
Sementara di sisi lain, Jo masih berusaha untuk mencari keberadaan anak buahnya yang tiba-tiba hilang tanpa kabar. Hingga titik terakhir pada ponsel pria itu terlacak berada di rumah Lena. Tanpa ba bi bu Jo langsung pergi ke alamat tersebut.
Jo yakin ini semua ada sangkut pautnya dengan orang yang menginginkan nyawa Bella. Untuk itu ia mewanti-wanti seluruh anak buahnya agar tidak berlaku gegabah.
Setibanya di sana, Jo langsung turun. Dia tidak tahu tempat siapa yang Leo dan Bella singgahi, karena ia memang tidak pernah mendatangi tempat ini. Hanya William yang tahu, sebab pria itu pernah mengantar Bella.
"Di mana dia?" gumam Jo seraya mengedarkan pandangan, dia mengitari beberapa rumah dan berjalan dari ujung ke ujung. Hingga ia melihat sebuah mobil hitam yang tak begitu asing di matanya.
Kendaraan roda empat itu terparkir di sisi jalan, membuat Jo langsung menyipitkan mata. Saat melihat nomor plat yang tertera, Jo sangat yakin kalau mobil tersebut milik sang tuan yang digunakan oleh Leo untuk membawa kabur Bella.
Untuk mendapatkan petunjuk, Jo langsung menghampiri mobil itu dan berusaha membukanya, ternyata tidak dikunci sama sekali. Sepertinya semua ini memang sudah direncanakan. Saat pandangan matanya mengedar, Jo langsung membelalakkan matanya lebar-lebar, karena ada salah satu anak buahnya di sana.
Namun, pria itu tampak tak sadarkan diri, hingga Jo lekas memeriksanya. Jo kembali terbelalak, karena ternyata anak buahnya sudah meninggal dunia.
"Keparattt!" umpatnya dengan keras, semakin yakin kalau Bella dan Leo sudah ada di tangan Dimitri. Apalagi saat ia melihat sebuah pesan yang ditulis di kertas menggunakan tinta berwarna merah, yakni darah.
[BELLA DAN SEPUPUMU ADA DI TANGANKU.]
Jo langsung meremas kertas tersebut hingga berubah lusuh. Kini keselamatan Bella dan Leo tergantung seberapa cepat ia bisa menemukan kedua orang itu.
Tak ingin membuang-buang waktu, Jo langsung kembali ke mobil. Dia harus mencari tahu di mana Dimitri menyandra Bella dan Leo.
Baru saja Jo duduk di balik kursi kemudi, ponsel pria itu berdering. Tertera nama sang tuan di layar, hingga ia segera mengusap benda pipih tersebut. "Halo, Tuan, saya sudah mendapat kabar."
__ADS_1
"Apa itu?"
"Saya pergi ke lokasi terakhir di mana anak buah saya berada, dan ternyata dia sudah meninggal. Satu pesan tertulis di samping mayatnya, kalau Tuan Leo dan Nona Bella sudah ada di tangan Tuan Dimitri," jelas Jo dengan gamblang. Dan semua itu sukses menyulut amarah di dada William.
"Badjingan kau Dimitri!" maki William sambil mencengkram kuat kemudi. "Memangnya kau di mana sekarang?"
Jo langsung menyebutkan nama jalan yang tengah dia singgahi. Dan William masih hafal betul tempat itu. Ternyata Bella pulang ke rumah Lena.
"Cari Bella dan Leo di rumah nomor 32. Kalau tidak ada segera lapor padaku. Aku akan pergi ke tempat lain," ucap William dan langsung diiyakan oleh Jo. Setelah panggilan terputus, William kembali mengotak-atik ponsel untuk melacak lokasi terkini Deborah.
Karena sudah berhasil menyadap ponsel wanita itu, pekerjaannya pun jadi lebih mudah.
William segera menyalakan mesin mobil, membawa kendaraan itu meninggalkan mansion keluarganya. Dia menjadi super sibuk sekarang, karena ia harus menghubungi beberapa orang untuk mengetahui di mana posisi Bella.
Bukan di kampus maupun di rumah, Deborah ada di tempat yang belum pernah William datangi. Firasatnya mengatakan bahwa Bella ada di sana.
.
.
.
William semakin yakin dengan dugaannya karena ia mendapat kabar dari Jo, bahwa Bella dan Leo tidak ada di rumah Lena. Sebab di rumah itu sudah tidak ada siapa-siapa. Jo hanya menemukan adanya bercak darah, sepertinya di sana sudah sempat ada perlawanan.
__ADS_1
Sementara itu, Dimitri sudah besar kepala. Dia yakin hari ini William akan kalah, karena Bella sudah ada di tangannya. Selain melihat gadis itu mati, ia pastikan bahwa William juga akan mendapatkan sesuatu yang pantas. Meski ia sudah berjanji pada Deborah untuk tidak melukai pria itu, tetapi tetap saja, William adalah orang berbahaya. Maka dari itu Dimitri memiliki rencana lain di belakang sang keponakan.
Karena sudah sering dikalahkan oleh William. Apalagi pria itu sudah mengetahui di mana markasnya berada. Dimitri meminta pada Derry untuk membawa Bella ke tempat lain. Tempat yang cukup jauh dari tempat tinggal mereka, supaya tidak mudah dijangkau.
Namun, bukan William namanya kalau tidak bisa mengatasi orang seperti Dimitri. Karena dia selalu memiliki opsi lain, ketika rencana pertama tak berjalan dengan semestinya.
Tanpa peduli rasa perih yang masih membekas di punggung. Pikiran William hanya penuh tentang Bella.
Hingga tiba-tiba ia tersadar, bahwa ada satu mobil yang terus mengikutinya. Jangan bilang Dimitri memerintahkan anak buahnya untuk memata-matai William. "Cih, setakut itu kau padaku?" Maki William sambil melirik ke spion, sambil menyetir pria itu berusaha untuk mengeluarkan pistol yang senantiasa ia simpan di saku jas.
Tanpa ba bi bu ia langsung menembakkan benda tersebut, hingga mengenai kaca depan. Anak buah Dimitri pun langsung terbelalak, dia berusaha untuk menghindar karena ternyata William sudah mengetahui keberadaannya.
"Tuan harus segera tahu, karena Tuan William benar-benar sangat cerdik."
Sambil menerima beberapa peluru yang melesat, anak buah Dimitri berusaha untuk menelpon sang tuan. Supaya Dimitri berhati-hati, karena sepertinya William akan menuju ke tempat di mana Bella disekap.
Namun, baru saja ia mendekatkan ponsel ke telinga. Tanpa bisa mengelak sebuah timah panas menembus ke kepalanya.
Alhasil mobil menjadi oleng, hingga berujung menabrak trotoar. Tak berapa lama kemudian, terdengar sebuah letusan yang begitu mengejutkan.
DUAR!
Api langsung berkobar hebat akibat ledakan mobil tersebut. Membuat sebagian orang yang tengah melintas merasa terkejut.
__ADS_1