Pemuas Sang Cassanova

Pemuas Sang Cassanova
Bab 71. Dalang Sesungguhnya


__ADS_3

"Akhirnya kau datang," ucap Dimitri memberi sambutan kepada William. Pria paruh baya itu menunjukkan seringai licik, karena ia sudah menyiapkan sebuah permainan.


William langsung mengarahkan tatapannya pada Dimitri. Namun, dia hanya bisa membeku dengan rahang yang mengeras, karena di tangan pria paruh baya itu sudah ada Ellen yang siap untuk dikorbankan. Ya, seluruh yang ada di rumah Lena pun turut dibawa ke tempat ini, kecuali Leo. Entah di mana pria itu berada, yang jelas dia dipisah dengan Bella.


William tak bisa langsung menguapkan segala amarahnya atau pun membebaskan Bella. Karena pria itu memiliki ancaman yang sangat bagus, yakni adik Bella sendiri.


"Kenapa kau diam saja, Tuan William? Bukankah kau sudah tidak sabar ingin menghabisiku?" ucap Dimitri dengan tampang meledek, tangannya yang satu terus mengunci leher Ellen, sementara tangan yang lain memegang pistol dan diarahkan ke kepala gadis kecil itu.


Ellen sudah menangis, tetapi mulutnya dibungkam dengan sebuah lakban, jadi dia tidak bisa menghasilkan suara.


William menghela nafas kasar, menghadapi orang licik seperti Dimitri tentunya harus dengan kelicikan juga. "Apa yang sebenarnya kau inginkan? Jangan jadi pengecut yang hanya mengandalkan kelemahan orang. Bella maupun anak itu tidak tahu apa-apa, tapi kau justru ingin melenyapkan mereka!" ujar William, genggamannya mengerat pada ujung pistol yang ada di tangannya. Namun, sekali lagi dia harus sabar, dia tidak boleh gegabah yang akhirnya akan membahayakan Bella.


Dimitri terkekeh keras, dia tidak peduli pada semua ucapan yang pria itu lontarkan, karena dia hanya butuh kematian Bella, agar ia bisa hidup dengan tenang serta bergelimang harta.


"Kau tidak perlu tahu! Sekarang aku beri kau pilihan, bunuh dia, atau kau bunuh anak ini!" ucap Dimitri yang membuat mulut Bella menganga. Tangis gadis itu semakin pecah, sementara rahang William berubah mengeras.


William sangat emosi, karena dia seperti dihadapkan oleh jalan buntu. Tidak mungkin ia membunuh Bella dengan tangannya sendiri, tetapi mengorbankan Ellen pun tidak akan dia lakukan. Karena gadis kecil itu tidak bersalah apa-apa. Dimitri yang sudah gila!


"Tuan," panggil Bella dengan suara yang sumbang, karena saat ini yang bisa ia lakukan hanyalah menangis dan menangis. Semakin ia melawan, malah pukulan yang ia dapat, hingga wajahnya sudah lebam sana-sini. Bahkan perutnya pun sudah terasa sakit dari tadi. "Jangan, Tuan ... jangan bunuh Ellen. Lebih baik anda bunuh saya saja. Saya tidak apa-apa, asal adik saya tetap hidup." Sambung Bella dengan tatapan memohon.

__ADS_1


Dia benar-benar tidak tahu siapa Dimitri dan ada masalah apa dengan keluarganya. Karena pria paruh baya itu hanya mengatakan dia harus mati. Dan kalau memang William dihadapkan dengan situasi seperti ini, maka dia akan mengalah.


William terdiam dengan dada yang berdenyut nyeri, apalagi mendengar Bella yang terus terisak. Lantas bagaimana ia bisa hidup tanpa Bella? Jika melihat gadis itu terluka saja sudah hampir membuatnya gila. Ya, lihatlah dia menggila sampai tak memedulikan nyawanya.


"Bagaimana? Aku tidak memiliki waktu banyak, jadi pikirkan cepat!" ujar Dimitri sekali lagi, tetapi tiba-tiba William menarik pelatuknya hingga terdengar suara letusan senjata. Peluru hampir saja menembus kepala Dimitri, tetapi sayang pria paruh baya itu mengelak dan akhirnya mengenai tembok.


"Kau yang akan habis di tanganku!" balas William, membuat seringai di bibir Dimitri perlahan memudar. Pria itu menekan ujung pistolnya pada pelipis Ellen, hingga gadis itu kecil itu ketakutan setengah mati.


"Jangan main-main denganku, karena aku bisa menebak kepala gadis kecil ini kapan saja!" teriak Dimitri dengan menggebu. Dia tidak akan kalah, ia akan membunuh William meski ia harus ikut mati.


Namun, bukannya takut William justru menarik sudut bibirnya ke atas. Bukan dia kalau menyerah begitu saja. Dia akan melemparkan senjata yang paling mematikan pada Dimitri.


Padahal dia sudah melindungi bahkan memberikan privasi yang sangat ketat pada keluarganya. Namun, ternyata semua data itu bocor. Saat William menemui teman lamanya, dia mencari tahu semua tentang Dimitri, dan dia mendapatkan sebuah poin yang sangat penting.


"Keparattt kau!" teriak Dimitri dengan amarah yang meledak. Tanpa segan dia menarik pelatuk, tetapi sebelum itu terjadi sebuah pedang mengayun ke arah tangannya. Sementara Ellen direbut secara paksa oleh seseorang yang entah datang dari mana.


Crash!


"ARGH!"

__ADS_1


Tangan Dimitri terputus dan jatuh bersama pistolnya di lantai. Dia menoleh ke samping, untuk melihat siapa pelakunya. Dan ternyata dia adalah Caka, ayah William yang datang dengan membawa pedang panjang di tangannya.


Sedangkan yang membawa Ellen adalah Aneeq. Kini pria itu sudah berlari keluar, menggendong Ellen dan terus mengarahkan senjata pada anak buah Dimitri yang belum tumbang.


"Daddy," lirih William sambil menatap sang ayah. Pria yang memecutnya beberapa saat lalu, kini datang untuk melindunginya.


Sementara Caka menatap geram pada Dimitri, dia tidak tahu siapa orang ini, tetapi yang jelas dia yakin Dimitri adalah orang yang tidak punya hati.


"Aku tidak akan segan-segan memenggal kepalamu, andai kau melukai putraku!" ucap Caka yang membuat Dimitri terhenyak. Dia tidak menyangka kalau ayah dan anak ini adalah orang-orang yang begitu kejam dalam melawan musuh.


Sambil meringis karena kehilangan tangannya, Dimitri melirik ke sana ke mari. Dia memberi kode pada anak buahnya untuk menyerang Caka. Dan benar saja, belum ada beberapa detik, peluru sudah mengarah pada pria paruh baya itu.


Caka langsung menghindar, tetapi dari sisi lain anak buah Dimitri kembali melakukan serangan.


"Kau urus dia, Nak, pastikan kau mendapatkan kepalanya!" seru Caka, yang membuat semangat William membara.


William tersenyum tipis, karena Dimitri sudah kehilangan satu tangannya, dia yakin bisa mengalahkan pria itu dengan mudah. Dia hendak menembak Dimitri, tetapi lagi-lagi dia harus menahan diri karena tiba-tiba muncul seseorang di belakang Bella. Seorang wanita yang membawa pisau, dan siap membesetkannya di leher sang pujaan.


"Kau bisa mengancam kami, dan kami juga bisa melakukan hal yang sama. Membunuhnya, sama saja kau membunuh wanitamu!" ucap Lena, ternyata dia adalah dalang sesungguhnya, orang yang membuat kekacauan ini.

__ADS_1


__ADS_2