Pemuas Sang Cassanova

Pemuas Sang Cassanova
Bab 59. Bella Merajuk


__ADS_3

Saat William tiba di basemen apartemen, Bella yang sedari tadi menunggu di dalam mobil langsung bergegas untuk keluar. Dengan hati yang cemas dia menjadi orang pertama yang menghampiri William, meski pun pria itu belum mematikan mesin mobil.


Pintu terbuka, William yang hanya bertelanjang dada sudah nampak pucat, karena kehilangan banyak darah. Hingga saat ia hendak berjalan, Bella menopang tubuh William yang hampir limbung, karena tak memiliki keseimbangan.


"Tuan, apa yang terjadi pada anda?" tanya Bella dengan perasaan khawatir yang mendarah daging, apalagi melihat lengan William yang dipenuhi oleh darah.


Melihat keadaan Tuannya yang tampak lemah. Dua orang yang sedari tadi menemani Bella pun ikut menghampiri William. Karena sepertinya sang tuan mengalami luka yang cukup serius.


"Aku akan memanggil dokter ke mari," ucap salah satu dari mereka. Sementara yang lain membantu Bella untuk membawa William naik ke unit apartemen.


Saat tubuh William dibaringkan, pria itu justru membuang bantal yang ada di kepalanya, berpindah ke paha Bella. Di sana ia merasa lebih nyaman.


Hal manis itu membuat Bella mengulum senyum. Namun, sumpah demi apa pun hati Bella belum merasa lega sebelum William ditangani. Hingga akhirnya dia kembali melayangkan sebuah pertanyaan, sambil mengusap rahang pria itu. "Tuan, sebenarnya anda kenapa?"


William menatap lekat mata Bella yang menyiratkan sebuah kecemasan. Dia meraih tengkuk Bella dan melumaat bibir gadis itu dengan lembut, tak peduli meski ada satu anak buah yang melihatnya.


Sementara Bella tak bisa menolak, dia hanya menikmati semua yang diberikan oleh William. Hingga setelah pria itu puas menyesap dan menelusuri tiap celah di mulut Bella, dia melepaskan tautan tersebut.


"Kalau aku pulang dan menciummu seperti tadi, itu artinya tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Siap-siap saja untuk melayaniku setelah ini," ucap William dengan raut meyakinkan. Namun, dengan berani Bella mencubit perut William, kemudian mengerucutkan bibir.


"Anda tidak tahu bagaimana cemasnya aku ketika melihat anda yang seperti ini!" cetus Bella sambil menghembuskan nafas. Tak peduli William akan bersikap seperti apa padanya, yang jelas dia kesal pada pria itu.


"Jangan memasang wajah seperti itu di depanku!" cetus William, tanpa membujuk Bella, benar-benar tak memiliki sisi romantis sedikit pun.


"Kalau begitu singkirkan kepala anda dari pahaku!" Bella semakin berani, bahkan nyaris menggeser diri agar kepala William jatuh ke atas ranjang. Namun, secepat kilat William menahan tubuh gadis itu agar tetap di tempatnya.

__ADS_1


"Kau mau mengujiku?" ucap William dengan tatapan yang semakin menajam. Agar keberanian Bella menciut, tetapi ternyata semua yang William lakukan sia-sia. Gadis itu malah membuang wajah sambil membalas ucapannya.


"Tidak. Aku tahu aku tidak penting, karenanya anda tidak pernah mau mengerti. Bahkan untuk sekedar pamit pun tidak anda lakukan!"


Malam ini William dibuat terperangah oleh sikap Bella. Akhirnya dia menggerakan tangan supaya anak buahnya pergi dari kamar. Setelah itu ia bangkit dan menatap Bella yang nampak merajuk. Bukan dirinya sekali jika harus membujuk seorang wanita, hingga yang ia lakukan adalah memegang dan meraih tengkuk Bella.


Dia kembali menyesap bibir gadis itu karena sudah terlalu banyak bicara. Sementara Bella dibuat mematung, niat hati ingin membuat William merasa bersalah. Kini ia justru hanyut dalam sentuhan pria itu.


Bella sedikit mendorong dada William ketika pria itu sudah memangkunya. Dia tidak ingin hal yang lebih jauh terjadi, sebab mengingat keadaan William yang tidak memungkinkan.


"Berbaringlah, anda ini masih sakit!" cetus Bella memperingati pria itu. Namun, yang namanya William tidak akan mendengar apa kata orang lain.


"Kau yang mengujiku untuk melakukan lebih. Sudah ku bilang hentikan, tapi kau masih memasang wajah seperti itu!" balas William sambil menatap Bella dengan lekat, hingga membuat gadis itu berubah salah tingkah.


"Tapi lengan anda terluka. Mana bisa kita melakukan—" Belum sempat selesai, William kembali merengkuh pinggangnya, hingga tubuh mereka saling berhimpitan. Detik selanjutnya Bella membalas tatapan William tak kalah dalam.


Saat William hendak menyatukan kembali bibir mereka, tiba-tiba pintu diketuk. Membuatnya berdecak keras. Ternyata dokter sudah datang.


Sialan!


.


.


.

__ADS_1


Karena fokus mengobati William, mereka sampai melupakan keberadaan Leo. Ya ke mana pria itu? Apakah ada di kamarnya? Tetapi kenapa terasa sangat sunyi sekali, seperti tak ada tanda-tanda kehidupan.


Bella ingin mengecek kamar Leo, tetapi William menahannya. Dia ingin gadis itu tetap berada di sampingnya sepanjang malam.


"Biar mereka saja!" ucap William, kemudian menepuk ruang kosong di sampingnya. Bella ingin membantah, tetapi rasanya percuma. Hingga akhirnya dia pun memilih untuk naik dan berbaring di samping William.


Sementara dua anak buah dan satu dokter tadi keluar. Mereka pamit dengan sopan, lalu mulai mencari keberadaan Leo yang sedari tadi tak terlihat batang hidungnya.


Mereka nampak terperangah, karena ternyata Leo tidak ada di kamarnya. Begitu juga di tempat lain. Lalu ke mana pria itu pergi? Padahal jelas-jelas Leo naik menggunakan lift.


Jangan-jangan!


Pikiran dua orang itu seperti searah, mereka mengira bahwa Leo salah kamar. Alhasil mereka pun keluar dari apartemen William dan kembali berusaha mencari keberadaan pria itu.


Saat mereka hendak masuk ke dalam lift, tiba-tiba satu pintu dari unit apartemen lain terbuka. Atensi mereka teralihkan, apalagi saat seorang wanita cantik keluar dari sana.


Wanita bernama Alea itu berjalan ke arah anak buah William. Kemudian berkata. "Tuan, bisa kah kalian membantu saya?"


Mendengar itu keduanya pun langsung tersadar.


"Membantu apa, Nona?" tanya salah satu dari mereka.


"Pria yang tinggal di sebelah apartemenku mabuk dan tiba-tiba menerobos masuk ke apartemenku. Sekarang dia tertidur di sofa, aku takut suamiku datang. Bisa bantu untuk memindahkannya tidak, nanti saya bayar!" ujar wanita itu dengan sedikit memohon.


Mata kedua pria itu kembali membola. Mereka saling pandang dan akhirnya menganggukkan kepala. Saat masuk ke apartemen wanita itu, mereka mendapati orang yang mereka cari sedari tadi.

__ADS_1


"Astaga, Tuan Leo, ternyata anda di sini," kompak keduanya.


__ADS_2