
"Kalau begitu katakan siapa yang menyuruhmu?" ujar William sambil menjambak rambut pria yang ada di hadapannya dengan keras. Hingga pria itu mendongak dan kembali meringis kesakitan.
William masih menunggu dengan tatapan bengisnya. Namun, tiba-tiba suara ponsel dari tawanan yang lain membuat fokus William teralihkan. William menyeringai lebar, sementara sang pemilik ponsel langsung beringsut takut. Kini hanya ada ia dan rekannya yang masih hidup, tetapi entahlah rasanya nyawa mereka sudah di awang-awang.
William melepaskan jambakannya dengan sekali hentakan, kemudian menurunkan kaki untuk melangkah ke sisi, dan menyuruh anak buahnya untuk mengambil benda pipih yang masih menyala itu. "Ambil ponselnya. Aku yakin bos mereka menelpon!"
Anak buah William langsung melaksanakan tugas, salah satu dari mereka mengambil ponsel tersebut dari balik celana yang dikenakan oleh pria itu. Setelah dilihat, ternyata nomor itu tidak disimpan.
"Nomor baru, Tuan," ujar anak buah William.
"Wah, ternyata kalian orang bayaran sekali pakai. Sayang sekali, uang tidak seberapa tapi nyawa kalian taruhannya," cibir William, sementara panggilan itu terus masuk.
"Terima panggilannya dan biarkan dia bicara!" ucap William sambil menyunggingkan senyum sinis. Kali ini ia akan tahu siapa orang dibalik ini semua.
Panggilan sudah terhubung, anak buah William memegang ponsel itu dan menyodorkannya ke arah tawanan. Tidak ada yang bersuara, karena mereka tidak ingin orang yang ada dibalik telepon itu merasa curiga.
"Kalian di mana? Kenapa tidak ada yang memberi kabar sedikit pun?" Suara seorang pria mulai mengisi heningnya suasana, tetapi William benar-benar tak bisa mengenali suara itu.
__ADS_1
Kau bukan orang yang aku kenal. Tapi, kita lihat, kau atau justru orang lain dalangnya.
William kembali menodongkan senjatanya, supaya pria itu lekas menjawab. Namun, pria itu justru meneguk ludahnya berkali-kali. Dia ragu, karena seperti apa pun langkahnya, dia akan selalu menemui jurang. Dia serba salah.
"Hei, jawab aku!" ketus pria yang ada di ujung sana, karena tak lekas mendapat jawaban.
"Ya, Tuan, kami hanya tersisa dua orang. Karena yang lain sudah ditangkap oleh orang-orang yang menolong gadis itu," jawab pria itu dengan terbata-bata, terpaksa mengikuti permainan William. Karena ujung pistol itu seperti sudah mengorek isi kepalanya.
"Kalau begitu temui aku sekarang! Aku akan mengirim alamatnya ke ponselmu," ucap pria bernama Derry, dia adalah asisten dari pria paruh baya yang saat ini mengincar Bella. Tanpa menunggu jawaban Derry langsung mematikan ponsel, sementara William merasakan sesuatu yang bergemuruh di dadanya.
Apalagi saat satu notifikasi pesan muncul, memperlihatkan sebuah alamat yang diberikan oleh Derry. William mengambil alih ponsel itu dan menggenggamnya dengan erat.
Tali yang mengikat dua tawanan itu langsung dilepaskan. Namun, tanpa diduga keduanya kompak berontak, seperti sudah memberi kode lewat tatapan masing-masing. Hingga keadaan sedikit ricuh.
William yang sudah di ambang pintu melirik, kemudian tanpa segan melepaskan kembali pelurunya.
DOR!
__ADS_1
"Argh!" Suara erangan kembali terdengar. Timah panas itu mengenai tepat sasaran, satu tawanan mendapatkan luka di bagian lengan, hingga dalam sekejap darah segar langsung mengucur dari sana. Akhirnya mereka tidak lagi melakukan perlawanan.
"Aku sudah bilang, jangan main-main denganku! Kenapa kalian keras kepala?" ucap William dengan satu alis terangkat kemudian melirik Jo yang hanya bisa geleng-geleng kepala.
Tanpa peduli kesakitan yang dirasakan oleh tawanan itu. Jo langsung menarik kasar, agar keduanya masuk ke dalam mobil. Dan di sepanjang langkah, cairan berwarna merah terus mengikuti mereka.
***
Derry sudah menunggu kedatangan orang-orang bayarannya di sebuah jalanan yang sepi, apalagi ditambah gelapnya malam, membuat tempat tersebut jarang dilewati.
Tak berapa lama kemudian sebuah mobil taksi datang. Derry langsung bergegas karena yakin di dalam mobil tersebut ada orang yang sedang ia tunggu-tunggu.
Derry sedikit mengerutkan kening, melihat penampilan dua orang yang ada di hadapannya begitu berantakan. Apalagi banyak luka di sana-sini. Sepertinya William dan anak buahnya habis menyiksa mereka.
"Mereka menyiksa kalian?" tanya Derry, dan langsung mendapat anggukan dari keduanya. Karena mereka dapat menyaksikan langsung, betapa kejamnya William dalam menghadapi musuh-musuhnya.
"Tuan—" Salah satu dari mereka hendak mengadu, kalau sebenarnya di belakang sana sudah ada anak buah William yang siap untuk mengepung, namun belum sempat bicara ia sudah ditembak dari belakang, membuat Derry langsung membelalakkan mata.
__ADS_1
"Jadi kau orangnya?" tanya William kemudian meniup senjata api yang ada di tangannya, dia menatap Derry dengan tatapan remeh.