap bertahan di titik kalian. Supaya William tidak mudah menemukan Bella! Serang dia, bahkan bila perlu langsung bunuh saja!" cetus Derry dengan suara yang menggebu-gebu. Dia mulai mendendam sejak William selalu menggagalkan rencananya untuk menangkap Bella.


Detik selanjutnya Derry menggedikan dagu, supaya anak buahnya segera enyah dari hadapannya. Lalu dia segera memberi informasi pada tuannya, bahwa William sudah ada di tempat ini.


Sama halnya dengan Derry, Dimitri pun dibuat terkejut. Karena ternyata tak butuh waktu lama William menemukannya. Dia langsung menggeram dan menyeringai bengis, membuat Bella semakin ketakutan.


Dimitri melangkah ke arah gadis itu dengan satu pistol di tangannya. Dia membelai wajah Bella dengan lembut, tetapi sungguh semua itu membuat Bella resah. "Baiklah, kita lakukan sesuai permainan. Aku akan biarkan dia datang dan melihat kematianmu di sini. Kita lihat setidak berdaya apa dia nanti. Setelah itu, aku juga akan membunuhnya."


Tangis Bella langsung pecah, dia merasa bersalah benar-benar membuat William ada dalam bahaya. Dia kembali menggeleng, meski ia tahu semua itu tidak akan merubah keputusan Dimitri.


"Kumohon jangan, Tuan, jangan lakukan itu pada dia," pinta Bella dengan suara lirih. Akan tetapi masih mampu terdengar oleh telinga seseorang.


Sementara di luar sana, nafas William memburu begitu hebat, dia kembali mengintip dari balik persembunyian untuk melihat posisi musuh, agar tembakannya tepat sasaran.


Masih tersisa beberapa orang yang belum tumbang. Dia mengangguk ketika beradu pandang dengan anak buahnya. Dia menggerakkan tangan untuk membagi serangan. Dan dalam hitungan ketiga, mereka sama-sama keluar dari persembunyiannya sambil menarik pelatuk masing-masing.


DOR! DOR! DOR!

__ADS_1


William terus mengangkat senjatanya untuk menghabisi anak buah Dimitri yang berjaga di depan.


Para musuh langsung berjatuhan dengan bersimbah darah. Dan hal tersebut membuat William langsung menyeringai, jalan untuk menemui Bella sudah semakin lebar, pelan-pelan dia keluar dari persembunyian dan mulai masuk ke gedung tersebut. Dia harus mencari keberadaan Bella dengan cepat, atau Dimitri akan semakin banyak melukai gadis itu.


William mengendap-endap sambil sesekali menyelinap di beberapa ruangan. Karena gedung ini memiliki beberapa lantai ia yakin Dimitri memakai lantai paling atas, supaya bisa mengulur-ulur waktunya.


"Bertahan sebentar lagi, Honey, aku akan datang," gumam William dengan keringat yang sudah membasahi kemejanya. Dia berusaha mencari tangga yang menghubungkan lantai demi lantai, tak lupa ia juga mendobrak seluruh pintu ruangan. Untuk memastikan ada Bella atau tidak didalamnya.


Di setiap langkahnya William terus merasa waspada. Dia melirik ke kanan dan ke kiri, untuk mencegah adanya peluru yang menyasar ke tubuhnya.


DOR! DOR!


Dari arah yang berlainan William mendapatkan serangan tak terduga. Dia segera berlari untuk bersembunyi di belakang dinding. Dadanya berdegup kencang seiring nafas yang terasa ngos-ngosan.


Dia mengintip dengan ekor matanya yang tajam. Instingnya merasakan bahwa ada seseorang yang berjalan ke arahnya. Hingga detik berikutnya dia melompat keluar. Sambil menekuk kedua kakinya dia menarik kedua pelatuk pistolnya.


DOR! DOR!


"Argh!" erangan langsung terdengar nyaring.

__ADS_1


Setelah melihat musuhnya tumbang, dia segera berlari ke arah tangga. Dia naik ke atas hingga saat tiba di lantai tiga, William menajamkan penglihatannya. Dia sedikit menarik sudut bibirnya ke atas, karena ia berhasil bertemu dengan Derry.


"Hai, kita bertemu lagi," sapa William dengan suara yang bergema. Karena Derry ada di ujung lorong.


__ADS_2