
Hari ini William sukses membuat kebahagiaan Bella berlipat ganda. Karena akhirnya gadis itu bisa bertemu dengan kedua adiknya. Ya, meski pun terlahir dari rahim yang berbeda, Bella sangat menyayangi Ellen dan Alland.
"Kak Bella!" pekik kedua bocah itu dengan kegirangan. Berlari ke arah Bella yang sudah merentangkan tangan. Tanpa ba bi bu lagi mereka saling berpelukan. Bahkan ada isak tangis yang keluar dari mulut Ellen, karena tak menyangka Bella ada di depan matanya.
"Hei, kenapa menangis? Ellen tidak suka Kak Bella datang?" tanya Bella sambil melerai pelukan, dia berjongkok dan menatap kedua adiknya yang semakin tumbuh besar. Dia berharap, Ellen dan Alland akan memiliki masa depan yang baik. Tidak seperti dirinya.
"Justru Ellen sangat senang Kak Bella ada di sini. Kak Bella ke mana saja? Kenapa baru menemui kami?" jawab Ellen sambil terisak-isak. Hatinya yang mudah sekali tersentuh, membuatnya mudah menangis. Apalagi mengenai orang terdekatnya.
Bella tersenyum kecil, dia sangat senang karena sang adik begitu mengkhawatirkannya. Dia jadi merasa memiliki keluarga yang utuh, meski nyatanya kedua orang tua Bella sudah tidak ada.
Bella menggerakkan tangan untuk menghapus air mata Ellen. "Maaf ya, akhir-akhir ini ada banyak sekali sesuatu yang harus Kak Bella kerjakan. Jadi, Kak Bella baru ada waktu mengunjungi kalian. Tapi tenang saja, setelah ini kita akan sering bertukar kabar. Mamah sudah punya nomor Kak Bella yang baru, nanti Ellen dan Alland minta Mamah untuk telepon ya ...."
Namun, bukannya senang mendengar penuturan Bella. Air mata Ellen justru semakin menderas. "Kak Bella mau pergi lagi? Kenapa tidak tidak tinggal bersama kami?"
"Iya, Kak, bukankah kita bisa tinggal berempat lagi seperti dulu?" timpal Alland, membuat gurat sendu di wajah Bella semakin kentara. Bella melirik ke arah Lena, dan wanita itu pun ikut menenangkan kedua anaknya.
"Sekarang Kak Bella tinggal dengan Tante Freya, Sayang. Kak Bella juga sedang sibuk kuliah, jadi Kak Bella tidak bisa terus-terusan bersama kita. Kalau Ellen sama Alland kangen, kita bertiga bisa telepon," ujar Lena terpaksa berbohong, agar anak-anaknya mau memahami keadaan sang kakak.
"Tapi, Mah," rengek Ellen yang seperti tak ikhlas jika Bella meninggalkannya.
__ADS_1
"Jangan membuat Kak Bella sulit ya, Sayang. Kak Bella juga mengatur waktu untuk kita. Sekarang lebih baik kita bersenang-senang. Kita makan siang bersama dan pergi ke mall," ucap Lena lagi, berharap kali ini Ellen tak membantah.
"Nah, betul juga ide Mamah. Sebaiknya kita habiskan hari ini dengan kebahagiaan," timpal Bella sambil tersenyum lebar. Meski ia juga tak rela jika harus meninggalkan keluarga kecilnya. Namun, ia bisa apa? William bukanlah orang yang bisa ia lawan.
Ellen dan Alland saling pandang dengan gurat mata sendu. Namun, sepertinya mereka mencoba berdamai. Hingga akhirnya mereka sama-sama menganggukkan kepala.
Detik selanjutnya Bella langsung memeluk kedua adiknya dengan penuh kehangatan. Selamanya mereka adalah tempat Bella pulang. Terlepas dari hubungannya dengan William.
***
Waktu makan siang telah tiba, Deborah yang saat itu berada di ruangannya baru saja memesan makan secara online. Dari kemarin ia masih berusaha menghubungi William. Namun, pria itu belum juga membuka blokir pada nomornya.
Menunggu pesanannya datang, Deborah bangkit dan berjalan ke arah jendela. Dari atas ruangannya, dia bisa melihat aktivitas para mahasiswa. Dia sedikit mengulas senyum, kemudian tak berselang lama, sebuah ketukan pintu membuat dia menoleh.
"Ya, masuk!" titah Deborah tanpa berpindah tempat.
Setelah mendapat izin, orang yang ada di luar sana langsung membuka pintu, ia membawa beberapa bungkus makanan pesanan Deborah.
"Miss, ini pesanan anda sudah datang," ucap seorang wanita yang merupakan petugas kebersihan di gedung kampus tersebut.
__ADS_1
"Oh iya, taruh saja di meja," balas Deborah kemudian berjalan menuju kotak kecil. Dia mengambil satu lembar kertas dari sana. "Ini tips untukmu. Terima kasih ya." Lanjutnya yang membuat wanita itu merasa senang.
"Saya juga berterima kasih, Miss. Oh iya, Miss, ini ada titipan juga dari seseorang. Tapi dia minta dirahasiakan identitasnya," ujar wanita itu sambil mengulurkan paper bag berwarna coklat.
Saat Deborah membukanya, ternyata isinya adalah minuman dan juga sebuah kartu nama. Dia langsung mengerutkan kening. Karena kartu nama tersebut adalah miliknya. Dia berpikir sesaat, hingga dia teringat dengan Leo.
Deborah pun akhirnya tersenyum. "Ya, aku sudah tahu siapa yang mengirim minuman ini. Kamu boleh keluar."
Dengan wajah sumringah, Deborah meraih makan siangnya, dan memilih untuk duduk di sofa. Sementara wanita petugas kebersihan itu langsung pamit undur diri. Tanpa curiga Deborah memakan makannya dengan lahap. Dan meneguk minuman yang ia anggap dari Leo.
Belum ada satu jam terlewat. Tiba-tiba Deborah merasakan sesuatu yang bergejolak. Hingga membuat ia langsung berlari ke arah toilet. Di depan wastafel ia langsung memuntahkan kembali apa yang sudah masuk ke dalam mulutnya. Bahkan kepalanya pun ikut merasa pening.
"Huwek, huwek!"
Rasa mual itu terasa sangat hebat. Hingga membuat sekujur tubuh Deborah berubah menjadi dingin. Dengan langkah sempoyongan, dia pun segera meraih telepon berusaha menghubungi siapa pun.
"Tolong aku—huwek!" Deborah langsung menutup mulut, karena makanan yang ada di perutnya seakan didorong naik. Tak tahan, dia kembali berlari dan memuntahkan isi perutnya.
Namun, saat beberapa orang datang, Deborah sudah nyaris tak sadarkan diri. Hingga membuat mereka langsung panik, dan segera menyiapkan ambulans.
__ADS_1