
"Dan satu lagi, karena aku masih kesal padamu, Jo, jangan berani muncul di hadapanku sampai besok!" cetus William sebelum benar-benar pergi dari sana.
Jo hanya bisa menelan ludahnya kasar, sementara Freya masih terperangah dengan pernyataan William beberapa saat lalu. Gaya apa maksudnya? Mendadak otaknya tak bisa diajak berpikir, padahal hal tersebut bukan lagi sesuatu yang tabu.
Namun, perhatian Freya teralihkan begitu melihat Jo yang menjatuhkan diri ke lantai. Pria itu bersandar di dinding, untuk sekedar menghirup udara dengan leluasa. Tak bisa bohong dadanya sedikit karena pukulan William.
"Jo, kamu tidak apa-apa?" tanya Freya yang mencemaskan keadaan Jo yang habis dihajar habis-habisan. Dia hendak memeriksa luka di sekitar wajah Jo, tetapi pria itu segera menepis tangan Freya.
"Ini semua gara-gara anda! Kenapa anda tiba-tiba muncul hah? Anda ini biang masalah!" ketus Jo, merasa kesal juga karena belum habis kemarahan William tentang Emma, Freya malah muncul secara bersamaan.
"Ya ampun, Jo, mana aku tahu kalian ada di sini. Aku habis dari toilet, lalu tiba-tiba William menarik tanganku dengan kasar," balas Freya membela diri. Karena dia sudah berusaha untuk pergi sejauh mungkin dari negaranya, demi menghindari William, tetapi pada kenyataannya dia tetap tertangkap.
"Andai posisinya masih seperti dulu, saya yakin anda sudah menjadi mayat dari tadi!"
Kalimat yang Jo lontarkan membuat Freya merasa merinding. Karena mengingat betapa seramnya ketika William sedang marah, dengan sekali tatap saja sudah seperti ingin mencabik-cabik kulitnya.
"Tapi ngomong-ngomong bagaimana keadaan Bella, Jo? Dia masih hidup 'kan?" tanya Freya dengan menggebu-gebu, rasanya ingin terus mengorek informasi yang belum dia dapat selama menitipkan Bella pada William.
Jo terdiam sesaat, matanya terpejam seraya menikmati udara yang masuk ke paru-parunya. Tak lama dari itu, dia menoleh ke arah Freya yang masih setia menunggu jawaban darinya. "Anda pikir bagaimana?"
"Kalau boleh aku tebak, sekarang William dan Bella punya hubungan khusus ya? Atau William hanya memakai Bella ketika sedang butuh saja?"
Jo memutar bola matanya jengah, entah kenapa ketika berbicara dengan Freya bawaannya ingin selalu marah-marah. Padahal pertanyaan Freya begitu sederhana. "Nyonya Lena dan semua yang terlibat dalam kasus penculikan Nona Bella sudah meninggal. Jadi, Tuan William sudah menganggap semuanya telah selesai. Dan karena anda berdiri di sini, masalah jadi muncul lagi. Tuan William pasti akan selalu mengungkit kesalahan saya yang telah menyembunyikan anda!"
Mendengar itu, wajah Freya terlihat sumringah. Dia tidak terlalu memedulikan kalimat terakhir yang Jo ucapkan, karena yang penting sekarang Bella telah aman.
__ADS_1
"Motif mereka apa, Jo?" tanya Freya lagi dengan antusias.
Sebelum menjawab Jo berusaha untuk bangkit terlebih dahulu. "Untuk yang satu itu, silahkan anda cari tahu sendiri. Saya tidak ingin membocorkan apapun, karena anda cukup berbahaya. Sedikit banyaknya, setelah ini saya harus waspada."
Freya langsung mendengus kasar. Sementara Jo langsung melenggang pergi tanpa pamit, dia tidak mau salah mengambil langkah, karena Freya memang cukup mata duitan. Kalau tahu Bella memiliki warisan dari perusahaan ayahnya, yang ada Freya berubah jadi penjilat juga.
Tak tahu ke mana arah tujuannya, Jo pun akhirnya tiba di depan kamar Emma. Dia mengetuk pintu, hingga membuat seorang gadis yang ada di dalam sana segera melenggang ke arah pintu.
Ceklek!
Benda persegi panjang itu terbuka, Emma langsung dibuat terkejut karena melihat wajah Jo yang babak belur. Sementara pria itu selalu berusaha bersikap cool, sebab dia tidak suka diremehkan.
"Tuan Jo, wajahmu kenapa?" tanya Emma dengan kening berlipat-lipat.
"Aku tidak butuh pertanyaan sekarang. Karena aku ingin segera beristirahat," balas Jo seraya melenggang masuk. Emma terus memperhatikan tubuh Jo yang berjalan tegap, dia semakin mengerutkan dahinya, karena Jo mengatakan bahwa dia ingin beristirahat. Maksudnya di sini?
"Hah? Di sini?" gumam Emma dengan raut cemas, kemudian segera menyusul Jo yang sudah membanting tubuhnya di sofa.
Di kamar lain, William dengan tampang dinginnya kembali menghabiskan beberapa batang rokok. Dia memainkan korek dengan diputar-putar, seraya menghembuskan asap bernikotin itu.
Otaknya mendadak penuh, tetapi dia seperti tak menemukan jalan keluar atas pikirannya tersebut.
Hingga tak berapa lama kemudian, ponselnya berdering. William melirik sekilas, dan nama 'Honey' langsung memenuhi layar persegi panjang itu. Tanpa membuang waktu ia segera menerima panggilan video dari calon istrinya.
"Halo, Honey," sapa William tanpa senyum, membuat Bella yang ada di ujung sana langsung memberenggut, apalagi melihat William yang sedang merokok.
__ADS_1
"Kakak sedang apa di sana? Apakah Kakak sudah makan malam?" tanya Bella perhatian, dia berharap ada rasa antusias seperti sebelumnya, tetapi ternyata tidak. Harapan Bella tak sesuai dengan ekspektasinya.
"Sudah, bagaimana denganmu?" William balik bertanya, tetapi dari nada bicaranya begitu kentara bahwa pria ini seperti sedang ada masalah.
Bukannya menjawab Bella malah terdiam dengan menggeletakan ponselnya di atas ranjang. William mengernyitkan dahi, karena wajah Bella malah menghilang.
Apa yang sedang dia lakukan?
Tak lama kemudian Bella kembali muncul, tetapi dengan penampilan yang membuat William meneguk ludahnya kasar. Dia sedikit mengangkat sudut bibirnya, sementara rokok bukanlah menjadi hal yang menarik lagi baginya.
"Kau sedang apa, Honey?" tanya William mulai menunjukkan ketertarikan.
"Apakah aku harus terus seperti ini ketika sedang meneleponmu?" Bella balik bertanya, sambil mengambil pose supaya William bisa melihat buah dadanya. Karena kini dia hanya memakai braa dan celaana dalam saja.
William membasahi bibirnya menggunakan lidah. Kemudian tangannya membuka satu persatu kancing kemeja. "Kau mau mengujiku, hem?"
Tatapan William tak lepas dari layar ponsel, sementara tangannya menarik kasar kain yang semula melekat di tubuhnya hingga kini dia bertelanjang dada.
"Aku hanya ingin membuat Kakak menyambutku dengan semangat. Dan aku baru tahu kalau cara ini adalah salah satu triknya," jawab Bella kemudian menggigit bibir.
William tersenyum lebar, karena Bella sudah semakin pintar menggodanya. Tak ingin basa-basi lagi, dia segera meminta Bella untuk melakukan sesuatu. "Buka semuanya, dan mainkan!"
"Berani berapa menyuruhku seperti itu?" goda Bella seraya menjauhkan diri dari kamera supaya William bisa melihat seluruh tubuhnya yang hampir polos.
Sial, Bella benar-benar membuat William merasa tertantang. William lebih dulu melucuti sisa pakaiannya, menunjukkan menara yang mulai berdiri tegak.
__ADS_1
"Berikan apa yang aku mau sekarang, pulang nanti aku bersedia menjadi budakmu. Kau bebas memerintahku, aku akan melakukannya dengan senang hati," ucap William sambil menyeringai. Sementara Bella sudah membuka kakinya lebar-lebar.
"As you wish, Darling," ucapnya untuk menggoda William.