
Setelah makan malam selesai, William mengajak Bella untuk naik ke main deck atau geladak utama di bagian paling atas. Sepanjang jalan William terus menggenggam tangan Bella, hingga mereka menghirup udara pantai yang sangat khas.
Bella menatap keadaan sekitar, langit membentang luas bertabur bintang. Pemandangan malam ini sungguh luar biasa indah. Apalagi kali ini Bella ditemani pria yang dicintainya.
Bella melirik William, kemudian meminta izin pada pria itu. "Bolehkah aku pergi ke sana?" tunjuk Bella ke sisi kapal yang memiliki sebuah pembatas.
William langsung mengangguk, membuat Bella kegirangan. Gadis itu langsung melepaskan pegangan dan melangkah cepat untuk berdiri di sana. Dia memejamkan mata sejenak, menikmati angin sepoi-sepoi yang menerbangkan rambutnya yang digerai indah. Namun, tiba-tiba dia dikejutkan dengan suara letusan kembang api, hingga dia langsung menatap ke arah langit.
"Wah?" Bella kembali dibuat takjub, satu tangannya memegang sisi pembatas, sementara tangan yang lain menutup mulutnya.
Kejutan yang William siapkan seperti tak habis-habis, hingga ia merasakan sosok bertubuh kekar itu berdiri tepat di belakangnya, dengan kedua tangan yang mengunci tubuh Bella.
"Kau suka?" tanya William dengan suara beratnya. Dan tidak ada alasan Bella untuk tidak menyukainya.
Gadis itu mengangguk cepat. Pemandangan ini membawanya pada kenangan semasa ibu dan ayahnya masih hidup. Saat itu ia merasakan sebuah kebahagiaan yang membuncah, tak kekurangan kasih sayang, hingga akhirnya satu persatu orang tuanya pergi meninggalkan dia.
"Sangat, Tuan. Apalagi kembang api ini, dari kecil aku suka melihatnya bersama Papih dan Mamihku. Setiap Minggu, mereka selalu mengajakku ke pasar malam, hanya untuk sekedar menikmati suara dan bentuknya yang indah," jawab Bella, tanpa sadar dia menceritakan memori kecil dari hidupnya. Mengenang orang yang paling dia sayang, yang kini sudah bersama di surga.
__ADS_1
Ya, meskipun ia tahu Lena adalah ibu tiri yang baik. Nyatanya, sosok mereka tak dapat tergantikan.
Ada hening yang tercipta di antara mereka, karena mereka sama-sama terdiam, hingga entah keberanian dari mana Bella tiba-tiba bertanya. "Tuan, andai Tante Freya berhasil ditemukan. Apakah semua yang sudah terjadi di antara kita akan berakhir?"
Deg!
Seperti ada boom nuklir yang meledakkan hati William. Pria membeku dengan bibir yang mengatup. Tidak ada jawaban yang bisa ia berikan, karena nyatanya saat ini Freya sudah tidak ada.
Karena tak kunjung mendapat jawaban Bella pun membalik tubuhnya, tetapi ia tak berani untuk menatap wajah William, dia hanya menggerakkan tangan untuk memainkan kancing jas pria itu. "Maaf, Tuan, aku sudah terlalu lancang. Aku akan menarik kata-kataku." Ujar gadis itu, karena tak ingin membangkitkan amarah William.
Namun, pria itu justru merengkuh pinggang Bella, hingga gadis itu pun mendongak. Beberapa detik ke depan mereka hanya saling tatap. Kemudian Bella berinisiatif untuk mencium bibir William lebih dulu, dia menangkup rahang pria itu, melumaat dengan penuh kelembutan, hingga akhirnya William pun membalas.
William merindukan sentuhan Bella, mengharap pada rasa yang gadis itu senantiasa tawarkan.
Bella menggelegakkan kepalanya sambil mencengkram pembatas dengan kuat saat William menyesap beberapa bagian di lehernya. Menciptakan mahakarya yang tidak ada nilai jualnya.
Suara angin menerbangkan lenguhan Bella, membuat siapa saja yang mendengar itu langsung merinding dan memilih untuk menyingkir. Karena sepertinya William dan Bella sudah tidak membutuhkan siapa-siapa lagi, mereka hanya butuh waktu berdua untuk menuntaskan sesuatu di dalam diri mereka.
William tak bisa menahannya lagi, dari pada memikirkan sesuatu yang belum pasti, pria itu lebih memilih untuk mengajak Bella bercinta di alam terbuka. Dia ingin merasakan sensasi yang berbeda.
__ADS_1
Hingga detik selanjutnya William membalik tubuh Bella hingga gadis itu membelakanginya. Bella merasakan saat kakinya sedikit diangkat, dan William menyatukan diri. Dia tersentak hingga menimbulkan suara. "Akhh!"
Sebelum bergerak William mencondongkan wajahnya hingga berada tepat di sisi telinga Bella, dia berbisik. "Aku mengizinkanmu menyebut namaku, Bell. Calling my name, Honey!"
Wajah Bella terlihat sudah dipenuhi hasrat yang tak tertahankan. Tanpa menunggu lama, suara lirih terdengar dari mulutnya. "Will—William."
"Yeah, I am yours, Honey ...."
William menangkup satu sisi wajah Bella, dan kembali melabuhkan ciumannya, sementara di bawah sana bagian tubuh William bergerak sesuai tempo yang sudah dia atur sendiri untuk menuai kenikmatan.
***
"Bagaimana perkembangan hubunganmu dengan William?" tanya Ervin pada putrinya, setelah menikmati makan malam, dia memilih untuk sekedar minum-minum di halaman belakang.
Deborah melirik jari manisnya, hubungan dia dan William tentunya sudah semakin jauh, bahkan terbilang serius. Ya, meskipun ia sadar ia belum bisa membuat pria itu jatuh cinta padanya. "Dia masih terlihat cuek, Dad. Tapi Daddy tahu sendiri 'kan, dia selalu mengikuti apa mauku? Jadi, aku yakin sebenarnya dia sudah tertarik, tapi dia gengsi. Dan tugasku meruntuhkan sifat gengsinya itu."
Ervin mengusak rambut putrinya, kagum dengan sifat yang dimiliki Deborah. Dia tidak tahu saja kalau rasa suka yang dimiliki Deborah sudah berganti dengan sebuah obsesi semata.
"Daddy doakan semoga kamu beruntung mendapatkan William, mari bersulang!" ujar Ervin sambil mengangkat gelasnya.
__ADS_1
"Cheers!" balas Deborah dengan melakukan hal yang sama.