
Zack memang sengaja masuk ke kamar lain, untuk melihat bagaimana reaksi Bella. Ternyata benar gadis itu tahu betul letak tempat tidur William di mana. Itu artinya, Bella sudah mengenal William cukup baik. Bahkan sampai disediakan kamar pula.
"Lalu bagaimana hubungannya dengan Deborah? Apakah William masih bermain-main di belakang tunangannya?" gumam Zack, saat sudah di kamar William. Dia mengedarkan pandangan, andai bukan karena berpura-pura, dia tidak mungkin masuk ke ruangan ini, karena William seperti tak ingin area privasinya dimasuki oleh orang lain.
"Haruskah aku mencari tahu tentang gadis itu? Tapi ... William bukanlah orang yang ceroboh, dia tidak mungkin asal menampung orang, apalagi gadis itu tidak aku kenal sama sekali." Zack kembali bergumam sambil berpikir bagaimana baiknya.
Hingga akhirnya dia memutuskan untuk keluar. Karena di kamar William, dia tidak akan menemukan klu apa pun. Kecuali sederet persenjataan yang disimpan di dalam lemari.
"Tuan, anda sudah menemukan apa yang anda cari?" tanya Bella, menyambut Zack yang baru saja menutup pintu. Pria itu langsung berjengit, karena terkejut dengan kemunculan Bella yang begitu tiba-tiba.
"Ehem, sudah. Dan sekarang aku harus pergi lagi," balas Zack, masih berusaha untuk menjadi William. Dan dengan bodohnya Bella percaya begitu saja, gadis itu mendekat ke arah Zack, kemudian berjinjit untuk sekedar mengecup pipi pria itu.
Deg!
Sontak saja Zack melebarkan kelopak matanya. Dengan reflek ia mundur, tetapi sayang semua itu sudah terjadi. Saat Zack mengangkat kepala, seolah ada bayangan sang istri tengah menatapnya dengan tajam, hingga ia meneguk ludahnya kasar.
Ampun, Fen. Ini semua bukan kesengajaan. Batin Zack, dengan jantung yang senantiasa berdebar.
"Hati-hati ya, aku akan menunggu anda pulang," ujar Bella dengan senyumnya yang mengembang, khas gadis polos yang baru saja mengenal dunia percintaan.
Zack tergagap, tetapi dia berusaha untuk menguasai dirinya agar Bella tidak curiga. Yang perlu dia lakukan sekarang hanyalah keluar dan kembali ke rumah. Atau Bella akan terus merontokkan jantungnya, dan membuat ia semakin merasa bersalah pada Fenita.
"Kalau begitu aku keluar dulu, permisi," ucap Zack, lalu tanpa menunggu balasan Bella ia langsung berjalan cepat menuju pintu. Dia seperti sedang dikejar oleh hantu.
Bella hanya sedikit mengeryit, karena sepertinya William sedang terburu-buru, sampai begitu enggan berlama-lama dengannya. Padahal biasanya pria itu akan membalas lebih dari apa yang ia berikan.
"Mungkin dia akan memberikannya nanti malam," ucap Bella sambil terkekeh kecil, kemudian berjalan riang menuju dapur untuk menyelesaikan sarapannya.
__ADS_1
***
Sampai hari sudah gelap, ternyata William tak kunjung pulang. Bella menunggunya dengan harap-harap cemas, karena pria itu tak memberikan kabar apa pun.
"Hei, makanlah dulu, kenapa harus memikirkan berandal seperti William? Dia tidak akan kenapa-kenapa," ujar Leo yang sudah pulang lebih dulu. Kini mereka sudah ada di meja makan, dan Leo sedang menyantap hidangan yang dibuat oleh Bella.
"Tapi, Kak ... sudah dari siang dia pergi, tentu saja aku khawatir," balas Bella dengan gurat kecemasan. Leo tidak akan memahami itu, karena dia belum memiliki sosok yang dicintainya.
"Haish, dia sudah besar. Bahkan ularnya sudah menyembur ke mana-mana. Tidak mungkin dia membiarkan perutnya kelaparan! Sudah jangan pikirkan William, tidak penting!" cetus Leo tanpa perasaan.
Mendengar itu bibir Bella langsung mengerucut. Dan sialnya terlihat sangat menggemaskan di mata Leo.
"Jangan pasang wajah seperti itu!"
"Suka-suka aku! Kalau memang mengganggu, ya jangan lihat!" sentak Bella sambil melipat kedua tangan di depan dada. Tak ingin melihat ke arah Leo. Sungguh sikap Bella sangat kekanak-kanakan.
"Apa?" Bella yang masih mendengar ucapan Leo langsung memelototkan mata. Sementara Leo hanya mengedikan bahu.
.
.
.
Setelah satu jam berlalu, ada suara pintu terbuka. Membuat Bella langsung bergegas dengan harapan kalau itu adalah William. Benar saja, pria itu pulang. Namun, dia tidak sendirian, melainkan bersama sang asisten, sebab William terlihat mabuk.
"Asisten Jo, Tuan William kenapa?" tanya Bella dengan kening yang berlipat-lipat. Dia juga menyadari kalau pakaian yang dikenakan William berbeda dengan yang tadi siang. Namun, karena suasana sedang tidak mendukung Bella menyimpan pertanyaan itu.
__ADS_1
"Tuan William mabuk, Nona. Dia habis bertemu dengan temannya, dan sepertinya Tuan minum terlalu banyak," jawab Jo sambil berusaha menahan bobot tubuh William yang cukup berat.
Tadi siang setelah berpisah dengan Deborah, William tak langsung pulang. Ada beberapa urusan yang harus dia tangani, hingga akhirnya dia bertemu dengan teman lama. Mereka mengobrol sambil menikmati minuman di sebuah bar sampai akhirnya William lupa diri.
Bella ikut membantu Jo untuk memapah tubuh William sampai di dalam kamar. Dengan nafas terengah-engah, mereka merebahkan tubuh kekar itu ke atas ranjang.
"Asisten Jo, terima kasih ya," ucap Bella sebelum Jo pergi meninggalkan apartemen.
"Tidak perlu, Nona. Karena semua itu memang sudah tugas saya," jawab Jo, sebagai asisten dia harus siap melakukan apa saja untuk sang tuan. Meski ia sadar bahwa hari ini hari libur untuknya. "Kalau begitu saya permisi."
"Asisten Jo tidak ingin makan malam dulu? Aku habis memasak dan makananya masih banyak karena Tuan tidak pulang-pulang."
Jo mengurungkan niatnya untuk langsung kembali ke rumah. Benar, juga belum makan malam karena harus menjemput William terlebih dahulu.
"Ya sudah, saya makan dulu. Tapi Nona tidak perlu melayani saya, Tuan lebih membutuhkan anda," ujar Jo, dan Bella langsung mengangguk.
Setelah kepergian Jo, Bella melepaskan sepatu William. Agar pria itu bisa beristirahat dengan nyaman, ketika ia ikut merebahkan diri, tiba-tiba mata William terbuka. Terlihat masih setengah sadar.
"Kau datang untuk menjemputku?" tanya William sambil menangkup satu sisi wajah Bella.
"Tidak, Tuan kan sudah di kamar," jawab Bella apa adanya.
William menyunggingkan senyum mendengar jawaban itu. "Rupanya kau sudah tidak takut padaku. Kenapa? Kau mulai nyaman?" tanya William dengan bau alkohol yang menyeruak.
Bella bergeming, tak tahu harus menjawab apa. Karena William tidak akan mungkin memahami ucapannya dalam kondisi seperti ini.
Cukup lama mereka saling terdiam, William memajukan wajah dan kembali bersuara. "Apa pun yang kau rasakan padaku. Aku tidak peduli. Tapi yang jelas, kelak kau harus percaya pada ucapanku."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, William memeluk perut Bella dan membenamkan wajahnya di dada gadis itu. Dia terlelap.