
Sebagai bentuk permintaan maaf atas sikapnya tempo lalu, William telah meminta Jo untuk menyiapkan sebuah makan malam di atas kapal. Sebab ia tak bisa banyak berkata-kata, melalui perbuatan ia rasa sudah cukup untuk mengungkapkan semuanya.
Ya, baginya kata maaf itu hanya omong kosong, kalau tidak dibarengi dengan tindakan.
Malam itu William telah mempersiapkan diri untuk bertemu Bella. Tubuh kekarnya dibalut jas berwarna abu-abu dengan dasi yang melingkar rapih di leher. Dia tampak menunggu, dengan segala sesuatu yang sudah tampak sempurna.
Entah ide dari mana dia menyewa kapal ini hanya untuk berduaan dengan gadis itu. Dia seolah tak keberatan untuk membayar lebih, yang penting tidak ada yang menggangu waktu mereka berdua.
Sekali lagi William melirik arloji mahal yang melingkar di tangannya. Mata tajam itu senantiasa menelisik keadaan sekitar, hingga dia merasakan bahwa ada seseorang yang datang.
Ya, baru saja tiba Bella langsung dibuat takjub dengan semua yang ia lihat. Suasana pantai yang tenang, dengan gemerlap lampu yang menjadi cahaya bagi gelapnya malam. Belum lagi saat ia melihat bahwa William telah menunggunya.
Bibir Bella melengkung tanpa dipinta saat netra mereka saling bertabrakan. Menciptakan desir aneh di dalam dada. William nyaris tak bisa berpaling, tetapi seperti biasa dia hanya mampu menatap Bella dengan datar.
Namun, sungguh dalam hatinya memuji kecantikan gadis itu. Bahkan dia tak merelakan mata ini untuk berkedip, karena tak ingin melewatkan keindahan yang ada di hadapannya.
Suasana mengalun romantis di saat Bella mulai melangkah menuju William, karena setiap kaki itu bergerak, selalu diiringi musik yang mendayu dan kelopak mawar yang bertebaran. Gadis itu benar-benar merasa seperti ratu yang sedang diagungkan sang raja, meski pun pada kenyataannya William tidak seromantis itu.
__ADS_1
Karena saat Bella berdiri tepat di hadapannya, William hanya menyambut dengan sebuah alis yang terangkat, kemudian menyuruh Bella untuk duduk tanpa menarik kursinya terlebih dahulu. "Duduklah!"
Senyum Bella perlahan surut, karena William benar-benar mematahkan ekspetasinya. Ya, dia harus berharap apa pada pria satu ini? Karena jangankan memuji, memperlakukannya dengan baik saja ia sudah sangat bersyukur.
"Bagaimana penampilanku, Tuan?" tanya Bella, dia masih berharap William bisa bersikap layaknya pria yang dia idamkan. Ya, setidaknya berikan senyum kecil agar Bella merasa senang.
William mengangkat pandangannya, menatap Bella dari ujung rambut, dan berhenti di belahan dada gadis itu. Ada sedikit sembulan yang membuat sudut bibir William berkedut. Namun, sekali lagi dia mematahkan harapan Bella. "Lumayan, seleramu tidak buruk."
Ya, seharusnya Bella sudah tahu itu. Akhirnya Bella menyerah dan tak mau memperpanjang semuanya. Sebab dia sadar bahwa William menyiapkan semua ini tidaklah mudah. Dia harus menghargai usaha pria itu.
"Terima kasih, Tuan. Oh iya atas dasar apa Tuan mengajakku makan malam di sini?" balas Bella sambil melayangkan sebuah pertanyaan.
Bella mengerutkan keningnya, sebab dia tidak bodoh. Dia tahu bahwa kotak itu adalah kotak cincin. Dengan ragu Bella pun meraih benda itu, kemudian membukanya. Wajah Bella langsung terperangah, karena William benar-benar merealisasikan ucapannya.
"Tuan, ini?"
"Bukankah kau menginginkannya?" jawab William dengan santai, dia memberikan cincin untuk Bella. Namun, pada kenyataannya dia justru melepas cincin pertunangannya dengan Deborah. "Anggap saja hadiah dariku."
__ADS_1
Harapan Bella kembali melambung, pria yang ia kenal jahat nyatanya mampu membuat hatinya bergetar hebat. Tak dipungkiri Bella merasakan cinta pada pria dewasa yang ada di hadapannya, dan ia tak bisa melepaskan rasa itu begitu saja, apalagi melihat sikap William yang selalu melindunginya. Ya, meski pun ia tahu, cara pria itu berbeda.
"Sekali lagi terima kasih, Tuan, aku menyukainya," balas Bella dengan senyum manis dengan binar kebahagiaan di matanya.
"Kalau begitu tunggu apalagi? Pakai sekarang!" titah William, dan Bella pun mengangguk terpaksa.
Bukankah seharusnya dia yang memakaikannya supaya lebih romantis? Cih, berpikir apa kamu, Bel? Dia tidak sepeka itu! Sadarlah!
Detik berikutnya William mengangkat tangan untuk memanggil pelayan. Orang-orang yang ada di atas kapal itu langsung sigap, mereka langsung mengeluarkan beberapa menu yang paling direkomendasikan.
Sementara Bella hanya bisa menikmati semua yang telah William persiapkan. Bahkan senyum di bibir Bella seolah takkan pernah surut, sebab sepanjang mereka menikmati makanan dan juga pemandangan yang indah, dia selalu memperhatikan wajah William yang terlihat lebih tenang.
"Kenapa kau hanya memperhatikan wajahku? Kau tidak lapar?" tanya William yang membuat Bella langsung gelagapan karena sudah tertangkap basah.
Gadis itu menggelengkan kepala cepat. "Maksudku—aku juga lapar—tapi aku terlalu menikmati pemandangan ini."
"Habiskan cepat, setelah ini kita keluar untuk melihat pemandangan yang kau maksud," balas William, kemudian kembali fokus pada makanannya. Dan Bella langsung mengangguk patuh.
Jelas-jelas dia memperhatikan terus. Kenapa dia berbohong?
__ADS_1
***