Pemuas Sang Cassanova

Pemuas Sang Cassanova
Bab 24. Wanna Try, Honey?


__ADS_3

Setelah bertemu dengan William, wajah Deborah senantiasa terlihat sumringah. Dia benar-benar mulai terobsesi untuk memiliki pria itu, hingga tak memedulikan setiap perlakuan atau pun ucapan kasar William terhadapnya.


Dan tentunya semua itu tak lepas dari perhatian sang ayah, Ervin Edison. Di meja makan hanya ada mereka berdua. Karena orang tua Deborah memang bercerai, alhasil dia hanya hidup bersama sang ayah yang bergelimang harta.


"Kenapa kamu terus tersenyum seperti itu? Kamu sedang bahagia?" tanya Ervin pada putri semata wayangnya. Sosok yang akan menjadi penerus kerajaan bisnis yang Ervin punya.


Ditanya seperti itu Deborah kembali mengulum senyum. Karena dengan mengingat wajah tampan William saja sudah mampu membuat dadanya berdebar. Dia merasa bahwa dia sudah benar-benar jatuh cinta.


"Hari ini aku menemui William di perusahaan, Dad. Kami makan siang bersama," jawab Deborah apa adanya.


"Kamu benar-benar menyukainya?" tanya Ervin sekali lagi, karena dia cukup tahu bagaimana karakter yang dimiliki oleh William. Pria itu dingin dan nyaris tak bisa disentuh. Namun, karena melihat Deborah yang menyukai William pada pandangan pertama, dia pun mendukung keinginan putrinya untuk dikenalkan dengan pria itu.


Apalagi sejak kecil Deborah memang sangat dimanjakan. Jadi, apa pun yang diinginkan oleh putrinya, akan Ervin penuhi.


"Sangat, dia misterius, dan membuatku penasaran. Pokoknya dia berbeda dengan pacar-pacarku sebelumnya, Dad. Ya, walaupun ketus, tapi tidak masalah 'kan?" jawab Deborah lagi. Mendeskripsikan William memang sulit. Namun, debaran di dadanya sudah mampu menjawab semuanya, bahwa dia menginginkan pria itu untuk menjadi suaminya.


"Oke, Daddy akan dukung selagi kamu suka. Tapi ingat, jangan lupa dengan tanggung jawabmu sebagai ketua yayasan. Jangan sampai karena sibuk mengejar William, kamu sampai mengabaikan semuanya," ujar pria paruh baya itu menasehati Deborah.


Dan wanita itu langsung mengangguk, dia mengangkat tangan untuk mengusap lengan ayahnya dengan lembut. "Thank you, Daddy. Aku jamin, aku tidak akan mengecewakanmu."

__ADS_1


Mereka saling melempar senyum, kemudian melanjutkan makan malam yang sempat terjeda karena obrolan kecil yang mereka ciptakan.


***


Sementara di apartemen William, Bella sedang belajar. Karena dia sedang berusaha memperbaiki nilainya yang sempat turun, agar kembali stabil. Karena saking fokusnya, dia sampai tak ingat waktu, bahkan tak sadar kalau sedari tadi William sudah menunggunya di dalam kamar.


William sampai merasa jengah, karena ia nyaris tak bisa tidur, padahal matanya sudah cukup mengantuk. Dia melirik jam di atas nakas, waktu menunjukkan pukul 11 malam.


"Argh!" keluh pria itu sambil mengacak-acak rambutnya. Kemudian memilih bangkit dan menyambangi kamar Bella.


Tanpa mengetuk pintu, William langsung membuka benda persegi panjang itu. Memasang wajah suram, dan membuat Bella terkejut. "Sampai kapan kau akan duduk di sana?" tanya William dengan suara berat.


"Kalau begitu aku akan menemanimu. Ayo belajar lagi," ucap William sambil melingkarkan tangan di sepanjang perut Bella, hingga menciptakan geleyar aneh.


Bella menegakkan tubuhnya, beringsut sedikit karena merasa tak nyaman dengan posisi mereka sekarang. Hah, bagaimana ia bisa melanjutkan belajar?


"Tuan, bisakah anda keluarkan tangan ini dari piyamaku?" tanya Bella sambil menahan nafas, karena jemari besar William justru bergerak naik dan mengusap pahanya.


"Kenapa? Kau merasakan sesuatu yang aneh?" tanya William dan tentu saja jawabannya iya. Bagaimana seseorang bisa diam saja ketika titik sensitifnya dimainkan. Apalagi Bella semakin merasa sentuhan lembut itu menemui inti tubuhnya.

__ADS_1


Dengan reflek Bella memejamkan mata, karena kedua tangan William bekerja dengan baik. Keduanya melakukan tugas masing-masing, di mana yang satu memainkan pucuk dada Bella, dan yang satu lagi berputar-putar di bawah sana.


"Aku akan menyiapkan dosen pembimbing untukmu. Tapi sekarang, kau harus mengambil alih kendali."


"Hah? Bagaimana maksudnya?"


"Wanna try, Honey?"


Sial, Bella akhirnya tak bisa menahan semuanya. Dia mencengkram kuat pulpen yang ada di tangannya kemudian mengeluarkan suara lenguhan merdu yang membuat bibir William melengkung sempurna.


"Good job! Kau melakukannya dengan baik, Honey," bisik William sambil mengecup tengkuk Bella, semakin membuat gadis itu meremang.


"Ahh, Tuan, aku tak bisa menahannya lebih lama," lirih Bella, kemudian beralih memegang kedua paha William yang berada di sisi tubuhnya. Belum lagi ia merasakan sesuatu yang mulai mengeras, tepat mengenai bagian belakang.


Tanpa ba bi bu lagi William langsung mengangkat tubuh Bella. Membawa tubuh ramping itu naik ke atas peraduan. Di atas sana, mereka melakukan penyatuan dan menciptakan gesekkan gairah yang mendebarkan.


Dan kali ini Bella yang bergerak di atas tubuh William. Awalnya gadis itu ragu karena merasa tak mampu, tetapi dengan semua ilmu yang diberikan pria itu, terlebih naluri yang mendorongnya. Akhirnya Bella berhasil membuat William tunduk pada permainannya.


"Kau sudah semakin pintar. Bisakah kau mengulanginya?" puji William dengan seringai.

__ADS_1


__ADS_2