
Malam ini Bella kembali tidur di kamar William, dalam dekapan pria itu Bella seolah tak boleh lepas. Hingga Bella pun berpikir, bahwa sebenarnya William memiliki rasa yang sama untuknya.
Buktinya sampai detik ini pria yang dijuluki seorang Cassanova itu tak lagi bermain-main dengan wanita di luar sana. Namun, apakah Bella saja yang tidak tahu kapan, dan di mana William bermain dengan mereka?
Tak ingin berpikir lebih banyak dan membuatnya tak lekas tidur, Bella memilih untuk memeluk kepala William yang kini bersarang di dadanya. William terlalu banyak memiliki teka-teki, dan Bella tak bisa memecahkan semua itu dengan mudah.
Dia hanya bisa berharap, suatu saat ketika Freya tiba-tiba ditemukan. William tetap berada di sampingnya. Memeluknya seperti ini sepanjang malam. Karena Bella sudah mulai merasa, bahwa William adalah tempatnya untuk pulang.
Cup!
Bella memberanikan diri mengecup puncak kepala William, kemudian berusaha untuk terlelap, dia tak tahu kalau ada bibir yang melengkung sempurna di balik dadanya. Dia William, pria yang kelak akan memiliki dua pilihan, yakni mempertahankan atau justru melepaskan.
***
Paginya Bella sudah kembali kuliah seperti biasa. Baru saja tiba di kelas, dia langsung mendapat kabar kalau Deborah masuk rumah sakit karena keracunan. Sebuah tragedi yang sama dengannya.
Bella langsung tercenung, apakah ini semua sebuah kebetulan? Atau di luar sana memang banyak orang jahil yang sedang mencari keuntungan.
"Key, kamu tahu tidak di mana Miss De dirawat?" tanya Bella pada temannya, sebagai anak beasiswa, tentu Bella lumayan dekat dengan Deborah, karena mereka sering bertatap muka.
"Kalau tidak salah Miss De sudah dipindah ke rumah sakit Puri Medika. Itu rumah sakit milik keluarga calon suami Miss De," jawab Keyra, sesuai dengan informasi yang ia dengar dari teman-temannya. Bella langsung manggut-manggut, sepertinya dia harus menjenguk wanita itu sepulang kuliah.
"Terima kasih ya, Key, nanti siang aku akan coba ke sana," balas Bella, kemudian dia berjalan ke arah kursinya sebab mata kuliah akan segera dimulai.
__ADS_1
***
Sebelum pergi tentu Bella akan izin terlebih dahulu pada William, bahwa dia akan menjenguk dosennya yang sedang sakit. Dan William hanya mengatakan 'Iya' sebuah tanda bahwa Bella boleh pergi tanpa pria itu.
Bella tersenyum tipis, kemudian meminta sang supir yang biasa mengantar jemputnya untuk pergi ke rumah sakit Puri Medika.
Sama seperti William, Bella juga membeli parsel buah di jalan. Karena ia merasa tidak enak, kalau tidak membawa apa-apa.
Tiba di tempat tujuan, Bella langsung berjalan ke meja administrasi untuk menanyakan ruangan Deborah. Setelah diberitahu, Bella langsung naik ke atas di mana ruangan VVIP berada.
Dia tidak lagi terkejut dengan kehidupan orang-orang kaya. Karena sebelumnya William pun memberikan ruangan yang seperti ini untuknya.
Mengingat William, bibir Bella melengkung tanpa dipinta. Seolah pria itu adalah sumber kebahagiaannya. Padahal satu kata sayang saja tidak pernah terucap dari bibir pria itu.
Tok ... Tok ... Tok
Deborah yang sedang makan siang pun segera menoleh ke arah pintu, kemudian melirik sang ayah yang senantiasa menjaganya. Tidak ada kata lelah dalam kamus Ervin, hingga dia sama sekali tak meninggalkan Deborah di rumah sakit.
"Siapa ya, Dad?" tanya Deborah sambil memelankan kunyahannya.
"Daddy juga tidak tahu, sebelumnya tidak ada yang memberi kabar kalau ada yang mau datang," jawab Ervin, lalu bangkit dari sofa. Dia membuka pintu, hingga menampilkan seorang gadis kecil yang menenteng parsel buah.
Melihat siapa yang ada di hadapannya, Bella langsung tersenyum dan membungkuk sopan. "Selamat siang, Tuan. Aku Bella, aku mahasiswanya Miss De." Ujarnya dengan ramah.
__ADS_1
"Oh kamu salah satu mahasiswa putriku? Silahkan masuk!" balas Ervin sambil mempersilahkan Bella untuk masuk ke ruangan Deborah.
Sementara yang ada di atas brankar langsung menajamkan penglihatannya. Begitu tahu siapa yang datang, Deborah langsung mengembangkan senyum. "Bel, kamu kah itu?"
Bella yang sudah semakin dekat pun langsung menganggukkan kepala. "Apakah kedatanganku mengganggu, Miss?" tanya Bella, karena melihat Deborah yang sedang makan siang.
"Oh tentu saja tidak, sebentar lagi aku selesai kok," jawab Deborah, membuat Bella langsung bernafas dengan lega.
"Iya tadi saat di kampus, aku dengar Miss sakit, jadi aku berinisiatif untuk datang. Oh iya, bagaimana keadaan Miss, apakah sudah lebih baik?" tanya Bella perhatian.
"Aku sudah baik-baik saja, Bel. Kenapa mesti repot-repot seperti ini?" jawab Deborah masih dengan senyumnya yang mengembang. Dia tidak tahu saja, kalau gadis yang ada di hadapannya ini adalah orang yang menghangatkan ranjang William.
"Syukurlah kalau begitu ...." Tatapan Bella beralih pada meja, dan seperti De Javu dia melihat parsel buah yang sempat dia beli untuk dibawa oleh William. Seketika senyum Bella langsung sirna, dia melirik Deborah, apakah orang yang dijenguk William adalah wanita ini?
"Bel, kamu kenapa? Kok melamun?" tanya Deborah menyadarkan gadis itu, hingga membuat Bella langsung tersentak.
"Aku tidak apa-apa, Miss. Hanya saja aku tadi kepikiran tugas makalah," jawab Bella bohong, sementara pikirannya sudah ke mana-mana.
Mungkin saja hanya kebetulan. Atau kalau pun iya, aku tidak perlu marah. Karena bisa saja mereka berteman. Batin Bella mencoba meyakinkan diri.
"Ya sudah kalau begitu duduklah, nanti aku pesankan minum," ujar Deborah, selagi orang-orang bersikap baik padanya, wanita itu pun akan melakukan hal yang sama, bahkan bisa lebih.
"Terima kasih, Miss," balas Bella, kemudian duduk di sisi brankar, sementara Ervin sedang menerima telepon sejak Bella ada di ruangan ini.
__ADS_1