
Rasa kasihan adalah alasan utama Jo membawa Emma bersamanya. Entah kenapa melihat wajah Emma yang menyedihkan membuatnya merasa tak tega, apalagi gadis itu benar-benar sudah tak memiliki siapa-siapa. Bahkan harta peninggalan Dimitri pun akan diberikan pada Bella.
Untuk kali ini saja, dia membangkang pada William. Karena berani membawa pulang anak musuh mereka. Jo memesan satu kamar lagi untuk Emma tempati, dan melakukan apapun yang dikehendaki hatinya.
Emma pun merasa sangat berterima kasih, karena ternyata pria berwajah datar yang memberikan informasi tentang ayahnya masih memiliki hati nurani.
Sementara William? Jangan ditanya, dia merasa sangat jengah hingga terus melayangkan tatapan seram. Emma sampai menunduk terus, karena merasa diintimidasi oleh tatapan itu.
Kini mereka bertiga sedang makan malam di restoran yang satu atap dengan hotel yang mereka tempati. Jo merasa bahwa dia harus memberi makan kucing kecilnya, jadi dia langsung memesan 5 menu sekaligus.
"Cih, perhatian sekali kamu!" William berdecih sambil melirik sinis. Padahal kemarin Jo membelanya mati-matian, sampai harus menodong Ervin dengan senjata. Namun, di depan gadis ini? Jo berubah seperti pahlawan.
"Tuan, anda ingin pesan apa?" Tak memedulikan cibiran tuannya, Jo berusaha mengalihkan pembicaraan. Sementara Emma merasa tak enak sendiri, karena sepertinya orang yang kerap dipanggil 'Tuan' ini tidak bisa menerima kehadirannya. Kenapa? Apakah karena dia adalah anak seorang penjahat?
Tatapannya menyeramkan sekali, apakah ada yang sanggup hidup dengan orang seperti dia? Batin Emma sambil meremas buku jarinya yang berkeringat. Sedari tadi dia tak berani untuk mengeluarkan suara, karena bernafas saja rasanya sudah salah.
"Aku ingin pesan yang tidak dipesan olehmu!" jawab William dengan raut wajahnya yang tak berubah. Apalagi kini dia sedang jauh dari Bella, jadi tak ada yang mampu memadamkan api kekesalannya.
Jo langsung mengangguk, dia kembali memilih beberapa menu untuk dicatat oleh sang pelayan. Kemudian mereka menunggu makanan dengan mulut yang saling bungkam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
__ADS_1
.
.
.
Sedari tadi William adalah orang yang paling mengundang perhatian. Bagaimana tidak? Dia memotong steak dengan keras, hingga menimbulkan suara yang begitu nyaring.
TAK!
Suara itu kembali mengudara, membuat Emma kesulitan untuk menelan makanannya. Kalau begini ceritanya, lebih baik dia makan di kamar saja.
"Makanlah, kenapa kalian diam saja?" ucap William saat melihat Jo dan Emma sama-sama bergeming.
Jo langsung mengangguk, berbeda dengan Emma yang enggan untuk melanjutkan makan malamnya. Namun, Jo melirik gadis itu, isyarat matanya menunjukkan bahwa dia menyuruh Emma untuk segera menghabiskan makanannya atau William akan semakin marah.
Hah, kenapa jadi serba salah begini? Orang ini kenapa sih?
Akhirnya Emma pun menurut, sebisa mungkin dia melahap habis semua yang ada di piring, supaya William merasa puas.
__ADS_1
Hingga setelah makan malam telah selesai, mereka langsung memutuskan untuk kembali ke kamar. Namun, saat William baru bangkit dari kursinya, tatapan pria itu tertuju pada arah lain. William tertegun sesaat. Sementara manik mata setajam elang itu begitu yakin kalau ia tidak salah lihat.
William melirik Jo yang tak memberikan reaksi apapun, karena sepertinya pria itu tidak melihat apa yang ia lihat. William segera memutar badan, lalu berkata. "Kalian duluan saja, ada sesuatu yang harus aku lakukan!"
Jo mengernyitkan dahinya, sementara William sudah melangkah entah mau ke mana. Dia melirik ke sana ke mari, tetapi tak ada satu pun tanda yang membuatnya dapat menebak apa yang akan dilakukan oleh sang tuan.
"Kalau Tuan Jo mau pergi juga, pergilah, aku tidak apa-apa kok," ujar Emma melihat tatapan Jo yang terlihat cemas. Namun, saat Jo membalas tatapan mata Emma, bayangan kucing kecil kelaparan kembali terngiang-ngiang di kepalanya. Padahal mereka baru saja makan.
"Aku akan mengantarmu, cepatlah!"
Akhirnya Jo mengantar Emma untuk kembali ke kamarnya terlebih dahulu. Sementara William sudah berdiri di balik dinding dengan sebatang rokok di tangannya. Dia terlihat sedang menunggu seseorang keluar.
Selang beberapa menit, terdengar suara langkah kaki, William langsung menyeringai tipis, kemudian menjatuhkan rokoknya yang sudah hampir habis. Dia mengusak dengan kasar, lalu mengintip dengan ekor matanya. Dengan kepercayaan diri penuh, William langsung memanjangkan tangan dan menarik seorang wanita yang baru saja lewat.
Wanita itu sedikit berteriak dan hampir kehilangan keseimbangan tubuhnya. Namun, ada yang lebih membuatnya terkejut, yakni seorang pria yang ada di hadapannya.
"William?" lirih wanita itu dengan suara yang nyaris tak terdengar. Sementara pria yang dipanggil namanya langsung menarik senjata dan menodongkan benda itu ke kepalanya.
"Bagaimana bisa seseorang yang sudah pergi ke neraka kembali ke dunia ini? Apakah kau melakukan sebuah reinkarnasi?" ucap William dengan satu alis terangkat. Wajahnya pun masih sama, seperti terakhir kali mereka bertemu. Tampan namun dingin dan menyeramkan.
__ADS_1