Pemuas Sang Cassanova

Pemuas Sang Cassanova
Bab 34. Jalan-jalan Sore


__ADS_3

Komunikasi di antara William dan Bella kembali membaik. Dan semuanya pun kembali seperti semula, seperti saat ini Bella sedang menyibukkan diri di dapur sambil menunggu kepulangan William, dia sedang memasak makan malam sekarang, tetapi tiba-tiba Leo datang menghampirinya dengan wajah bantal, sepertinya pria ini baru saja bangun setelah puas tidur siang.


"Bel, kamu masak apa?" tanya pria itu sambil meraih gelas, kemudian mengisinya dengan air putih.


"Eum aku masak ayam hari ini, kenapa, Kak?" jawab Bella sambil memperhatikan Leo yang sedang menandaskan satu gelas air di tangannya. Kini mereka pun menjadi lebih akrab, karena ternyata Leo cukup asyik untuk diajak bicara.


Pria itu melirik ke arah wajan yang sedang nangkring di atas kompor, aroma sedap seketika masuk ke dalam indera penciumannya. Bella benar-benar gadis yang serba bisa, karena untuk urusan rumah dan sebagainya gadis itu bisa mengatasinya sendiri, termasuk memasak.


"Bagaimana kalau kita jalan-jalan sore setelah kamu selesai memasak? Aku ingin menghirup udara segar," ujar Leo memberi penawaran, karena hari ini Leo memang tak pergi ke rumah sakit. Bella nampak berpikir, tidak ada salahnya juga dia pergi bersama Leo, karena pria itu pasti bisa menjaganya.


"Boleh, aku selesaikan dulu pekerjaanku. Kak Leo tunggu saja di ruang TV," balas Bella setuju, kemudian dia pun kembali fokus pada masakannya yang hampir matang. Sementara Leo kembali ke kamar untuk berganti pakaian.


Hingga setelah menunggu selama setengah jam, akhirnya Bella sudah siap untuk pergi bersama Leo. Dia memakai baju putih polos dipadukan dengan jumpsuit denim. Sementara rambutnya dikuncir seperti ekor kuda.


"Haish, kenapa penampilanmu seperti ini?" celetuk Leo sambil memperhatikan penampilan Bella. Gadis itu jadi terlihat sangat imut, apalagi dengan anak rambut yang menghiasi dahinya.


Bella menautkan kedua alisnya, kemudian ikut menilai penampilannya sendiri, sepertinya tidak ada yang salah. "Memangnya kenapa, Kak?"


Tiba-tiba Leo menggerakkan tangan untuk mencubit kedua pipi Bella yang sedikit chubby. "Kamu terlihat sangat menggemaskan. Aku pasti dikira membawa seorang adik, bukan seorang pacar."


Mendengar itu Bella langsung menabok kedua tangan Leo agar terlepas dari pipinya. Berbeda dengan William, Leo memang terlihat lebih agresif dan suka menggodanya. Benar-benar nampak sekali jiwa playboy dalam diri pria itu.


"Ish, kan kita pergi juga bukan untuk pacaran!" cetus Bella dengan bibir setengah mengerucut. Tak ambil pusing, Leo langsung meraih tangan Bella untuk digenggam.

__ADS_1


"Padahal aku tidak masalah kalau jadi pacar keduamu," ucap pria itu nyeleneh sambil menarik Bella tanpa aba-aba, gadis itu pun tersentak tetapi tak bisa menghentikan kakinya yang mengekor pada langkah Leo.


"Cih, Kakak memang menyebalkan!" cibir Bella disela-sela langkah mereka, tetapi Leo hanya terkekeh dan terus menggenggam tangan itu hingga mereka tiba di depan lift.


***


Leo dan Bella tak naik kendaraan, mereka hanya berjalan menyusuri trotoar untuk sampai di sebuah danau buatan dekat dengan apartemen. Leo kembali meraih tangan Bella, supaya mereka bisa menyebrang bersama. Akan tetapi Bella langsung menepisnya. "Aku tidak mau, kalau Tuan William lihat bagaimana? Dia pasti marah."


"Haish, manusia itu kan memang hobinya marah-marah," jawab Leo, tetapi Bella tetap tidak mau bersentuhan secara fisik dengan Leo. Sebab semenjak dia dan William menyatu, William tak lagi membawa wanita lain ke apartemen, jadi dia pun harus bersikap seperti itu.


Bella berjalan lebih dulu, meninggalkan Leo di sisi jalan. Gadis itu benar-benar tak kenal takut, padahal rambu lalu lintas untuk pejalan kaki masih berwarna merah.


"Lain kali jangan lakukan lagi, nanti kamu bisa tertabrak," ujar Leo saat mereka sudah duduk di kursi panjang yang tersedia. Di sana mereka bisa menikmati keindahan danau tersebut, dan juga suasana kepadatan ibu kota.


Namun, dia pun tak bisa bertindak seenaknya, karena sepertinya Bella memiliki masa lalu yang tidak begitu baik. Ada seseorang yang menginginkan gadis itu.


Leo pun mengedarkan pandangan, untuk mengusir pikiran yang tiba-tiba berkecamuk di otaknya, dia pun mencoba untuk menghibur Bella. Dilihatnya ada seorang penjual gelembung sabun, Leo pun bergegas untuk pergi ke sana dan membelinya.


Hal tersebut tentunya membuat Bella mengalihkan perhatian, dia memperhatikan Leo yang sedang berinteraksi dengan sang penjual, kemudian berjalan ke arahnya. "Bagaimana kalau kita main ini?" tanya Leo.


"Gelembung sabun?" Bella balik bertanya, dan Leo langsung menganggukkan kepala. Dia pun memulai permainan dengan meniup gelembung pertama, terlihat sangat besar dan membuat Bella bertepuk tangan kegirangan.


"Wah, Kakak hebat!" ucap Bella saat gelembung itu melayang ke udara dan meletus di atas sana. "Aku mau coba." Sambungnya dan Leo langsung memberikan satu miliknya pada Bella.

__ADS_1


Sekilas mereka seperti anak kecil, karena hal sederhana itu saja sudah cukup membuat keduanya tertawa lebar. Bahkan Bella jadi berlarian ke sana-sini sambil menciptakan gelembung miliknya.



Setelah kelelahan dia baru kembali duduk. Namun, sisa tawa itu belum mereda. Sampai seorang wanita paruh baya dengan baju lusuh mendatangi keduanya. "Nona, apakah anda butuh minum?" Tanyanya, membuat Leo dan Bella kompak memusatkan perhatian pada wanita itu.


"Saya jual minuman ini, Nona, bisakah anda membantu saya untuk membelinya satu atau dua? Saya butuh uang untuk makan," sambungnya sambil memperlihatkan barang dagangannya yang masih banyak, wajah kecoklatan dan tampak kusam itu benar-benar membuat hati Bella merasa kasihan.


"Oh iya, Bu," jawab Bella, kemudian menepuk paha Leo yang ada di sampingnya. Sebab ia tidak membawa uang. "Kak, pakai uangmu dulu."


Tanpa banyak bicara Leo pun mengeluarkan uang dari sakunya. Dan Bella langsung memberikan semua uang itu pada wanita yang ada di hadapannya. "Aku ambil dua botol saja, Bu. Sisa uangnya untuk Ibu simpan."


"Terima kasih banyak, Nona, semoga kebaikan anda dibalas oleh Tuhan," jawab wanita itu dengan wajah terharu. Kemudian setelahnya ia pamit untuk kembali berkeliling menjajakan dagangannya.


Sementara Bella langsung menenggak minuman itu.


"Kakak tidak mau?" tanya Bella, dan Leo menggeleng kecil.


"Aku jarang minum-minuman instan seperti itu. Sebagai calon dokter, aku juga harus menjaga kesehatanku," jawab Leo sambil menyombongkan diri. Namun, Bella tak bisa membantah karena ucapan Leo ada benarnya.


"Baiklah, Pak Dokter," balas Bella dengan wajah dibuat-buat, mengundang tangan Leo untuk kembali mencubit pipinya.


Sementara di balik mobil yang sedang melandas, seorang anak kecil terus memperhatikan mereka. Dia adalah Ellen, dia mengerutkan keningnya dan merasa melihat Bella.

__ADS_1


"Mah, aku lihat Kak Bella!" serunya pada Lena.


__ADS_2