Pemuas Sang Cassanova

Pemuas Sang Cassanova
Bab 58. Wanita Apartemen Sebelah


__ADS_3

William tidak mengindahkan apa yang dilakukan oleh Dimitri. Dia melanjutkan langkah, meski darah terus mengalir membasahi lengannya. Pemandangan itu tentu membuat Dimitri mengerutkan dahinya, William benar-benar tak bisa ditebak.


Saat sudah di dalam mobil, William langsung menyalakan mesin dan membawa kendaraan roda empat itu. Dia fokus pada jalanan sambil beberapa kali meringis, karena rasa nyeri di lengannya mulai terasa. Apalagi peluru masih bersarang di sana.


Hingga tiba di sebuah jalanan yang cukup sepi, William segera menepikan kendaraannya. Dia melepas jas dan juga kemeja yang membungkus tubuh kekarnya, hingga ia bisa melihat luka yang dihasilkan oleh tembakan Dimitri.


Beruntung peluru menancap tak terlalu dalam. William segera mencari pisau yang biasa ia letakkan di dalam mobil untuk berjaga-jaga. Dia menyayat lengannya sendiri dan berusaha mengambil peluru tersebut.


Begitu dicabut William langsung berteriak kencang. "Argh!" Karena rasanya memang sangat sakit. Setelahnya William menyobek sebagian kemeja untuk membungkus lengan, upaya untuk menghentikan pendarahan.


Sebelumnya William sudah pernah mendapatkan luka yang sama, karena itu ia bisa bersikap jauh lebih tenang. William kembali mengendarai mobilnya menuju apartemen. Sementara kini ia hanya bertelanjang dada.


Sementara di sisi lain, Leo yang sudah sangat bergairah nyaris tak mampu membendung semuanya. Dia hampir menerjang pria yang ada di sebelahnya, karena gelap mata tetapi anak buah William langsung menyadarkannya.


"Sebentar lagi kita sampai, Tuan, mohon bersabarlah," ucap anak buah William sambil fokus menyetir. Dia membelokan kendaraan roda empat itu menuju basemen apartemen.


Sementara Leo sudah mengguyur wajahnya dengan air, tetapi nyatanya semua itu tak berhasil. Panas di dalam tubuhnya tak kunjung mereda. Hingga saat tiba di apartemen, Leo langsung berlari menuju lift. Disusul dengan anak buah William yang senantiasa mengikutinya.


"Tuan," panggil anak buah William saat ingin menyentuh pria itu. Namun, Leo malah menangkisnya dengan wajah yang sudah merah padam. Karena menahan hasrat yang tak kunjung dikeluarkan.

__ADS_1


"Menyingkirlah. Aku bisa mengatasinya sendiri," ucap Leo berusaha yakin, bahwa ia bisa menghilangkan efek obat tersebut. Karena dia adalah seorang dokter.


"Tapi, Tuan, biar saya antar sampai atas," ujar anak buah William sambil menunggu pintu lift terbuka.


Nafas Leo sudah terengah-engah dengan jantung yang berdebar kencang. Dia terlihat sangat gelisah, dan semakin over sensitif terhadap sentuhan di sekitarnya. Sial memang, karena pengaruh obat itu ternyata sangat manjur di tubuhnya.


"Tidak perlu!" Kemudian saat pintu lift terbuka, Leo segera berlari masuk. Beruntung tidak ada orang lain di sana.


Leo menjambak rambutnya sendiri, untuk menetralisir rasa yang terus menggerogoti gairahnya. Dia melakukan apa pun, hingga pintu lift kembali terbuka. Leo berlari tergopoh-gopoh, untuk sampai di apartemen William.


Saat ia hendak memencet password, ternyata pintu lebih dulu terbuka. Menampilkan seorang wanita cantik dengan piyama tidur yang sedikit terbuka. Akal sehat Leo kembali redup, melihat pemandangan indah di hadapannya.


Belum sempat si wanita bertanya, Leo sudah menerjang lebih dulu. Membuat wanita itu terdorong masuk. Ya, Leo telah salah unit. Karena unit apartemen William ada di sebelahnya.


Padahal Leo sudah percaya diri untuk tidak menyentuh siapa pun karena pengaruh obat ini. Namun, kenyataan telah memberikan bukti telak. Bahwa dia telah kalah.


Tak peduli siapa wanita yang sedang ada dalam kendalinya. Leo terus mencumbu dengan gerakan tergesa. Karena yang ada di dalam otaknya sekarang hanyalah sebuah pelepasan.


"Tuan, anda ini siapa? Kenapa anda—" Bicara saat ada kesempatan, tetapi tak membuat Leo menghentikan serangannya yang membabi buta.

__ADS_1


Karena memakai piyama yang begitu mudah dibuka, alhasil dalam satu kali tarikan Leo dapat melihat keindahan yang semakin terpampang nyata. Leo mendorong tubuh wanita itu ke sofa, hingga nyaris membuatnya terjungkal.


Dan dengan tidak tahu malunya, Leo membiarkan wanita itu melihat seluruh tubuhnya yang dipenuhi kotak-kotak seperti roti sobek.


Wanita itu terbelalak lebar. Saat diperhatikan ternyata ia cukup mengenali Leo, pria ini adalah orang yang tinggal di sebelah apartemennya. Beberapa kali kesempatan ia pernah melihat Leo, tetapi entah dengan pria itu.


"Astaga!" Wanita yang larut dalam lamunan itu menjerit, karena tiba-tiba Leo sudah melahap salah satu dadanya. Seperti seorang bayi yang sedang merasakan dahaga, Leo menyesapnya dengan begitu kuat.


"Akhh ...." Wanita itu mendesaah tanpa dipinta, karena untuk pertama kalinya ia merasakan sesuatu yang begitu lumrah untuk ukuran orang yang sudah menikah. Namun, nyatanya semua itu terasa tabu baginya. Sudah hampir enam bulan menikah, nyatanya ia tak mendapatkan hak itu dari suaminya.


Dan sekarang ia malah bercumbu dengan pria lain, yang bahkan tidak dikenalnya sama sekali. Ya, tahu namanya saja tidak! Namun, tak dipungkiri paras Leo memanglah sangat tampan. Hingga membuat wanita itu semakin jatuh dan terlena.


"Mendesaahlah lebih keras, aku menyukainya," lirih Leo setelah berhasil membuat sang wanita merasa basah. Suara berat itu semakin membuat tubuh mungil yang ada di bawahnya bergetar.


Kewarasan keduanya mendadak hilang, hanya karena satu tujuan yang sama. Yakni sebuah nirwana yang tak pernah mereka capai. Bahkan sang wanita sampai lupa akan suaminya yang sedang bekerja lembur di perusahaan.


Dia terlalu penasaran dengan rasa yang selanjutnya. Hingga tiba saat Leo memasuki dirinya, dia mencakar bahu Leo dengan keras hingga menyisakan luka kemerahan yang tak seberapa.


Leo bergeming sesaat ketika ia berhasil menembus batas milik wanita yang entah siapa itu. Satu yang dia sadari, bahwa ia telah merenggut sesuatu yang berharga.

__ADS_1


__ADS_2