Pemuas Sang Cassanova

Pemuas Sang Cassanova
Bab 84. Hukuman Pertama


__ADS_3

Bella masih tak percaya kalau pria yang kemarin berdarah-darah demi menyelamatkannya, kini sudah membuka mata dan terus menatap ke arahnya. Namun, mendadak ludahnya tercekat, hingga ia tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.


Bella membeku di tempatnya. Otak dan hati mendadak berkecamuk, seperti berbisik di telinga kanan dan kiri. Hingga satu pertanyaan tercetus lagi, apakah semua ini mimpi?


Tidak! Bahkan dia dapat merasakan genggaman tangannya yang berkeringat. Orang yang ada di hadapannya benar-benar William, tetapi kenapa rasanya ia tidak bisa mengekspresikan diri untuk segera melangkah atau bahkan memeluk pria itu.


Apa karena ada Caka dan Eliana? Hingga dia ragu untuk mendekat. Padahal sang pria tak melepaskan ia dari tatapan yang membelenggu.


"Kenapa diam saja? Ke mari!" ucap William seraya menggerakkan jari-jarinya yang lemah. Sementara Bella hanya bisa membalas semua itu dengan bola mata yang memerah dan berkaca-kaca.


Melihat sang gadis yang senantiasa bergeming, William sedikit mengangkat sudut bibirnya ke atas. "Kau tidak senang aku bangun? Atau kau memang ingin aku tetap tidur untuk selama-lamanya. Cih, kau benar-benar berani sekarang!"


Tidak mungkin, tidak mungkin kalau dia menginginkan hal seperti itu. Karena pada kenyataannya, ia juga menjadi orang yang paling sedih melihat keadaan prianya di ambang kematian.


Bella menggigit bibir bawahnya dengan kuat, berusaha untuk menahan gejolak di dadanya. Namun, sehebat apa pun dia mencoba, akhirnya bulir-bulir bening itu luruh juga.


"Tuan," lirih Bella diiringi isak tangis yang mendera.


Mendengar itu, William langsung mengulas senyum tipis. Dia membuka tangannya lebih lebar, supaya Bella bisa masuk ke dalam rengkuhannya. "Ke marilah ... peluk aku seperti yang biasa kau lakukan ketika menyambutku sepulang bekerja."


Memori tentang perjalanan waktu mereka seolah sedang diputar. Menjadi kenangan yang terpatri di hati masing-masing. Meski pertemuan mereka begitu menjengkelkan, tetapi semua itu menjadi langkah bersemainya rasa cinta.

__ADS_1


Air mata Bella semakin berderai, seperti mantra kalimat itu mampu membuat kaki Bella melangkah cepat ke sisi pembaringan William. Tanpa peduli suasana sekitar, gadis itu langsung memeluk tubuh William dan menangis di sana.


Menguapkan segala rasa sesak, cemas dan takut akan kehilangan. Karena kini William adalah tempatnya pulang, sejauh apa pun ia berusaha melarikan diri, nyatanya dia akan tetap kembali.


"Aku tidak mau kehilanganmu, Tuan. Aku tidak akan pernah siap untuk merasakan ketakutan yang sama seperti kehilangan ayah dan ibuku. Karena melebihi seisi dunia, anda adalah yang paling penting bagiku," ucap Bella sesuai isi hatinya. Sementara tangan besar William mulai bergerak untuk mengusap punggung ringkih itu.


"Aku tidak akan ke mana-mana. Karena aku tidak akan membiarkanmu mencari pria lain selain aku!" tegas William, membuktikan pada Bella bahwa tujuan hidupnya hanya untuk gadis itu sekarang.


William tidak akan lagi mengikuti egonya untuk memendam perasaannya sendiri terhadap Bella. Karena ia butuh gadis itu untuk terus berada di di sampingnya.


"Andai itu terjadi, apakah anda akan menghukumku?" tanya Bella dengan kepala yang sedikit terangkat, untuk sekedar melihat mata William yang kini berubah teduh.


William mengangguk samar. Kemudian tangannya terangkat untuk sekedar membenahi rambut Bella untuk diselipkan di belakang telinga. "Hem, aku akan menghukummu. Selama satu minggu kau tidak boleh keluar dari kamar!"


"Aku yang akan siapkan semuanya. Kau hanya perlu membuka mulut dan mengunyah. Atau langsung telan juga boleh, aku akan melakukan apa pun untukmu," jawab William yang membuat bibir Bella berkedut, hingga menghasilkan senyum tipis. Namun, tetap saja air matanya terus mengalir, karena tak bisa ditahan.


"Baiklah, aku akan mencari pria lain supaya aku mendapat hukuman dari anda. Aku ingin merasakan hukuman itu lagi—"


Cup!


Tiba-tiba William melandaskan bibirnya untuk sekedar mengecup benda ranum yang sedari tadi bergerak-gerak di depan matanya. Sementara Bella langsung terbelalak lebar, karena di ruangan ini mereka tidak hanya berdua.

__ADS_1


Dia melirik ke belakang, di mana masih ada Eliana dan Caka yang berdiri dan memperhatikan interaksi di antara mereka berdua.


"Tuan!" panggil Bella dengan suara penuh penekanan. Sebuah isyarat kalau William tidak boleh bertindak sembarangan. Dia malu!


Namun, yang pria itu lakukan justru tersenyum. Dia suka melihat wajah Bella yang merona, karena salah tingkah. "Itu hukuman pertama karena kau berani memiliki niat seperti itu."


Bibir Bella langsung mengerucut lucu, membuat William tertarik untuk melakukannya lagi. Namun, Bella lebih sigap dengan memundurkan kepalanya. Dia tidak mau William bertindak lebih.


Akhirnya Bella bisa mendengar kekehan William. Setelah sekian lama ia hidup bersama pria itu, dia baru pertama kali melihat wajah William yang begitu lepas berekspresi.


Lagi, tangan William bergerak untuk mengusap rambut Bella. Namun, tatapannya beralih pada ayah dan ibunya. "Mommy, Daddy ... Bella adalah calon menantu kalian. Dia gadis yang aku cintai."


Deg!


Bella langsung menelan ludahnya dengan kasar. Sementara degub jantungnya mendadak lebih cepat. Dia tidak berani untuk menoleh ke belakang, sementara William kembali menatapnya dengan begitu lekat, menguraikan kesungguhan.


Bella tak tahu harus bersikap seperti apa. Antara senang dan haru bercampur menjadi satu. Hingga tiba-tiba dia mendengar sebuah langkah kaki di belakangnya. Kemudian tak lama dari itu, sebuah sentuhan di bahu dia rasakan.


Bella menoleh perlahan, dan ia bisa melihat wajah Eliana yang tersenyum padanya. Sama seperti William, wanita paruh baya itu pun membuka tangannya. Menandakan bahwa dia siap menerima Bella menjadi menantunya.


Bella kembali menangis, dengan perasaan bahagia yang tiada terkira, dia pun berubah haluan untuk memeluk Eliana.

__ADS_1


"Kamu tidak perlu khawatir sekarang. Kamu tidak sendirian, karena kamu punya kami berdua sebagai orang tuamu. Mulai hari ini panggil aku Mommy, dan panggil suamiku Daddy. Aku merestuimu untuk menjadi pendamping putraku," ujar Eliana yang membuat suasana haru makin menyeruak.


__ADS_2