Pemuas Sang Cassanova

Pemuas Sang Cassanova
Bab 27. Pertunangan


__ADS_3

Pulang dari perusahaan William langsung menyambangi hotel, tempat di mana akan diadakannya pertunangan antara ia dan Deborah. Dia bersiap-siap di dalam kamar, mengganti setelan jas dengan tuksedo yang sudah disiapkan.


William menatap pantulan wajahnya yang garang di dalam kaca besar yang memiliki ukuran setinggi tubuhnya. Tidak ada senyum, sebab tak ada kebahagiaan sedikit pun di dalam hatinya. Karena yang ia lakukan hanyalah semata-mata mengikuti apa kata kedua orang tuanya.


Saat ia sudah berpakaian lengkap, tiba-tiba pintu kamar terbuka diikuti langkah Deborah yang mendekat ke arahnya. Wanita itu tampak semakin cantik dalam balutan dress berwarna gold, apalagi senyum cerah senantiasa tersemat di bibirnya yang plumpy.


"Kamu sudah siap, Will?" tanya Deborah sambil menyentuh bahu kekar William. Pria itu langsung mengangkat pandangan, dan melihat dua pantulan wajah mereka berdua. Sungguh menyiratkan reaksi yang sangat berbeda.


"Kamu lihat? Kita sangat serasi," ucap Deborah memuji bayangan mereka berdua. Karena di matanya, William tetap tampan dalam keadaan apa pun.


"Untuk apa kau datang ke sini? Bukankah sebentar lagi acaranya akan dimulai?"


Tak menanggapi ucapan Deborah, William justru mengalihkan pembicaraan seraya menggerakkan bahu agar tangan wanita itu terlepas.


Berhasil, Deborah langsung menarik tangannya, tetapi dia justru berpindah posisi, yakni berdiri tepat di depan William, untuk membenahi dasi kupu-kupu yang dikenakan pria itu.


Sementara William hanya terdiam, karena di dalam pandangannya, dia malah melihat Bella yang setiap hari melayaninya. Hingga ia tersadar saat Deborah berkata. "Aku hanya ingin memastikan bahwa kamu tidak kabur dan menggagalkan pertunangan kita, Will."


Deborah sedikit mengusap dada bidang William sebagai tanda bahwa pekerjaannya sudah selesai. Sementara pria itu memalingkan wajah, bisa-bisanya dia malah teringat dengan Bella, padahal sudah beberapa hari ini mereka tak saling bicara.

__ADS_1


"Oh iya, aku ingin mengingatkanmu sekali lagi. Meski kita sudah bertunangan, kau tidak bisa mengaturku. Karena selanjutnya kita akan tetap berjalan sendiri-sendiri," ucap William, karena dia tidak ingin bergantung pada sebuah komitmen. Yang dia butuhkan hanya status, itu sudah cukup.


"Kamu tenang saja, Will, aku akan mengikuti apa katamu. Bukankah kelak seorang istri harus patuh pada perintah suaminya?" balas Deborah sambil menyunggingkan senyum misterius, kemudian dia melangkah pergi meninggalkan William di dalam kamar.


Dia akan kembali bergabung dengan keluarganya yang sudah menunggu di ballroom hotel.


Sementara itu, Bella yang sedang membutuhkan banyak referensi buku, akhirnya meminta izin pada William untuk pergi ke perpustakaan terbesar yang ada di ibu kota. Kebetulan letak tempat tersebut tak begitu jauh dari apartemen William.


"Dia hanya membaca pesan dariku, itu artinya dia memberiku izin bukan?" gumam Bella sambil menatap benda pipih yang ada di tangannya. Beberapa detik ke depan dia hanya bisa termangu, hingga akhirnya dia memilih untuk bergegas pergi.


Dia tak ingin membuang waktu, karena takut perpustakaan akan segera tutup, Bella kembali turun ke basemen dan menemui supir yang selama ini mengantarnya ke mana-mana.


Selama perjalanan Bella terus melamun, merangkai semua kisah yang sudah terjadi di hidupnya. Dia benar-benar tak memiliki sebuah firasat apa pun, kalau ternyata William sedang melangsungkan pertunangan dengan wanita lain, yakni dengan ketua yayasan yang menaungi kampusnya.


**


Semua mata tertuju pada si empunya acara yakni William dan Deborah. Keduanya seperti bintang, karena terlihat memancarkan cahaya. Ya, meksipun dapat dilihat dengan jelas, kalau hanya Deborah yang tersenyum cerah.


"Sayang, angkat bibirmu sedikit dong," senggol Eliana pada putranya yang senantiasa memasang wajah datar.

__ADS_1


"Tidak bisa, Mom, ini wajah bawaan Daddy," balas William yang membuat Eliana menelan ludah. Namun, apa yang dikatakan William memang benar, kedua putranya memang sangat mirip dengan suaminya, Caka.


"Ya sudah, yang penting semuanya berjalan lancar," ujar Eliana, akhirnya tak ingin ambil pusing.


Dia kembali ke tempat duduknya, karena sang MC sudah mulai membuka acara malam itu. Hingga tiba saatnya William dan Deborah diminta untuk maju ke depan, yakni untuk melakukan prosesi tukar cincin.


William mengambil satu bulatan kecil bertatahkan berlian yang tentunya memiliki harga fantastis. Dia menyematkan cincin tersebut di jari manis Deborah, tetapi entah kenapa setelahnya perasaan William mendadak kalut.


Berbeda dengan Deborah yang senantiasa mengulum senyum, apalagi saat ia berganti untuk memasangkan cincin di jari William.


Wajah William berubah gusar, apalagi saat ia melihat ke arah Jo. Pria itu terlihat kebingungan, antara hendak memberikan informasi pada William atau justru pergi sendirian.


Karena dia mendapat kabar bahwa supir yang mengantar Bella, tidak kembali ke apartemen. Pria itu justru berniat untuk membawa Bella entah ke mana.


"Pak, kita mau ke mana? Bukankah seharusnya kita belok di depan sana?" tanya Bella dengan wajah yang mulai ketakutan.


***


__ADS_1


__ADS_2