Pemuas Sang Cassanova

Pemuas Sang Cassanova
Bab 42. Seperti Menemui Kebebasan


__ADS_3

"Astaga!" ucap Lena dengan reflek, karena terkejut dengan kehadiran William yang berdiri di belakang tubuh Bella. Sementara Bella langsung tersenyum sumringah, sebab ia sangat senang karena ternyata ia dapat menemukan tempat tinggal ibu dan kedua adiknya.


"Mamah," panggil Bella, tanpa segan memeluk wanita yang ada di hadapannya. Membuat Lena tersadar dari fokusnya terhadap William.


Lena meregangkan pelukannya pada Bella, kemudian menangkup kedua sisi wajah gadis itu. "Bel, ini beneran kamu?" Tanya Lena tak percaya, dan Bella langsung mengangguk sambil mengulum senyum.


"Ya Tuhan, akhirnya kita bisa bertemu lagi," lanjut Lena seraya merengkuh tubuh anak tirinya kembali. Beberapa saat mereka menuangkan rindu di hati masing-masing, bahkan saking asyiknya mereka sampai melupakan kehadiran William yang sedari tadi tak bersuara. Ya, karena helaan nafas saja sepertinya tidak ada.


"Ehem!" Pria itu berdehem keras, membuat Lena dan Bella langsung tersadar. Keduanya sama-sama menatap ke arah William. Namun, Lena merasa gagap, karena pria itu senantiasa melayangkan tatapan tajam.


"Bel, ini ...?" tanya Lena sedikit terbata, dia sedikit memalingkan wajah karena tatapan nyalang itu seperti ingin menembua jantungnya. Sementara Bella langsung mengambil posisi di samping tubuh William.


"Ini Tuan William, Mah," jawab Bella dengan ekspresi yang masih sama. Padahal waktu pertama kali Bella mengatakan tentang William, gadis itu sepertinya sangat ketakutan.


"Oh, ini yang namanya Tuan William?" Lena melirik sekilas, sementara William yang tak pandai berbasa-basi malah menghela nafas kasar, alih-alih berkenalan dengan Lena.


"Sampai kapan kita akan berdiri di sini?" cetusnya sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana. Kemudian menelisik suasana sekitar, di mana jalanan yang tak begitu ramai.

__ADS_1


"Ya ampun iya, maaf saya lupa, Tuan, mari masuk," balas Lena, mempersilahkan William untuk masuk ke dalam rumahnya. Tanpa permisi William langsung melangkah dengan congkak, bahkan mendahului sang pemilik. Seolah dia sudah tahu letak rumah ini.


Lena dan Bella saling pandang. Kalau Lena mungkin akan terkejut, karena mereka baru pertama kali bertemu. Lain dengan Bella yang sudah terbiasa dengan sikap pria itu. Wajah dingin dan seram itu hanya casing, karena nyatanya William jauh lebih hangat dari apa yang Bella bayangkan. Ya, meski hanya di atas ranjang.


William lebih dulu duduk di sofa, kemudian menepuk ruang di sisinya agar Bella duduk di sana. Namun, ia tak langsung patuh pada perintah William.


"Tuan, aku buatkan minum dulu ya," ujar gadis itu, karena tidak mungkin dia meminta Lena untuk melayani mereka berdua. Akan tetapi William tetaplah William. Orang yang tidak bisa dibantah, meski ia tahu Lena adalah ibu tiri dari gadis yang ada di hadapannya.


William menatap Lena dengan lekat, membuat wanita itu kembali bergerak gelisah. "Kita hanya tamu di sini! Jadi, jangan berlagak seperti Tuan rumah." Ujar William, membuat Bella merasa serba salah. Akan tetapi membantah William pun bukan keputusan yang tepat.


"Mah, maafkan sikapnya ya, aslinya dia baik kok," bisik Bella, sebelum akhirnya dia duduk di samping William. Lena pun tak bisa berkata apa-apa, dia hanya bisa mengangguk kemudian berlalu ke dapur.


Hingga tak berapa lama kemudian, suasana senyap nan canggung itu sedikit terpecahkan dengan kedatangan Lena. Wanita itu meletakkan dua gelas jus jeruk beserta camilan yang senantiasa tersedia di dalam kulkas.


"Mah, Ellen dan Alland masih di sekolah ya?" tanya Bella, mengajak sang ibu bicara, hingga Lena pun mengangkat kepala. Dia mengangguk sambil tersenyum.


"Iya, Bel, sebentar lagi juga Mamah harus menjemput mereka," jawab Lena. Kemudian mengambil posisi dengan duduk di sofa single dekat Bella. "Silahkan diminum, Tuan." Sambungnya ramah, tetapi sekali lagi respon William hanya sebuah lirikan.

__ADS_1


Bella hendak meraih gelasnya, tetapi William lebih dulu sampai. Dia sedikit meneguk minuman milik Bella, membuat kedua wanita itu sama-sama terperangah. Akan tetapi mereka berusaha untuk menutupi keterkejutan itu. Karena tak paham dengan sikap William yang seperti ingin Lena tahu, bahwa selamanya Bella takkan kembali ke keluarganya. Bella miliknya.


"Minumlah, ini cukup enak," ujar William seraya menyodorkan gelas itu ke depan mulut Bella. Bella sempat melirik ke arah Lena sekilas, kemudian meneguk minuman itu dengan pikiran yang tak menentu.


Mereka kembali diam, seperti kehabisan bahan obrolan, padahal sedari tadi hanya ada hening yang menyapa. Lena dan Bella tak leluasa, mereka hanya sesekali saling pandang, kemudian menunduk untuk mencari celah. Hingga tiba-tiba William mengeluarkan ponsel, karena sepertinya dia mendapat pesan dari seseorang.


"Aku ada urusan sebentar, jadi aku harus pergi. Kalau kau ingin tetap di sini, aku terpaksa meninggalkanmu," ucap William, dan Bella seperti mendapat kesempatan emas. Dia langsung mengangguk, inilah yang sedari tadi dia tunggu.


"Iya, Tuan, aku tunggu di sini saja," jawab Bella dengan cepat. Sementara Lena sedikit demi sedikit bisa bernafas dengan lega.


William langsung bangkit dan ikuti yang lain. Bahkan saat ia melangkah keluar pun, Bella dan Lena senantiasa mengekor. Sebelum masuk ke dalam mobil, William memberi pesan pada Bella. "Selagi aku tidak ada, anak buahku di mana-mana. Jadi, jangan terluka dan jangan gegabah."


Bella mengangguk patuh, dan William langsung memberikan kecupan selamat tinggal, tak peduli meski ada Lena di sana.


Cup!


"Nyonya, aku titip Bella. Saat urusanku sudah selesai, aku akan kembali menjemputnya," ucap William, dan Lena hanya bisa menganggukkan kepala.

__ADS_1


Dan setelah kepergian pria itu, Bella dan Lena langsung bernafas dengan lega. Seperti menemui kebebasan.


__ADS_2