Pemuas Sang Cassanova

Pemuas Sang Cassanova
Bab 30. Hadapi Saya Dulu!


__ADS_3

William tak kembali ke acara pertunangannya. Karena dia langsung membawa Bella ke apartemen. Bahkan ia tak mengizinkan Bella untuk menginjakan kakinya sedikit pun, dari basemen William menggendong Bella sampai tiba di lantai yang dituju.


Di ruang TV, Leo sudah menunggu kedatangan sepupunya. Dia terperangah karena William terlihat berantakan dengan beberapa luka di bagian wajahnya, begitu juga dengan Bella yang ada dalam gendongan pria itu.


Namun, semuanya tak bisa menghentikan niat Leo untuk menghajar William. Dia bangkit dari sofa dan hendak menghampiri sepupunya. Dia ikut kesal karena William benar-benar menerima pertunangan dengan Deborah, sementara Bella masih tinggal bersamanya.


"Tuan!" cegah Jo yang sedari tadi mengekor di belakang tuannya. Dia mencekal pergelangan tangan Leo, tak membiarkan pria itu menyentuh William. Sementara William tak memedulikan kehadiran Leo sedikit pun, dia langsung saja membawa Bella masuk ke dalam kamarnya.


"Aku ingin menghajar William, jadi jangan hentikan aku!" sentak Leo sambil menghempas tangan Jo. Dia menatap tajam, karena bisa-bisanya Jo melindungi William yang jelas-jelas salah.


Jo kembali menghadang langkah Leo dengan merentangkan tangannya. "Saya tidak akan membiarkan Anda menyentuh Tuan William!" Ujarnya membuat rahang Leo semakin mengeras.


"Apa katamu?! Jangan karena kau dibayar olehnya, kamu juga bertindak semena-mena! Harusnya kamu halangi berandal gila itu, bukan malah seperti ini!" ketus Leo dengan gemuruh di dadanya. Namun, seperti seseorang yang begitu tunduk pada perintah William, Jo tidak bisa melakukan itu semua.


Padahal dia pun sudah berusaha untuk mengingatkan tuannya. Akan tetapi William tetaplah William. Pria yang tak bisa mengandalkan perasaannya.


"Tuan William tahu yang terbaik untuk dirinya. Jadi, saya rasa, saya tidak bisa ikut campur dengan kehidupan percintaannya," jawab Jo, dan dia langsung mendapat cengkraman dari Leo.


"Kalau begitu menyingkirlah, biar aku yang menyadarkannya!" ujar Leo, mereka saling tatap dengan sengit. Karena semua ucapan itu tak mampu membuat Jo mundur.


"Sebaiknya anda tidak ikut campur, Tuan, karena anda tidak tahu apa-apa mengenai Nona Bella. Kalau memang anda ingin menghajar Tuan William, hadapi saya dulu!" tegas Jo dengan tatapan serius, hembusan nafas mereka saling beradu.

__ADS_1


Dan tanpa ba bi bu Leo langsung melayangkan tangannya untuk memukul wajah Jo, hingga pria itu mundur beberapa langkah. Jo meringis merasakan rahangnya yang sakit, tetapi bukannya berhenti ia justru memasang kuda-kuda.


Dia menangkis semua serangan yang diberikan oleh Leo, dan memberikan pukulan balik hingga Leo terjungkal menabrak sofa.


Leo mengeratkan gigi depannya dan menatap Jo dengan sengit. "Kamu benar-benar tidak ada bedanya dengan Tuanmu. Sama-sama brengseek!"


"Anda yang memaksa saya untuk melakukan ini semua, Tuan Leo. Padahal anda hanya perlu duduk manis dan melayani pasien," jawab Jo yang membuat Leo makin tak habis pikir. Sebenarnya ada apa dengan otak Jo dan William, kenapa mereka sama-sama keras kepala.


"Kya!!!" Leo kembali memberikan serangan pada Jo, tak peduli pukulannya mengenai tubuh pria itu atau tidak. Hingga saat Leo memberikan tendangan, Jo menghindar secepat kilat. Berbalik dia yang mengunci pergerakan Leo dengan memegang tangan Leo di punggung.


"Lepaskan aku, Sialan!" teriak Leo sambil meronta-ronta. Akan tetapi tak disangka tenaga Jo jauh lebih besar dari pada yang ia kira.


"Tuan, saya ingatkan sekali lagi. Tolong jangan ikut campur dengan urusan Nona Bella dan Tuan William. Atau anda akan membawa Nona Bella dalam bahaya," ucap Jo memberikan pesan. Karena dia tidak mau kalau sampai Leo pun ikut terlibat. Semuanya akan menjadi semakin runyam, apalagi ditambah dengan kehadiran Deborah.


"Apakah aku bisa mempercayaimu?" tanya Leo dengan nafas terengah-engah. Karena sebenarnya dia pun tak sepenuhnya yakin dengan apa yang Jo katakan.


"Itu hak anda, Tuan, mau percaya pada saya atau tidak. Tapi yang jelas, jangan sampai anda membuat posisi Nona Bella menjadi semakin sulit," jawab Jo yang membuat Leo semakin tak paham.


"Baiklah, tapi kalau sampai aku melihat William menyakitinya. Aku benar-benar akan membawa dia pergi dari sisi William," ujar Leo, pada awalnya dia hanya bercanda, tetapi semakin ke sini, nyatanya rasa simpati itu semakin tinggi. Dia tidak ingin William mempermainkan Bella lebih dari ini.


Setelah mengatakan itu semua, Leo merasakan tangannya yang terbebas. Dia dan Jo saling tatap, kemudian Leo memilih untuk pergi ke dapur. Dia benar-benar merasa haus sekarang.

__ADS_1


Sementara yang ada di dalam kamar, William berusaha untuk membantu membersihkan luka Bella. Namun, gadis itu lebih khawatir dengan luka sabetan yang ada di tangan William.


"Biar aku yang bersihkan luka Tuan terlebih dahulu. Aku takut nanti infeksi," ujar Bella sambil menatap ngeri, karena pastinya itu semua sangat sakit.


"Baiklah kalau kau memaksa," balas William akhirnya. Bella menggeser duduknya agar lebih dekat dengan William, kemudian mulai mengelap luka itu menggunakan kain yang sudah William siapkan.


Bella melirik wajah William, mungkin jika dia yang mendapat luka itu, dia sudah berteriak kencang. Akan tetapi tidak dengan pria itu, William hanya sesekali mengeratkan giginya, menahan semua rasa sakit.


Hah, aku ingin melepaskan perasaan ini, tapi kenapa kamu malah menambahnya? Batin Bella, merasakan jantungnya yang berdebar keras.


Namun, tiba-tiba tatapan Bella beralih pada cincin yang melingkar di jari manis William. Sebelumnya tidak ada benda itu di sana.


"Tuan, apakah anda baru saja membeli cincin?" tanya Bella, supaya mereka bisa mengobrol.


William melirik ke arah jarinya sendiri, merasa tidak penting untuk dibahas. William hanya menganggukkan kepala. Membuat Bella mencebikkan bibir, karena William benar-benar tidak peka.


"Kenapa, kau juga mau?" tanya William melihat perubahan mimik wajah Bella. Hingga gadis itu pun mengangkat kepala, netra mereka bersitatap.


"Buk—"


"Nanti aku belikan!" potong William cepat, dan Bella langsung berubah salah tingkah. Sebab bukan itu tujuan sebenarnya.

__ADS_1


Haish, kenapa jadi seperti ini?


__ADS_2