
Hari itu juga Dimitri benar-benar meninggal. Dan itu artinya masalah di antara mereka telah selesai, mulai saat ini William akan menjalani kehidupan seperti manusia pada umumnya. Yakni menikah, memiliki keluarga serta keturunan.
Namun, sebelum membahas tentang pernikahan. William harus menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu. Karena sudah banyak yang ia tinggalkan selama ia terbaring rumah sakit.
Tepat hari ini William dan Jo akan terbang ke negeri seberang. Sebelum berangkat, pria satu ini berencana untuk menyelinap ke kamar Bella lewat pintu balkon.
William mengetuk dengan cukup keras, membuat Bella yang hendak masuk ke kamar mandi menjadi urung. Gadis itu berjalan dengan pelan, sambil memiringkan kepala, menebak siapa pelaku yang ada di luar sana.
Pertama kali yang Bella lakukan adalah menyibak tirai penghalang pintu kaca itu. Dan detik itu juga Bella mundur beberapa langkah sambil menutup mulutnya.
"Kakak," lirih gadis itu, melihat William yang berdiri tanpa ekspresi apa pun. Tak ingin ada yang tahu, Bella pun segera membuka pintu balkon dan membiarkan William masuk.
Seperti sang pemilik kamar, William berjalan leluasa sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celana. Dia mendekati Bella, sementara gadis itu mundur hingga tubuhnya menabrak dinding.
"Untuk apa Kakak datang sepagi ini?" tanya Bella dengan satu alis yang terangkat. Sementara pergerakannya sudah dikunci oleh William. Pria itu menggulung ujung rambut Bella yang tak masuk dalam ikatan, semakin membuat Bella merasa heran.
William melepaskan gulungan itu hingga rambut Bella berubah menjadi bergelombang.
"Kau tidak ingat kalau aku akan pergi hari ini juga? Selama dua hari kita tidak akan bertemu, apa kau sanggup menahan rindu padaku selama itu?" tanya William, padahal kalimat itu terdengar manis. Namun, entah kenapa ekspresi William malah terlihat seperti singa jantan di musim kawin.
Bella sedikit mendorong dada William saat ruang di antara mereka nyaris terkikis. "Iya aku ingat, terus kenapa? Kalau rindu kan kita bisa melakukan panggilan video." jawab Bella yang memiliki otak normal dan seputih salju. Tidak dengan William yang mulai menunjukkan seringai tipis.
Tanpa membuang waktu, William segera merengkuh pinggang Bella dan mendorong gadis itu masuk ke dalam kamar mandi. Rencananya dia ingin mengajak Bella mandi bersama. "Tapi aku tidak rela meninggalkanmu, Honey. Bisakah kau ikut saja denganku?"
"Tidak mungkin dong, Kak, Mommy dan Daddy pasti tidak mengizinkan," jawab Bella setengah merengek sambil merasakan air yang mulai menetes membasahi kepalanya.
__ADS_1
William membuka kaos yang melekat di tubuhnya. Hingga Bella bisa melihat jahitan di perut serta dada pria itu. Sebuah tanda yang akan ia ingat sampai mati, bahwa William adalah penyelamat hidupnya.
"Kalau begitu kita nikmati pagi ini. Beri aku asupan supaya bisa pergi dengan tenang," ucap William seraya mengusap perut Bella dengan lembut.
Tatapan William berubah sendu dan dipenuhi kabut hasrat. Hingga membuat Bella sedikit takut, kalau pria itu akan melakukan hal yang lebih dari sekedar mandi. Bella hendak menggeleng, tetapi tengkuknya lebih dulu ditahan oleh William.
Tidak ada yang bisa menghentikan ketika pria ini sudah bertindak. William akan berubah menjadi si pemegang kendali, hingga Bella pun akhirnya membalas ciuman William yang begitu menuntut.
Satu persatu pakaian mereka tertanggal. Namun, Bella menggeleng dan menggigit bibir bawahnya saat melihat benda layu itu berubah berurat. Seperti yang sudah dibicarakan oleh Eliana dan Caka, Bella ingin kembali menikmati rasa itu setelah mereka menikah.
"Aku sudah berusaha untuk tidak memakanmu. Tapi tidak dengan dia!" ucap William sambil melirik cacing besarnya yang menyapa Bella.
"Tapi apakah ada cara lain supaya kita tidak melakukannya seperti biasa?" tanya Bella dengan wajah polos. Dia sukses membangkitkan semangat sang mantan cassanova. Tanpa berpikir panjang William menekan bahu Bella hingga gadis itu menekuk kedua lututnya.
Bella hanya bisa mendelik saat benda tumpul itu memenuhi ruang mulutnya. Sementara William terlihat sangat sumringah, seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan permen.
"Setelah ini kau akan semakin tahu cara menyenangkan aku," ucap William sambil tersenyum lebar. Dia menahan tubuhnya dengan satu tangan di dinding, sementara tangan yang lain memegang kepala Bella dengan pinggul yang sesekali bergerak maju mundur.
"Ah, Honey ... yeah ... I like it!"
.
.
.
__ADS_1
Setelah melewati pagi yang panas, William akhirnya benar-benar pergi meninggalkan Bella di rumah keluarga besarnya. Karena ia dan Jo harus menemui beberapa klien dari perusahaan-perusahaan besar di negeri tetangga.
Beruntung William memiliki otak yang cukup bisa diandalkan sehingga dia bisa menguasai materi yang akan dia presentasikan dengan cepat. Sepertinya keahlian sang ayah menurun padanya. Hingga para klien pun merasa puas dengan gagasan yang dibuat oleh perusahaan yang William pimpin.
Setelah menemui klien terakhir hari ini. Jo meminta izin untuk tidak langsung pulang bersama William. Karena dia ingin menemui Emma, untuk memberikan kabar kematian Dimitri.
"Ya sudah, kau saja yang pakai mobil, aku akan naik taksi," ucap William, lalu dengan cepat tangannya melambai untuk menyetop kendaraan umum yang melintas. "Jo, aku pergi dulu."
Jo langsung membukakan pintu untuk tuannya, lalu menganggukkan kepala. Sementara William langsung sibuk dengan ponsel, karena dia ingin menghubungi Bella.
"Honey," panggil William saat panggilan video tersambung.
Sementara Jo masih berdiri di tempatnya sampai taksi yang membawa William benar-benar pergi menjauh. Lantas setelah itu, dia masuk ke dalam mobil dan menuju tempat tinggal Emma. Kebetulan kini mereka berada di negeri yang sama.
Jo sedikit kesulitan karena belum terlalu menghafal jalan, namun seperti biasanya, dia tidak akan mudah menyerah. Hingga setelah hampir 2 jam, akhirnya Jo tiba di sebuah rumah di kawasan menengah ke atas. Di sinilah tempat Emma tinggal.
Jo segera turun mengetuk pintu tanpa ragu. Dia sangat yakin Emma ada di dalam, karena sebelumnya dia sudah mendapat informasi dari orang yang selama ini mengikuti gadis itu.
Tok Tok Tok ...
Emma yang baru saja menyantap makan siangnya, lantas menoleh ke arah pintu. Karena sepertinya ada seorang tamu. Akhirnya dia pun melangkah ke depan dan membuka benda persegi panjang itu.
Dia mengernyitkan dahi begitu melihat seorang pria asing berdiri di hadapannya dengan raut datar. Karena takut Emma berniat untuk menutup pintu lagi, tetapi Jo segera menahannya.
"Aku memiliki berita penting untukmu, Nona. Tentang ayahmu dan nasibmu ke depannya," ucap Jo yang membuat mata Emma terbelalak lebar.
__ADS_1