Pemuas Sang Cassanova

Pemuas Sang Cassanova
Bab 43. Dua Pilihan


__ADS_3

Setelah kepergian William, Bella dan Lena langsung bernafas dengan lega. Seperti menemui kebebasan. Karena sedari tadi mereka hanya mampu diam seperti tengah disidang.


"Bel, bagaimana bisa kamu hidup dengan pria seperti itu?" tanya Lena, karena nyaris tak ada yang bisa dia lakukan ketika berada di dekat William, nafas saja rasanya salah.


"Dia seperti itu hanya kepada orang baru, Mah. Setelah mengenal dia lebih jauh, dia aslinya baik dan perhatian kok," jawab Bella membela pria-nya agar Lena tidak berpikir buruk tentang William. Meski ia juga tak tahu, hubungan seperti apa yang sedang mereka jalani sekarang. Dia hanya bisa berharap, selamanya William menjadi orang yang melindunginya dari segala kejahatan di luar sana.


"Kamu mulai nyaman dengannya?" tanya Lena dengan tatapan menyelidik, karena sepertinya Bella tak keberatan sedikit pun dengan tingkah laku William.


Bella terdiam sesaat sambil mengingat kenangan manis yang mereka lewati bersama. Hingga akhirnya dia pun menganggukkan kepala. "Aku tidak bisa bohong, Mah. Aku mengaguminya."


Lena langsung terbelalak, karena ternyata pesona William sebagai pria dewasa tak bisa diragukan. Sikap dingin dan angkuh itu malah menjadi daya pikatnya, yang membuat para wanita menjadi penasaran.


Tiba-tiba Lena berjalan mendekati Bella. Dia bicara dengan nada pelan, seolah tak ingin ada yang mendengar, padahal hanya ada mereka berdua. "Selama kalian tinggal berdua. Tuan William tidak melakukan apa pun padamu 'kan?"


Deg!


Jantung Bella merasa tersentak mendapat pertanyaan itu. Dia harus menjawab apa? Haruskah dia jujur? Lalu bagaimana dengan tanggapan yang akan diberikan oleh Lena? Bagaimana jika wanita ini malah menyuruhnya untuk meninggalkan William?


Sementara perasaan serta hidupnya kini bergantung pada pria itu. Terlebih William tidak akan mungkin diam saja jika dia kembali melakukan aksi kabur-kaburan.


"Bel, jawab Mamah!" cetus Lena sambil menggoyangkan kedua bahu Bella. Menyadarkan gadis itu dari lamunan.

__ADS_1


Akhirnya Bella menggelengkan kepala dengan cepat. Tidak, Lena tidak boleh tahu, meski pun ia sadar wanita itu tidak akan percaya, karena tindakan William saat menciumnya sudah membuktikan itu semua.


"Dia tidak melakukan apa pun kok, Mah. Hubungan kami masih dibatas wajar, lagi pula di apartemen itu kita tinggal bertiga, jadi Mamah jangan khawatir," ujar Bella berbohong. Namun, dari gerak-geriknya Lena bisa menilai bahwa putri tirinya sedang menyembunyikan sesuatu.


"Tinggal bertiga? Ada siapa lagi di sana?" tanya Lena.


"Sepupunya, Mah, dia juga baik padaku," jawab Bella sambil mengulas senyum tipis. Dia memeluk tangan Lena, meyakinkan sang ibu bahwa di luar sana dia menjalani kehidupan dengan baik. "Aku baik-baik saja, Mah. Maaf baru sempat datang."


Lena menghela nafas kecil dengan raut wajahnya yang terlihat sendu. "Mamah mengkhawatirkanmu, Bel. Bahkan adik-adikmu juga selalu menanyakan kamu kapan pulang. Di saat seperti itu, Mamah hanya bisa berbohong pada mereka."


Melihat itu, Bella pun ikut merasa haru, tetapi dia tidak ingin pertemuan ini diisi dengan kesedihan. "Kalau begitu ayo jemput mereka, Mah. Aku ingin segera bertemu dengan Ellen dan Alland." Ajaknya, yang membuat Lena kembali tersenyum.


Dia menganggukkan kepala, kemudian pamit untuk mengambil kunci mobil terlebih dahulu. Siang itu mereka pergi bersama untuk menjemput Ellen dan Alland di sekolah.


****


Suara gesekan sepatu pantofel terdengar begitu nyaring. Sementara semua orang yang ada di sana langsung menunduk dengan hormat.


Ketika William sudah ada di hadapan wanita tua itu. Dia langsung menunjukkan seringai kecil, yang membuat wanita tua itu beringsut mundur. Saat dijemput paksa saja dia sudah ketakutan, apalagi sekarang berhadapan dengan pria berwajah dingin seperti William.


"Kau pelakunya?" tanya William, tetapi wanita tua itu tak menjawab, dia hanya menekuk kedua lututnya dengan wajah yang begitu gelisah. "Miris sekali, orang sepertimu harus menjadi penjahat. Dan sayangnya, di mataku kau adalah penjahat kelas teri. Ku beri kau dua pilihan, mati atau turuti perintahku!"

__ADS_1


Deg!


Wanita itu langsung terbelalak lebar mendengar pilihan yang diberikan oleh William. Sepertinya tidak ada yang bagus, karena dua-duanya memiliki resiko. Jika dia mati, lalu siapa yang akan menjaga cucu-cucunya? Namun, jika dia menuruti apa perintah William. Pasti pria itu akan membawanya ke dalam bahaya.


"Bagaimana? Aku tidak memiliki waktu banyak, jadi jangan berpikir terlalu lama!" ucap William lagi sambil menodongkan pistolnya, membuat wanita itu langsung berkeringat dingin.


"Tidak, Tuan, tidak! Saya tidak mau mati, saya punya cucu yang harus saya besarkan, Tuan," ucap wanita tua itu dengan mengiba.


"Wah, kau mengiba seperti ini, seakan-akan kau adalah nenek yang baik untuk mereka. Padahal kau juga hampir membuat nyawa seseorang melayang," cibir William, mengingat kembali saat Bella mengalami muntah-muntah hebat, akibat keracunan.


"Maafkan saya, Tuan, maafkan saya, saat itu saya tidak punya pilihan," balas wanita tua itu sudah menangis tersedu-sedu.


"Kalau begitu, kau mati saja! Aku menarik pilihan yang tadi aku berikan!"


"Tidak, Tuan, jangan! Saya mohon, saya akan melakukan apa saja untuk anda, asalkan jangan bunuh saya," ucap wanita tua itu seraya merangkak untuk memeluk kaki William. Pria itu menghela nafas, kemudian memasukkan kembali pistolnya.


Dia berjongkok di depan wanita itu, kemudian mengeluarkan ponselnya. Dia berkata sambil menyeringai setan. "Berikan minuman yang sama persis pada orang yang ada di foto ini. Kalau kau gagal, kau tamat hari ini juga!"


****


Pict lebih banyak di Ige ngothor yaπŸ™ƒπŸ™ƒ

__ADS_1



__ADS_2