
Hanya satu orang jahat lagi yang belum mati, yakni Dimitri. Pria paruh baya itu sengaja dibiarkan tetap hidup dan dibawa ke markas. Namun, sampai detik ini tidak ada satu pun anak buah William yang berani mengambil tindakan atas Dimitri, karena mereka belum mendapat perintah apa pun.
Pokoknya selagi William mau pun Jo belum datang. Maka nasib pria paruh baya itu entah akan dibawa ke mana. Dia hanya dibiarkan tanpa makanan dan minuman, sementara satu lengannya yang tersisa diikat dengan rantai di tiang yang terhubung. Hingga kini Dimitri terus berdiri dengan wajah yang babak belur.
Sepanjang waktu Dimitri hanya bisa berteriak meminta dilepaskan. Namun, semua orang yang ada di sana seakan tuli. Sekali-kalinya mereka mendekat, adalah saat mengeluarkan peluru di tangannya. Itu pun dengan cara yang kasar, kulitnya diiris dengan pisau, hingga membuatnya meraung dengan keras.
"Lepaskan aku, Sialan!" teriak Dimitri dengan nafas yang terengah-engah. Karena entah sudah berapa kali dia meneriaki kalimat itu. "Awas saja kalian, kalian akan tahu akibatnya nanti. Tidak ada satu pun dari kalian akan selamat ketika aku bebas!"
Dimitri masih saja percaya diri bahwa dia bisa mengalahkan William serta anak buahnya. Dia lupa kalau William memiliki senjata yang bisa membuatnya menyesal seumur hidup.
Dan kini senjata itu sedang diputar dengan suara yang sangat nyaring. Dimitri terbelalak lebar, karena dia begitu mengenali suara ini. Dia melihat ke sana ke mari, tetapi tidak ada siapa-siapa selain anak buah William.
"Aku benci Daddy! Aku benci Daddy!"
Kalimat itu seperti menusuk jantung Dimitri, karena ternyata orang yang berucap seperti itu adalah putri semata wayangnya yang kini tinggal di luar negeri.
Dimitri menggelengkan kepala dengan wajah yang terlihat gelisah. "Emma?" Lirih pria paruh baya itu, tetapi tidak ada balasan selain kalimat kebencian.
"Aku tidak mau punya ayah seperti Daddy. Daddy orang jahat, aku benci padamu!"
"Emma, itu semua tidak benar. Mereka yang jahat, Nak. Jangan mau ditipu, Daddy melakukan semua ini demi kamu. Jadi Daddy mohon jangan bicara seperti itu," ucap Dimitri, berpikir bahwa putrinya bisa mendengar semua yang dia katakan. Namun, tidak sama sekali. Suara itu berasal dari rekaman video yang Emma buat sendiri untuk menyuarakan kekecewaannya.
Dia tahu apa yang diperbuat Dimitri di belakangnya, ternyata semua fasilitas yang dia nikmati adalah hasil curian. Ya, bukti-bukti sudah jelas kalau sang ayah mengelola perusahaan milik ayah Bella. Bahkan berencana untuk membunuh gadis itu.
__ADS_1
"Emma dengarkan Daddy!" teriak Dimitri dengan air mata yang tiba-tiba luruh. Karena dia tidak akan pernah sanggup, jika semua usahanya malah dibalas dengan kebencian putri kesayangannya. Dia sama sekali tak sadar, kalau apa yang ia lakukan adalah salah.
Suara Emma menghilang. Sementara Dimitri terus mengamuk seperti orang gila. Dia kembali meronta, tetapi nyatanya rantai itu semakin kuat mengikatnya.
"Emma, kau tidak boleh membenci Daddy!" teriak Dimitri sekuat tenaga. Namun, tiba-tiba kepalanya dipukul dari belakang, hingga Dimitri langsung pingsan saat itu juga.
"Berisik sekali!" gerutu Jo yang saat itu sudah keluar dari rumah sakit. Padahal dia masih butuh perawatan, bahkan kepalanya saja masih memakai perban, tetapi dia seperti tak sabar untuk memberi pelajaran pada orang yang berani menantang sang tuan.
.
.
.
Bahkan dia sampai melewatkan jam makan, karena hatinya tidak merasa tenang, sebelum sang anak membuka mata. Kekhawatirannya yang berlebih, membuat dia tidak memikirkan kondisi tubuhnya sendiri.
Di samping pembaringan William, Eliana senantiasa menggenggam tangan putranya sambil sesekali mengusap sudut matanya yang basah.
Seolah takkan pernah habis, bulir-bulir bening itu terus saja keluar. Sementara otaknya kembali memutar memori saat ia melahirkan putra-putrinya. Tepatnya 33 tahun lalu.
Saat itu semua rasa sakit akibat luka robekan tak ia hiraukan, karena semuanya dapat tersamarkan oleh malaikat-malaikat kecil yang keluar dari rahimnya.
Dan William adalah bayi pertama yang ia dengar tangisnya.
__ADS_1
"Kapan kamu akan bangun, Sayang? Apa kamu tidak kasihan pada Mommy?" tanya Eliana dengan suara sumbang, bahkan matanya pun sudah menyipit, akibat banyak menangis.
Sama seperti beberapa saat lalu, seluruh pertanyaannya hanya dijawab oleh suara monitor jantung yang menjadi penanda kehidupan William. Hingga Eliana kembali terisak-isak, hatinya remuk redam tiap kali mengingat perkataan perawat, yang mengatakan bahwa kondisi William sudah tidak memungkinkan.
"Katakan apa yang kamu inginkan, Will, Mommy akan mengabulkannya, asal kamu bangun. Mommy tidak sanggup melihat kamu seperti ini," lirih Eliana sambil menggerakkan kepalanya yang tergeletak di sisi brankar.
Karena saking fokusnya menangis, Eliana sampai tak sadar kalau jari-jari William yang ia genggam mulai bergerak. Sementara kelopak mata pria itu mulai menunjukkan reaksi bahwa sebentar lagi akan terbuka.
Pyaar!
Cahaya ruangan mulai menerpa indera penglihatan William. Terasa sangat silau, hingga membuat dia tak begitu jelas dalam melihat.
"Mommy ...." Tapi tidak ada suara, hanya ada gerakan bibir yang menandakan bahwa pria itu sedang memanggil ibunya. William terus berusaha mengatakan itu, hingga akhirnya sedikit demi sedikit Eliana bisa mendengar gumaman yang tak begitu jelas.
"Mommy ...."
Deg!
Jantung Eliana seperti berhenti seperkian detik. Dia mengangkat kepalanya pelan-pelan dan terkejut bukan main saat melihat William yang membuka matanya. Tanpa ba bi bu Eliana langsung bangkit dan menyentuh pipi putranya.
"Sayang? Kamu sudah bangun?" tanya Eliana dengan mata berkaca-kaca, sementara William hanya bisa mengedip pelan.
Perasaan bahagia langsung membuncah. Eliana menekan alarm untuk memanggil dokter, supaya bisa memeriksa keadaan putranya. Akhirnya segala kekhawatiran yang bersarang, luruh seketika.
__ADS_1