
Derry dibawa ke markas dan segera mendapatkan penanganan, sebab dia terluka cukup parah akibat perkelahiannya dengan William. Dia tidak sadar, kalau mobil yang ia bawa sudah dipasang alat pelacak dan juga alat penyadap.
Saat pertarungan berlangsung, Jo yang mendapatkan tugas tersebut diam-diam masuk ke dalam mobil Derry, kemudian memasang dua alat itu. Sebuah opsi kedua jika mereka gagal menangkap Derry. Jadi, setidaknya William bisa mengetahui di mana tempat persembunyian orang yang selalu mengincar Bella.
"Tuan, apakah saya perlu melapor pada Tuan Besar?" tanya salah seorang anak buah Derry. Membuat Derry langsung mengalihkan tatapannya, dia menggeleng pelan, karena hal tersebut hanya akan membuat sang tuan menganggapnya lemah.
"Biar aku saja, kalian beristirahatlah!" ujar Derry kemudian berusaha bangkit dengan dibantu oleh seorang dokter yang menanganinya. Dia meraih ponsel, untuk menghubungi sang tuan.
Pada dering pertama panggilan Derry masih diabaikan. Sebab pria paruh baya itu sedang menunggu kedatangan seseorang. Sampai suara deru mobil memenuhi halaman rumahnya, pria paruh baya itu langsung bergegas menuju pintu utama.
"Daddy menungguku?" tanya seorang wanita yang ternyata anak dari pria paruh baya itu. Sedikit terkejut karena sang ayah sampai menunggu kedatangannya.
"Daddy khawatir, karena hari sudah malam," jawabnya, kemudian merangkul bahu sang anak agar segera masuk ke dalam rumah.
"Aku sudah besar, Dad, apa yang Daddy khawatir 'kan?"
"Di mata Daddy kamu tetap anak kecil!" Pria paruh baya itu mengecup kening sang anak, dengan senyum yang membuat gurat di wajahnya semakin kentara. Kemudian mereka sama-sama melangkah menuju kamar masing-masing.
Namun, tiba-tiba pria paruh baya itu melirik ke arah meja di mana ponselnya tergeletak. Benda pipih itu masih bergetar dan menyala, tanda ada sebuah panggilan masuk.
"Daddy terima telepon dulu," ujarnya dan langsung menerima anggukan dan juga kecupan selamat malam. Dia segera mengambil ponselnya, kemudian menerima panggilan dari asistennya, Derry.
__ADS_1
"Halo, Tuan, saya sudah kembali ke markas," ucap Derry sambil meringis, menahan sakit di perutnya.
"Lalu, bagaimana dengannya?" tanya pria paruh baya itu to the point. Dia ingin kabar tentang William yang begitu keras melindungi Bella.
"Tadi kami sempat berkelahi, dan saya mendapat beberapa serangan darinya. Dia benar-benar tak bisa diremehkan, Tuan. Tapi anda tenang saja, identitas anda tidak akan mungkin terbongkar, karena saya akan menjaganya dengan baik," jelas Derry tak begitu panjang. Karena tak ingin membuat sang tuan marah karena kekalahannya.
"Apakah kau tidak bisa membunuhnya saja?" tanya pria paruh baya itu, membuat Derry meneguk ludahnya dengan berat.
"Maaf, Tuan, kita perlu strategi, apalagi untuk melenyapkan Nona Bella tanpa ada jejak," ujar Derry dengan jujur, sebab William termasuk orang yang cukup kuat. Dan pastinya William akan memikirkan berbagai cara untuk mencari tahu siapa mereka sebenarnya.
"Aku tunggu ide dari otakmu, kalau kau tidak juga menemukan solusi. Kau yang ku tumbalkan padanya!" ucap pria paruh baya itu kemudian segera memutus panggilannya. Tak ingin mendengar lebih banyak omong kosong.
****
"Kenapa memasang wajah seceria itu?" tanya William saat melihat wajah Bella yang begitu sumringah. Berbalik dengan dia yang jarang sekali menampakkan senyum. Hingga orang-orang pun tak bisa menebak seperti apa suasana hati William.
"Karena aku senang sudah diperbolehkan pulang. Itu artinya aku akan kembali melayani Tuan dan bertemu dengan keluaragku," jawab Bella apa adanya. Namun, semua itu tak bisa membuat William merubah mimik wajahnya sedikit pun.
"Apakah kau sesenang itu?"
Bella mengangguk cepat, kemudian dia memberanikan diri untuk mencubit kedua pipi William agar bibir pria itu nampak tertarik seperti sedang tersenyum. Namun, William segera menepis tangan Bella.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?" tanya dengan kedua alis yang menaut. Bella yang biasanya langsung tersinggung, kini hanya memberikan jawaban singkat.
"Supaya Tuan terlihat sedang tersenyum."
"Tidak boleh, kau namanya kurang ajar!" cetus William dengan tatapan tak suka. Akan tetapi lagi-lagi Bella menunjukkan sikap yang lebih berani, dia meraih tangan kekar William untuk dipeluknya erat.
"Maaf, lain kali aku akan menggunakan tangan ini hanya untuk melayani anda saja," balas Bella sambil tersenyum manis, membuat William gagal mengomel. Pada akhirnya pria itu membiarkan Bella menggandeng tangannya hingga masuk ke dalam mobil. Meski kini ia terlihat seperti om-om yang memacari bocah sekolah.
***
"Kau yakin ini rumahnya?" tanya William saat sudah berada di depan rumah seseorang. Bella mengangguk ragu, karena sebenarnya dia juga samar-samar mengingat alamat rumah Lena yang baru. Ponselnya yang lama sudah hancur, jadi tak ada yang tersisa selain ingatan di otaknya.
"Kalau begitu ayo keluar! Aku akan mengantarmu sampai ke dalam," ujar William, tetapi Bella tak lantas mengiyakan, ia malah terdiam setelah berpura-pura tak bisa melepas seat belt yang terpasang di tubuhnya.
"Kenapa kau diam saja? Apakah alamatnya salah?" tanya William setengah menyolot. Mohon dimaklumi, ini sudah setelan dari pabriknya.
Bella menggeleng kecil. "Tuan, seat belt-nya susah." Ujar gadis itu setengah merengek, membuat William langsung melongo. Seumur-umur dia tidak pernah melakukan hal konyol seperti itu, sekarang saat bersama Bella dia malah seperti seorang remaja yang sedang kasmaran.
Tanpa banyak bicara William melepaskan seat belt tersebut, membuat Bella menahan senyum dengan menggigit bibir bawahnya.
Baru setelah itu mereka sama-sama menyambangi rumah yang Bella rasa adalah rumah Lena. Semoga saja ingatannya benar. Mereka berdua sempat menunggu beberapa saat, hingga akhirnya pintu pun terbuka.
__ADS_1
Lena langsung dibuat terperangah oleh kedatangan anak tirinya. Namun, ada yang lebih dari itu karena tiba-tiba di belakang Bella muncul wajah seram seorang pria.
"Astaga!" refleknya.