
Karena mendengar seruan Ellen yang melihat Bella. Lena pun mencoba berbalik arah, tetapi sayangnya jalanan sedang macet, jadi dia tidak bisa membawa mobil dengan leluasa. Dia terpaksa mengikuti rambu lalu lintas yang ada, dan berharap Bella masih ada di sana.
"Sayang, kamu yakin itu Kak Bella?" tanya Lena untuk yang kesekian kali, takut kalau Ellen salah lihat.
"Aku yakin, Mah. Kak Bella tadi duduk dengan seorang pria," jawab Ellen dengan menggebu, karena dia tidak sedang melamun. Dia sadar dengan sesadar-sadarnya melihat sang kakak.
Lena pun menghela nafas, kemudian melirik ke sana ke mari, nyaris tidak ada celah untuk kendaraan roda empat miliknya. Hingga membuat Ellen nekat untuk turun. "Mah, bagaimana kalau aku yang temui Kak Bella. Aku takut Kak Bella dibawa pergi lagi."
Namun, Lena takkan mungkin membiarkan putri kecilnya bertindak gegabah. Karena bisa saja nanti Ellen terluka. Wanita itu pun segera menggelengkan kepala. "Tidak, Ellen. Kita sabar saja, di depan ada belokan."
Ellen mengerucutkan bibir, kemudian melirik ke belakang sana. Dia merasakan sebuah firasat buruk, tetapi membantah sang ibu juga bukan pilihan yang baik. Hingga saat mobil Lena berputar arah, mereka langsung mencari sosok Bella yang tadi duduk di dekat danau.
Namun, sampai beberapa saat berlalu, mereka tak kunjung menemukan Bella. Karena ternyata Bella sudah pulang bersama Leo.
"Sepertinya kamu salah lihat, Ellen," ujar Lena setelah berkeliling mengitari tempat tersebut.
"Tidak, Mah. Aku tidak salah lihat, pasti Kak Bella sudah pergi karena kita terlalu lama," balas Ellen kekeuh, tetapi mau bagaimana pun upaya mereka tak membuahkan hasil. Dan akhirnya Lena pun memutuskan untuk kembali pulang.
"Sudahlah, nanti lain kali kita cari lagi. Kasihan adikmu di rumah, pasti dia menunggu kita pulang," ujar Lena sambil mengusap kepala Ellen.
"Tapi, Mah, apa tidak sebaiknya kita cari Kak Bella dulu di sekitar sini."
__ADS_1
"Kita bisa pakai mobil, tapi kalau tidak ada juga. Kita pulang saja ya ... karena daerah ini luas, kita tidak tahu Kak Bella tinggal di tempat yang mana."
Ellen terpaksa mengangguk, kemudian mengikuti langkah sang ibu untuk kembali masuk ke dalam mobil.
***
Sedangkan Bella dan Leo baru saja tiba di apartemen. Saat membuka pintu mereka langsung disambut oleh William yang tengah berdiri dan masih berpakaian lengkap. William menatap keduanya dengan lekat, hingga membuat Bella gelagapan.
Namun, baru saja Bella akan bicara, tiba-tiba perutnya terasa mual, hingga dia berlari meninggalkan William dan Leo. Di depan wastafel, Bella memuntahkan apa saja yang ada di dalam perutnya.
"Huwek! Huwek!"
Leo dan William sama-sama terperangah, mereka saling tatap dan tiba-tiba William mencengkram kerah baju Leo. "Apa yang sudah kamu lakukan padanya?!" Sentak William.
Mendengar itu, cengkraman William langsung melemah. Sementara mata pria itu terbelalak dengan lebar, benarkah Bella hamil? Rasanya tidak mungkin, karena gadis itu memakai alat kontrasepsi.
Leo sedikit menyenggol bahu William dan segera menghampiri Bella. Akan tetapi William tak mau kalah, dia pun melangkah lebar, kemudian mendorong Leo yang hendak berdiri di sisi Bella. "Minggir kau!"
Ck! Leo berdecak keras. Sedangkan William berusaha mengkonfirmasi apa yang baru saja sepupunya ucapkan. "Bel, kau meminum pil itu dengan benar 'kan?" Tanya William, bukannya membantu pria itu justru membuat Bella terhenyak.
Bella yang masih merasakan gejolak di perutnya berusaha menatap William. Mencoba mencari jawaban atas apa yang pria itu pikirkan.
__ADS_1
"Dasar bejad!" maki Leo seraya menarik tubuh William agar menjauh dari Bella. Bisa-bisanya William melayangkan pertanyaan seperti itu, apakah jika Bella hamil William tidak akan menerimanya. "Kau hanya berani berbuat ternyata!"
"Aku hanya memastikan!" teriak William dengan mata yang sudah menyalak. Di saat seperti ini keduanya malah bertengkar, tak memperhatikan Bella yang kembali memuntahkan isi perutnya.
"Huwek, huwek!"
Leo melirik Bella, kemudian mengusap-usap punggung wanita itu. Dan tentunya William merasa tak terima. Namun, dia seperti tak ingin menunjukkan kecemburannya. Dia terus berdiri di sana dengan tangan mengepal. Sementara Leo berusaha menerka-nerka apa penyebab Bella sampai muntah-muntah.
Sampai akhirnya William tak tahan, dia pun segera menepis tangan Leo, kemudian merengkuh tubuh Bella yang sudah mengeluarkan keringat dingin. "Aku akan membawanya ke rumah sakit."
Tanpa menunggu jawaban, William langsung menggendong tubuh Bella yang sudah melemah. Bahkan bibirnya berubah menjadi sangat pucat.
Langkah William terasa lebar dan tergesa, sementara Bella kembali merasa mual, dia tidak enak jika harus muntah di gendongan pria itu jadi dia berusaha menahannya.
"Keluarkan saja, aku tidak akan marah," ucap William yang melihat Bella beberapa kali menggembungkan mulutnya. Dia membiarkan gadis itu mengotori bajunya. Karena saat ini semua itu tidak penting.
"Huwek!" Tanpa pikir panjang, Bella langsung muntah di dada William. Sementara William hanya diam saja, fokusnya hanya berjalan ke basemen dan segera membawa gadis itu ke rumah sakit. Untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi pada Bella.
Sepanjang perjalanan kondisi Bella semakin tak memungkinkan. Membuat perasaan William bertambah cemas. Benarkah Bella hamil? Namun, kenapa menyiksa seperti ini?
Hingga saat tiba di rumah sakit, William langsung berteriak meminta pertolongan agar Bella segera ditangani. Dan ternyata Leo pun turut mengekor di belakang William, hingga ia bisa melihat langsung bagaimana William si gila yang gengsinya selangit itu mengamuk.
__ADS_1
Serangkaian pemeriksaan dijalani, hingga akhirnya dokter memberitahu William bahwa Bella mengalami keracunan. Ya, sebab minuman yang baru saja gadis itu beli sudah dicampur dengan racun, Bella tak sadar kalau ternyata pedagang itu adalah salah satu orang bayaran yang menginginkan nyawanya.