Pemuas Sang Cassanova

Pemuas Sang Cassanova
Bab 19. Orang Yang Sama


__ADS_3

Di sisi lain, Bella merasa bosan karena sudah beberapa hari ini dia selalu makan malam sendirian. Tidak ada William yang menemaninya, karena pria itu sedang sibuk.


Tak ingin terus terkurung di dalam apartemen. Akhirnya gadis itu turun untuk sekedar membeli es krim di mini market.


Bella menghirup dalam-dalam udara malam, sementara kakinya terus melangkah menyusuri trotoar. Sesaat ia tersenyum, mengingat semua perhatian William, pria kaku yang diam-diam membuat dadanya jadi berdebar.


Entahlah, Bella tidak bisa memastikan sejak kapan ia mendapatkan debaran ini. Namun, setiap pria itu menatapnya dengan penuh damba, Bella menyukainya.


"Hanya ini, Nona?" tanya seorang kasir saat Bella sudah mendapatkan apa yang ia mau. Gadis cantik itu mengangguk, kemudian mengeluarkan uang sesuai nominal yang disebutkan.


Keluar dari mini market Bella masih merasa biasa-biasa saja. Hingga saat kakinya sudah menapak beberapa langkah, Bella merasa ada yang mengikutinya.


Gadis itu melirik ke samping, berusaha memastikan dengan ekor matanya. Namun, semua itu tak membuat dia puas, hingga akhirnya ia menolah. Dan ternyata tidak ada siapa-siapa.


"Aku merasa ada yang sedang mengikutiku, apa perasaanku saja ya?" gumam Bella, dari pada membuang waktu, dia memilih untuk melanjutkan langkah. Dan ia kembali merasakan seseorang telah menguntitnya.


Ingatan Bella tertuju pada kejadian beberapa hari yang lalu, saat ada seseorang yang hendak mencelakainya menggunakan botol kaca. "Astaga, apakah dia orang yang sama?"


Bella berjalan cepat, dan orang yang ada di belakang sana melakukan hal yang sama. Bella yang mulai merasa takut sekaligus gugup pun akhirnya memilih untuk menoleh, mata gadis itu terbelalak saat ada orang yang mencoba mendekatinya.


"Argh!" Bella berteriak dan mencoba berlari sekuat tenaga, supaya bisa segera tiba di apartemen. Namun, ternyata seseorang itu mengejarnya tak kalah cepat. Hingga mereka berlarian di sisi jalan.


"Sebenarnya siapa dia? Apa yang dia inginkan?" gumam Bella disela-sela laju kakinya. Semakin banyak ia menoleh ke belakang, ia semakin merasa was-was sebab ia seperti hendak ditangkap.

__ADS_1


"Tidak, dia tidak boleh menangkapku! Aku harus lebih cepat."


Jantung Bella bergumuruh hebat, dia menyesal karena keluar malam-malam sendirian. Dan Bella berharap Wiliam segera datang.


Bella menoleh ke belakang, kemudian melemparkan kantong belanjaannya yang berisi es krim. "Pergi kamu! Jangan ganggu aku!" Teriaknya dengan lantang. Akan tetapi semua itu tak membuahkan hasil. Nafas gadis terdengar nyaring, sementara keringat sudah mulai membasahi dahinya.


"Argh!" Bella kembali berteriak, sebab ketika dia melihat ke belakang, tangan seseorang yang mengejarnya sudah hendak menggapai tubuhnya. Namun, entah datang dari mana, tiba-tiba ada seseorang yang menolongnya.


Bugh!


Pria itu terguling dan gagal untuk menangkap Bella. Bella terbelalak, tetapi sosok yang membantunya memberi isyarat agar ia segera pergi. Patuh, Bella sudah sempat tersungkur akhirnya bangkit dan kembali berlari menuju gedung apartemen milik William.


Sementara itu baku hantam tak terelakan. Orang yang ditugaskan untuk menjaga Bella langsung memberikan serangan, tetapi ternyata lawan pun tak bisa dianggap remeh.


Buk!


Mereka menghabiskan setengah tenaga, hingga sama-sama babak belur. Namun, pada saat anak buah Jo tersungkur akibat menerima tendangan, pria itu pun mengambil kesempatan untuk kabur.


"Jangan kabur kau, Sialan!" teriak anak buah Jo dengan nafas terengah-engah.


***


Jo berbisik di telinga William untuk melaporkan kejadian yang baru saja terjadi pada Bella. Dan tepat pada saat itu, William langsung bangkit dari duduknya.

__ADS_1


"Aku akan pulang!" ucap pria itu, kemudian tanpa pamit William sudah berjalan menuju basemen. Namun, saat ia hendak masuk ke dalam mobil, Jo lebih dulu duduk di kursi kemudi.


"Saya akan temani anda, Tuan," ucap Jo, memastikan bahwa William tak membawa kendaraan dengan ugal-ugalan.


Tanpa berkata apa pun William langsung setuju. Hingga Jo langsung menancap gas, membawa kendaraan itu menembus jalan raya. Jo tahu bahwa William pun sudah mulai mencemaskan Bella, sedikit lagi mungkin pria itu akan jatuh cinta.


Sementara di dalam apartemen, Bella duduk di atas karpet sambil memeluk kedua kakinya. Wajah gadis itu terlihat sangat ketakutan, karena khawatir orang yang mengejarnya datang ke apartemen ini.


"Bagaimana kalau Tuan tidak pulang sampai pagi? Dan pria itu datang membawaku?" gumam Bella dengan segala kemungkinan buruk. Wajahnya terlihat pucat pasi dengan keringat dingin yang semakin mengucur deras.


Dia terus menunggu, menunggu dan terus menunggu dengan kegelisahan. Hingga akhirnya pintu apartemen terbuka, Bella terkejut dan langsung memundurkan tubuhnya.


Namun, saat tahu siapa yang datang. Wajah Bella langsung berubah sumringah, dia bangkit dan berjalan cepat ke arah William. Tanpa meminta izin, gadis cantik itu memeluk tubuh William dengan erat, seolah di sana adalah tempat yang paling aman.


"Akhirnya kamu datang, Tuan," lirih Bella dengan bibirnya yang kering. Karena terlalu takut, dia sampai melupakan segalanya.


Dengan melihat wajah Bella, perasaan William langsung berubah lega. Namun, sekali lagi, pria itu memiliki rasa gengsi yang lebih tinggi. "Kau habis keluar?"


Bella mengangguk samar, tetapi masih memeluk erat pinggang William.


"Kau mulai lancang lagi karena tak meminta izin padaku?" tanya William dengan tatapannya yang mematikan. Seketika itu juga Bella langsung tersadar, dia hendak melepaskan pelukannya tetapi William justru menahan tangan Bella.


"Maaf, Tuan, aku hanya berniat membeli es krim di mini market terdekat," jawab Bella dengan suara lirih.

__ADS_1


Namun, seolah tak mendengar alasan gadis itu. William menarik tangan Bella untuk masuk ke dalam kamarnya. "Sama saja. Kau hanya boleh pergi seizinku. Sekarang, aku akan mengajarimu menjadi gadis yang patuh!"


__ADS_2