
Setelah sekian lama akhirnya Freya bisa melihat wajah ini lagi. Dan masih jelas teringat di dalam memori otaknya, ketika ia menyerahkan Bella pada William dengan imbalan uang seratus juta.
Kembali pada malam beberapa bulan lalu.
Freya yang dikenal sebagai mucikaari, kerap mendapat pelanggan dari para pengusaha kaya raya seperti William. Karenanya dia mengenal baik pria itu. William adalah pria dingin yang ditakuti oleh musuh, tetapi sangat royal terhadap uang.
Malam itu belum ada seminggu William kembali memesan seorang wanita kepadanya. Tanpa pikir panjang Freya langsung menjual Bella, sang keponakan yang baru saja ia ambil dari rumah ibu tirinya.
William yang sebelumnya tak pernah kecewa, akhirnya percaya begitu saja saat Freya mengatakan bahwa Bella adalah barang baru dan masih sangat mulus, hingga saat ia bertemu Bella untuk pertama kalinya, dia merasa dibohongi oleh Freya karena gadis itu tidak mengerti bagaimana cara melayaninya.
Namun, bukan tanpa sebab Freya melakukan itu semua, sebab sebelum ia membawa Bella keluar dari rumah Lena. Dia telah mendapat kabar dari salah satu mantan orang kepercayaan adik iparnya.
"Nona Bella dalam bahaya, Nyonya. Tapi saya tidak bisa memberikan bukti tersebut, karena saya hampir ketahuan menguping pembicaraan Nyonya Lena," ucap pria paruh baya itu dengan nafas yang terengah-engah, dia datang ke tempat Freya karena berhasil kabur dari kejaran anak buah Lena.
Ya, dia adalah kunci dari kejahatan wanita itu, karena dia sempat mendengar obrolan di telepon, Lena mengatakan bahwa dia akan menghabisi Bella.
"Lena? Bukankah selama ini dia baik pada keponakanku?" tanya Freya dengan kening yang mengernyit, meski tak begitu akrab dengan Bella, namun dia pun masih suka mendengar kabar tentang keponakannya.
"Saya tidak tahu, Nyonya, saya juga benar-benar shock saat mendengar kalimat itu keluar dari mulut Nyonya Lena. Jadi sebaiknya anda segera bawa pergi Nona Bella, karena hanya anda satu-satunya keluarga yang tersisa."
__ADS_1
Freya yang awalnya tidak peduli mendadak memutar otak. Bagaimana caranya dia membawa Bella dan membuat sang keponakan selamat dari bahaya yang mengintainya.
Kalau ia langsung mengatakan pada Bella tentang kejahatan ibu tirinya. Yang ada gadis itu tidak akan percaya. Karena selama ini Lena hanya menunjukkan kebaikannya.
Sementara seorang pria paruh baya yang memberitahu informasi tersebut, dikabarkan meninggal dunia setelah pergi dari tempat Freya. Kematiannya direkayasa oleh Lena dan anak buahnya, hingga seolah-olah pria itu bunuh diri. Padahal jelas mereka adalah pelakunya.
Dan pada akhirnya orang yang Freya pilih adalah William. Dia yakin di tangan pria itu sang keponakan bisa selamat. Tak peduli jika William akan membencinya, yang penting satu nyawa peninggalan sang adik bisa tetap hidup.
[Will, aku titip keponakanku. Dia dalam bahaya karena hendak dibunuh oleh ibu tirinya. Aku tidak tahu pasti, tapi aku mohon cari informasi tentangnya, dan jangan sekali-kali membiarkan dia lepas dari pengawasanmu. Aku yakin bersamamu dia aman. Bahkan kamu bisa mengajarinya bercinta dengan gaya bebas. I love you, Will.]
Satu paragraf pesan itu menjadi salah satu alasan yang membuat William marah besar. Karena bukannya mendapat kepuasan dia malah menjadi tempat penitipan orang.
Namun, karena takdir itu juga yang membuat ia kembali merasakan sebuah rasa yang nyaris hilang dari hatinya. Cinta yang dulu terkubur dalam, menyemai begitu indah begitu ia menghabiskan waktunya bersama Bella.
.
.
.
__ADS_1
"Jawablah, kenapa kau bisa ada di sini? Aku tidak mungkin salah mengenali orang 'kan?" ujar William sambil terus menodongkan senjatanya. Sementara Freya terus meneguk ludahnya susah payah. Padahal dia sudah berusaha untuk pergi sejauh mungkin, tetapi kenapa takdir malah mempertemukan mereka berdua.
"Ku hitung sampai tiga, kalau kau diam saja peluru yang ada di dalam pistol ini akan bersarang di otakmu!" sambung William dengan penuh penekanan, karena melihat yang bergeming dengan wajah yang pucat pasi, seolah tak dialiri oleh darah.
"Will, aku bisa jelaskan, tolong jangan marah dulu," jawab Freya akhirnya, dia benar-benar gemetar saat ujung pistol menekan pelipisnya. Andai William menekan pelatuk satu kali saja, nyawanya akan melayang seketika.
"Aku tidak ingin mendengar omong kosong. Jawab dengan benar, kenapa kau bisa ada di sini? Sementara Jo bilang kalau kau sudah mati!" cetus William dengan tatapan tak main-main, sementara Freya reflek berjalan mundur, karena pria yang ada di hadapannya ini terus mendesak.
Punggung Freya sudah menyentuh dinding, sementara kecemasan masih menyelimuti hatinya. "Iya, Will, tapi tolong turunkan dulu senjatamu."
"Cih, orang sepertimu ternyata masih takut dengan senjata seperti ini. Harusnya aku bawa yang lebih panjang supaya bisa menghancurkan seluruh tubuhmu!"
William terdengar mencibir, tetapi ia benar-benar menurunkan senjatanya. Hingga Freya bisa bernafas dengan lega. Namun, degub jantung wanita itu masih berdegup dengan kencang lengkap dengan tangan yang mengeluarkan keringat dingin.
"Aku memang masih hidup, Will, hari itu aku tidak benar-benar mati karena aku dan Jo membuat kesepakatan," ujar Freya dengan suara yang terbata. Dia menggigit bibir seraya melirik reaksi wajah William.
Benar seperti tebakannya, William terlihat terkejut. Pria itu menatap satu objek dengan mata yang terbelalak lebar. Karena mendapati fakta bahwa Jo kembali memutuskan sesuatu di belakang dirinya.
Belum sempat William memberikan respon, tiba-tiba orang yang dibicarakan datang dengan nafas terengah-engah. Karena setelah mencari ke sana kemari akhirnya dia menemukan keberadaan sang tuan. Namun, dia pun dibuat terkejut karena di sana juga ada Freya.
__ADS_1
Deg!
"Kau ingin mengkhianatiku?" tanya William seraya menatap Jo dengan nyalang, kini pistol itu beralih menodong ke arah asistennya.