Pemuas Sang Cassanova

Pemuas Sang Cassanova
Bab 94. Anda Bisa Bunuh Saya Sekarang


__ADS_3

"Kau ingin mengkhianatiku?" tanya William seraya menatap Jo dengan nyalang, sementara pistol yang semula menodong ke arah Freya, kini sudah beralih ke dada Jo.


Karena terhitung dua kali Jo mengambil keputusan tanpa melibatkan dirinya. Dari mulai menyembunyikan Freya, sampai membawa anak dari musuh mereka. Apa yang sebenarnya sedang Jo rencanakan?


William jadi berpikir ke mana-mana, karena sebuah pengkhianatan adalah sesuatu yang paling dia benci. Kalau sampai Jo melakukannya, maka dia pun tak akan memberi ampun.


"Jawab dengan lantang, apa kau bekerja sama dengannya dan membawa gadis itu untuk mengkhianatiku?" pekik William karena sedari tadi Jo hanya bergeming. Sementara dia adalah orang yang tidak memiliki kesabaran.


Jo meneguk ludahnya dengan getir, kemudian ambruk di depan tubuh William. Dia tahu apa yang ada di pikiran William saat ini, tetapi sumpah demi apapun dari awal dia hanya setia pada tuannya, tak ada niat sedikit pun untuk berkhianat.


Meskipun dia sadar kalau dia telah membohongi William, tetapi dia memiliki alasan tersendiri mengapa ia melakukan hal tersebut.


"Saya tidak pernah memiliki niat untuk mengkhianati anda, Tuan, saya berani bersumpah. Tapi kalau anda tidak percaya, anda bisa bunuh saya sekarang juga. Dan setelah itu saya mohon, hiduplah dengan baik dengan Nona Bella," jawab Jo dengan sungguh-sungguh. Dia mengangkat kedua tangan, seperti tengah menyerahkan diri kepada William.


Mendengar itu William mengeratkan gigi depannya hingga rahangnya benar-benar mengeras. Namun, bukannya mendapat sebuah tembakan, tubuh Jo malah terpental karena William menendangnya.


Bruk!

__ADS_1


Tubuh Jo menabrak dinding dan berakhir jatuh ke lantai. Sementara William menyimpan kembali senjatanya dan melangkah ke arah Jo dengan nafas yang memburu. "Jangan kau pikir aku tidak bisa melakukannya!"


William meludah, lalu menarik kerah baju Jo dengan kasar hingga pria itu kembali bangkit. Tanpa aba-aba William langsung memberikan bogem mentah, hingga tubuh Jo kembali terhuyung ke samping.


Namun, seperti tak puas dia mendekati Jo lagi, menarik bahu pria itu dan kembali memberikan pukulan yang sama, hingga hidung Jo mengeluarkan darah.


Sementara Freya yang menyaksikan itu hanya mampu membulatkan matanya. Karena dalam sekejap William sudah mengamuk seperti orang yang kesetanan. Dia melirik ke sana ke mari, dia ingin berteriak meminta pertolongan. Namun, melihat tatapan William yang berkilat, keberaniannya menciut seketika.


Jo berusaha untuk menegakkan tubuhnya, belum sempat membuat kuda-kuda William sudah menyerangnya. Beruntung Jo masih bisa menguasai diri, hingga dia menahan setiap serangan sang tuan.


Dan hal tersebut malah membuat William terlihat semakin marah. "Balas aku, Sialan!" teriak William. Nafas pria itu menderu hebat, dia belum mau berhenti sebelum amarah di dadanya mereda.


"Argh!" Jo mengerang saat William berhasil memukul perutnya. Dia mundur beberapa langkah dengan keringat dan darah yang mulai menetes. Sementara sang tuan masih berdiri dengan gagah dan dengan tatapan yang sama.


Jo akui William adalah pria yang nyaris sempurna. Bagaimana tidak, sang tuan memiliki paras yang tampan, uang yang banyak, bisnis di mana-mana, dan juga pandai dalam berkelahi, baik dengan senjata maupun tangan kosong. Untuk itu dalam satu kedipan mata, William bisa memilih wanita mana yang hendak dikencaninya.


Namun, bukankah manusia tidak hanya hidup untuk itu? Semua memiliki masa, ketika sekarang William berjaya, maka ada saatnya pria itu akan menua dan roda kehidupan berubah.

__ADS_1


Yang Jo inginkan adalah hal sederhana, yakni melihat tuannya hidup dengan satu wanita dan memiliki keluarga kecil yang harmonis. Karena mengingat umur William sudah kepala tiga, mau sampai kapan William terus menyalurkan gairahnya pada tiap lubang yang berbeda?


Tiba-tiba William sudah ada di depan Jo, dia kembali mencengkram kerah baju asistennya. Namun, sebelum William melanjutkan niatnya, seketika Jo buka suara. "Saya bekerja sama dengannya hanya karena ingin Nona Bella tetap berada di sisi anda, Tuan. Karena saya yakin, Nona Bella bisa membuat anda berubah. Maafkan saya karena sudah berbohong dan membuat anda salah sangka."


Mendengar itu, William bergeming dengan tangan yang terkepal di udara. Sementara Jo berusaha melunakkan hati sang tuan, dia tahu William tidak benar-benar ingin membunuhnya. Pria itu hanya sedang kecewa.


"Dan mengenai gadis itu, saya benar-benar tidak memiliki maksud apapun. Hati saya yang bergerak untuk membawanya, sama seperti anda ketika memutuskan untuk menolong Nona Bella," sambung Jo, dia sedikit meringis karena sudut bibirnya memang terluka.


Otak William seperti sedang disetel, karena memori yang telah lalu seolah berputar-putar. Ya, bukankah pada awalnya dia menolak Bella, tetapi entah dengan alasan apa, dia malah membiarkan gadis itu bertahan di sisinya. Bukan hanya tentang kepuasan gairah, tapi perlahan-lahan dia juga lengah, hingga akhirnya jatuh cinta pada Bella.


"Saya tidak lebih hebat dari anda, Tuan. Bahkan saya tahu persis bagaimana keluarga anda, andai saya berkhianat, bukan hanya anda yang menginginkan nyawa saya."


Akhirnya tangan William kembali ke posisi semula. Sementara cengkraman itu terlepas dengan kasar, hingga membuat Jo hampir terjatuh.


"Kenapa bisa aku mendengarkan mulut sialanmu!?" cetus William alis dengan alis menaut tajam. Namun, di dalam hatinya ia percaya pada ucapan Jo, dia adalah asisten setia. Andai ia ragu, mungkin sedari tadi ia sudah menebakkan pistol ke jantung pria itu.


William memutar badannya dan melangkah pergi. Saat melewati Freya, pria itu melayangkan tatapan buas, seperti seekor singa yang akan menelan mangsanya hidup-hidup.

__ADS_1


"Asal kau tahu, dia sudah pandai berbagai macam gaya sekarang!"


Freya langsung memelototkan matanya, sementara William kembali melangkah sambil mengibaskan jasnya.


__ADS_2