
Setelah menghabiskan makan siang bersama Jo. William langsung menghubungi Bella untuk menanyakan keberadaan gadis itu, karena dia akan segera pulang dan membawa serta Bella bersamanya.
"Jo, aku tidak akan ikut ke perusahaan. Jadi untuk informasi lain kau bisa menghubungiku langsung," ucap William dan Jo langsung mengangguk patuh.
Tanpa berkata apa pun lagi William langsung melenggang keluar menuju mobilnya. Dia mengemudikan kendaraan roda empat itu sendiri menuju titik lokasi Bella. Ternyata gadis itu sedang berada di salah satu pusat perbelanjaan yang ada di ibu kota.
Selama perjalanan William terus memutar otaknya. Dan hanya dia yang tahu, apa yang sedang ia pikirkan. Hingga tak berselang lama William telah sampai, tetapi dia memilih untuk tidak turun. Dia hanya menunggu Bella di dalam mobil, sampai akhirnya gadis itu nampak keluar bersama ibu serta dua adiknya.
William menatap pemandangan itu. Saat Bella hendak pamit, Ellen dan Alland nampak tidak rela. Akan tetapi Bella berusaha membujuk kedua adiknya, hingga akhirnya kedua bocah itu mau melepaskan melepaskan sang kakak walau dengan terpaksa.
Saat Bella sudah masuk ke dalam mobil, William langsung menyalakan mesin dan membawa kendaraan roda empat itu menuju apartemennya. Namun, selama ia menyentir ia merasa diperhatikan oleh Bella, hingga ia pun melirik ke samping.
"Ada apa? Kenapa terus menatapku seperti itu?" tanya William dengan tampang datar, seperti biasanya.
Ditanya seperti itu, Bella justru tersenyum-senyum. Seperti malu untuk menjawab, hingga membuat William semakin mengerutkan keningnya. "Sikapmu aneh!" cetus pria itu, berusaha kembali fokus ke depan.
"Aku hanya ingin bilang, kalau Tuan itu tampan dalam keadaan apa pun," ujar Bella seraya membuang muka. Dia yang memuji William, dia yang salah tingkah sendiri, hingga pipi chubby-nya ikut merona. Sementara seseorang yang dibalik kemudi, mendadak gagap dan tak bisa menjawab ucapan Bella.
Bahkan tanpa sadar, bibir William berkedut tanda bahwa dia sedang salah tingkah. Ya, baru kali ini ada sosok yang menyebutnya tampan, dan membuat dia bergerak gelisah. Seperti ada ribuan kupu-kupu lepas di dalam perutnya.
"Jangan bicara yang aneh-aneh! Ku perhatikan, semakin ke sini kau semakin berani," cetus William, demi menyembunyikan debaran asing yang tiba-tiba menyapa. Namun, Bella menanggapi ucapan itu hanya dengan tersenyum geli, sambil menggigit bibir bawahnya.
__ADS_1
"Aku bicara fakta," lirih gadis itu, membuat William hampir tersedak ludahnya sendiri.
Dia sempat melirik ke samping untuk melihat wajah William. Dan dia yakin sebenarnya William suka dipuji seperti itu olehnya. Sama seperti saat ia memanggil nama William, ketika mereka sedang terbang ke nirwana.
Sebelum sampai di apartemen, William tiba-tiba berhenti di depan toko buah. Pria itu mengambil dompet, kemudian menyerahkannya pada Bella. "Belikan parsel buah."
"Hah, parsel buah, untuk apa? Apakah ada yang sakit?" tanya Bella menebak. Karena biasanya, benda itu identik dengan orang sakit.
"Hem ...." William hanya menjawab singkat. Namun, Bella masih tampak penasaran. Siapa? Dan apakah mereka akan pergi ke tempat orang itu sekarang?
"Kalau aku boleh tahu, siapa? Apakah anggota keluarga Tuan?" tanya Bella lebih rinci. Akan tetapi William memilih untuk tidak menjawab pertanyaan itu.
@@@
Sampai di apartemen Bella hendak masuk ke kamarnya sendiri. Akan tetapi dia malah ditarik oleh William, hingga ia pun terseret masuk ke dalam kamar pria tersebut.
"Tuan, ada apa?" tanya Bella sedikit memprotes. Dia kesal karena William tak pernah bisa menjawab pertanyaannya dengan benar. Sementara ia selalu dituntut untuk jujur.
Sekitar tiga langkah sebelum mencapai pintu kamar mandi, William berganti menggendong Bella dan masuk ke dalam sana. Dia berbisik sambil menyeringai. "Tentu saja memakanmu. Sudah berapa hari kita tidak menyatu?"
Shhh! Darah dalam tubuh Bella langsung mengalir hangat, hanya karena mendengar kalimat frontal itu keluar dari mulut William. Detik selanjutnya ia melingkarkan tangan di sepanjang leher pria itu, sementara William langsung membuka mulutnya untuk melahap bibir Bella.
__ADS_1
Air shower mulai menyala, dan William menurunkan Bella di bawah sana. Sementara pertautan mereka tak terlepas. William semakin beringas, hingga menahan tengkuk Bella dengan kuat, seolah tak ingin menjeda kenikmatan ini.
Saat aliran darah sudah mulai memanas, William mendorong Bella hingga ke dinding. Sementara gadis itu hanya bisa membalas ciuman William dan mencengkram dada bidang pria itu.
Tsk!
"Kau boleh memujiku tampan sekarang. Sepuasmu, aku akan suka mendengarnya, Honey," ucap William sambil menatap dua manik mata Bella yang bercahaya. Tubuh mereka sudah basah, William menarik tangan Bella hingga menyentuh kancing bajunya.
Paham apa yang harus ia lakukan Bella langsung membantu William melucuti pakaiannya. Setelah mereka sama-sama polos, William langsung mengangkat tubuh Bella hingga kaki gadis itu melingkar di pinggangnya.
"Williamku yang tampan," puji Bella sambil meraaba pelan rahang William, membuat pria itu langsung tersenyum lebar, kemudian kembali meraup bibir Bella dengan rakus.
Mereka bergerak saling menyenangkan. Bahkan alunan yang paling mereka gemari sekarang adalah suara nafas, gesekan kulit dan juga desaahan.
"Do you like it, Honey?" tanya William sambil menyusuri leher putih Bella, hingga gadis itu bergerak semakin lincah.
"Aku menyukainya, Will. Semua yang kamu berikan terasa menyenangkan," balas Bella seraya menjambak rambut William. Dia memeluk leher pria itu selagi pompaan di bawah sana menggila. Hingga sore itu mereka sama-sama menuai puncak bersama.
@@@
Salting dikit gak ngaruh ðŸ«
__ADS_1