Pemuas Sang Cassanova

Pemuas Sang Cassanova
Bab 36. Urusan Bella Adalah Urusanku


__ADS_3

Setelah kepergian dokter, William menatap ke arah Leo yang tiba-tiba bergerak gelisah. Leo menduga bahwa racun itu berasal dari minuman yang dibeli oleh Bella. Karena tidak mungkin Bella keracunan makanan yang ia masak sendiri, andai iya, pasti semua orang pun akan keracunan juga.


Tiba-tiba William melangkah dan langsung mendorong tubuh Leo hingga menabrak dinding. Rahang pria itu mengeras, karena ia berpikir semua ini gara-gara Leo. "Katakan, apa yang sudah kau berikan padanya!"


"Bukan aku!" balas Leo dengan tegas, tetapi himpitan yang William buat semakin terasa nyata, membuat sistem pernafasannya tersendat.


"Sebelum aku pulang, kau adalah satu-satunya orang yang bersamanya. Kau pasti tahu sesuatu!" ujar William semakin menuntut.


"Iya, tapi bukan aku yang memberikannya, Will. Saat di danau Bella membeli minuman dari seorang wanita tua, setelah itu kami langsung pulang," jawab Leo apa adanya. Dan William yakin, wanita itu adalah salah satu orang bayaran.


William menghembuskan nafas kasar dengan alis yang menaut tajam, berusaha menahan letupan emosi di dadanya, karena ia sadar ia sedang berada di mana. "Aku sudah memperingatimu, Le. Jangan membawa Bella sembarangan, tapi kau tidak mendengarkan aku. Sekali lagi ku lihat dia terluka bersamamu, ku pastikan kau akan habis!" Cetus William dengan tatapan tak main-main. Kemudian melepaskan himpitannya pada dada Leo hingga pria itu bisa menghirup udara bebas.


Detik selanjutnya William menjauh sambil merogoh ponsel. Dia ingin menghubungi Jo untuk menyuruh anak buahnya menjaga Bella di rumah sakit. Karena dia harus pergi untuk menyelesaikan sesuatu.


Bahkan ia juga tak lupa untuk memerintah salah seorang untuk mencari tahu wanita tua yang biasa berjualan minuman di sekitar danau.


"Kau ikut denganku!" Setelah kalimat itu berakhir, panggilan pun terputus. Lalu William masuk ke dalam ruangan Bella, saat membuka pintu dia sempat beradu pandang dengan Leo yang terdiam di tempatnya. "Karena semua ini termasuk kesalahanmu, kau harus menjaga Bella sampai aku kembali!" Ucap William, tetapi tak menjawab apa-apa. Sebab tanpa dipinta pun ia akan ada di samping Bella.


William berjalan ke sisi brankar, di mana Bella sedang terkulai lemah dengan jarum infus yang menancap di tangannya. Wajah gadis itu sudah terlihat lebih berseri, tidak pucat seperti tadi. Menyadari itu William pun cukup merasa lega.


"Padahal kau sudah hampir celaka waktu itu, tapi kenapa tidak hati-hati, hem?" tanya William sambil mendudukkan diri di sisi brankar, tatapannya tak lepas menatap wajah cantik Bella yang sampai saat ini belum membuka mata. "Apakah aku harus selalu menghukummu, supaya kau jadi gadis yang patuh? Haish, tidak mungkin, karena kau terlihat menyukainya."

__ADS_1


William terus melayangkan pertanyaan, meski ia tahu Bella tidak akan mungkin memberikan sebuah jawaban. Kemudian dia menghela nafas, merasa gila sendiri, karena sejauh ini ia malah merasa ada sesuatu yang menggelitik di dadanya.


William mengangkat tangan untuk sekedar mengusap kepala Bella. Namun, tiba-tiba perhatiannya teralihkan saat mendengar suara decitan pintu. William menarik kembali tangannya saat melihat Leo, dan ia memilih untuk bangkit, karena ia harus segera pergi.


"Aku titip dia!" kata William dengan wajah datar. Dia melangkah ke arah pintu, tetapi Leo mencekal pergelangan tangannya.


"Will, selama ini kau hanya melarangku untuk tidak ikut campur dengan hubungan kalian. Tapi kau sama sekali tak memberi alasan. Sebenarnya ada apa dengan Bella, aku rasa aku perlu tahu!" ucap Leo sambil menatap William dari samping.


Namun, William tak ingin Leo ikut campur. Bukan hanya karena tentang Bella, tetapi ia takut sang sepupu pun akan terluka.


"Tapi tidak bagiku. Urusan Bella adalah urusanku. Jadi, aku tidak berhutang penjelasan apa pun padamu!" balas William seraya menepis tangan Leo. Dia kembali berjalan dan meninggalkan ruangan itu, sementara Leo hanya bisa bergeming dengan otak yang dipenuhi tanda tanya.


***


Di sana ada empat orang yang sudah diikat di masing-masing kursi, sementara wajah mereka tampak babak belur, karena tak kunjung menjawab siapa dalang sebenarnya.


Kedatangan William langsung disambut, tetapi tak sedikit pun ia memberikan wajah ramah. Karena ia sudah berada di ambang batas rasa sabar. Dengan sebuah pistol yang ada di tangannya, dia mendekat ke salah satu tawanan. Dia menodongkan benda itu tanpa ragu.


"Jawab aku, siapa yang menyuruh kalian?" tanya William, membuat semua tawanan yang semula menunduk sambil menahan rasa sakit, langsung mengangkat kepala masing-masing.


Mereka saling pandang, karena sadar bahwa William adalah pimpinan di markas ini. Kalau mereka tidak menjawab, sudah pasti riwayat mereka akan habis hari ini juga. Seperti rekan mereka yang tewas malam itu.

__ADS_1


"JAWAB AKU CEPAT!" teriak William sambil mengayunkan pistol ke kepala pria yang ada di hadapannya hingga pria itu langsung mengerang kesakitan.


"Argh!"


"Kalian tahu, aku adalah orang yang tidak memiliki rasa sabar. Jadi, selagi aku masih menggunakan mulutku bicara, segera katakan siapa yang membayar kalian untuk melakukan ini semua?" sentak William dengan nafas yang terengah-engah. Namun, di antara mereka tak ada yang bicara, karena sama seperti rekannya, mereka diancam menggunakan keluarga.


Hening mengambil alih, hingga akhirnya William meloloskan satu buah peluru ke atas. Membuat semua tawanan langsung merasa shock.


DOR!


"JADI KALIAN MEMILIH MATI?"


Lagi, tak ada yang berani bersuara, mereka justru semakin ketakutan dengan kemarahan yang dibuat oleh William. Sementara amarah William sudah berkobar hebat, tanpa pikir panjang dia langsung meloloskan kembali pelurunya, kini tepat mengenai satu tawanan yang ada di paling ujung.


DOR!


DOR!


Tawanan yang lain terbelalak, melihat dua rekannya kembali tewas. Sementara William menaikkan satu kakinya di atas paha pria yang ada di hadapannya.


"Aku tidak main-main, hei! Jadi kalian jangan meremehkan ucapanku!" cetus William dengan gigi yang mengerat.

__ADS_1


"Aaa ... ampun, Tuan, tolong jangan bunuh saya," ucap pria itu dengan wajah memohon. Namun, William yang bengis tentu tidak termakan oleh itu semua.


"Kalau begitu katakan siapa yang menyuruhmu?" ujar William sambil menjambak rambut pria itu dengan keras. Hingga pria itu mendongak dan meringis.


__ADS_2